- Harga minyak mentah dunia melonjak di atas USD 100 per barel pada Senin (13/4/2026) akibat ketegangan geopolitik.
- Amerika Serikat memulai blokade maritim di Selat Hormuz setelah gagalnya negosiasi dengan Iran di Islamabad pekan ini.
- Arab Saudi memulihkan kapasitas jalur pipa East-West guna menyeimbangkan pasokan minyak dunia pasca penutupan Selat Hormuz.
Donald Trump sendiri mengakui risiko besar dari kebijakan agresifnya ini. Dalam pernyataan yang jarang terjadi, ia menyebut bahwa harga minyak dan bensin kemungkinan akan tetap tinggi hingga pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada November mendatang.
Pengakuan ini dianggap sebagai sinyal bahwa Gedung Putih siap mengorbankan stabilitas harga energi domestik demi menekan Teheran hingga titik terendah.
"Harga minyak dan bensin mungkin akan tetap tinggi," ujar Trump.
Di sisi lain, Teheran tidak tinggal diam. Garda Revolusi Iran mengeluarkan peringatan yang sangat konfrontatif terhadap kehadiran militer AS di depan gerbang perairan mereka.
Mereka menegaskan bahwa "Kapal militer apa pun yang mencoba mendekati Selat Hormuz akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata AS selama dua minggu dan akan ditindak dengan keras dan tegas."