- Komando Pusat AS memulai blokade militer di seluruh pelabuhan Iran mulai Senin pukul 10.00 waktu setempat.
- Kebijakan tersebut dipicu kegagalan negosiasi damai di Islamabad serta penolakan Iran menghentikan pengayaan uranium secara total.
- Blokade ini menyebabkan lonjakan harga minyak global di atas USD 100 per barel dan memicu ketegangan geopolitik.
Ketegangan ini diperparah oleh laporan kegagalan pembicaraan di Islamabad, di mana Iran menolak tuntutan AS untuk menghentikan seluruh pengayaan uranium.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan kekecewaannya karena kesepakatan sebenarnya sudah sangat dekat sebelum akhirnya buntu akibat sikap "maksimalisme" AS.
Araqchi mengkritik kegagalan diplomasi ini dengan tajam. "Zero lessons learned," katanya. Ia menekankan sebuah prinsip diplomasi kuno, "Good will begets good will. Enmity begets enmity."
Para analis memperkirakan bahwa meskipun gencatan senjata akhirnya bisa dipertahankan, aliran energi melalui Teluk akan membutuhkan waktu lama untuk kembali normal.
Hal ini diprediksi akan mengunci harga bahan bakar pada level tinggi dan memicu inflasi yang lebih kuat bagi ekonomi global. Secara mengejutkan, Trump mengakui dalam sebuah wawancara dengan Fox News bahwa harga bensin mungkin akan tetap tinggi hingga pemilihan paruh waktu (midterm elections) pada November mendatang—sebuah pengakuan langka akan risiko politik dari kebijakan perangnya.
Ketua Parlemen Iran, Qalibaf, membalas pernyataan Trump dengan mengunggah peta harga bensin di wilayah Washington D.C. sebagai bentuk ejekan terhadap inflasi di AS.
"Nikmati harga bensin saat ini. Dengan apa yang disebut 'blokade'. Tak lama lagi Anda akan merindukan harga bensin $4–$5," tulis Qalibaf.
Sindiran ini merujuk pada lonjakan tajam harga bahan bakar di Amerika Serikat sejak perang dengan Iran pecah.