- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dibuka menguat ke level 7.096 pada Rabu, 29 April 2026.
- Sebanyak 307 saham mencatatkan kenaikan nilai, sementara volume perdagangan mencapai 4,73 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 1,36 triliun.
- IHSG diproyeksikan melemah akibat tekanan jual investor asing serta sentimen negatif dari penurunan bursa saham Amerika Serikat dan global.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menghijau pada awal perdagangan, Rabu, 29 April 2026. IHSG masuk ke zona hijau saat pembukaan ke level 7.096.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.05 WIB, IHSG masih terapresiasi naik 0,38 persen ke level 7.099.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 4,73 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,36 triliun, serta frekuensi sebanyak 168.100 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 307 saham bergerak naik, sedangkan 231 saham mengalami penurunan, dan 421 saham tidak mengalami pergerakan.
![Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (2/12/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/01/02/33118-bursa-efek-ihsg-idx-saham.jpg)
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, KONI, GDST, BAPA, LAPD, ESIP, TOOL, EPIC.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya LMPI, KJEN, LCKM, LUCK, DEFI, NAYZ, BABY SRAJ.
Proyeksi IHSG
IHSG diproyeksikan kembali melemah pada perdagangan hari ini, seiring berlanjutnya tekanan jual investor asing serta sentimen negatif dari pasar global.
Mengutip riset Samuel Sekuritas dalam laporan Morning Market Update edisi 29 April 2026, pergerakan IHSG akan dipengaruhi aksi foreign outflow yang masih berlanjut.
"Hari ini, kami memperkirakan JCI akan turun akibat tekanan penjualan asing yang terus berlanjut," tulis riset tersebut.
Sentimen negatif ini tak lepas dari kondisi pasar global. Pada perdagangan Selasa (28/4), bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah, dengan indeks Dow Jones turun 0,05%, S&P 500 terkoreksi 0,49%, dan Nasdaq anjlok 0,90%.
Pelemahan Wall Street dipicu aksi jual di sektor teknologi, menyusul kekhawatiran terhadap pertumbuhan OpenAI. Selain itu, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 0,60 basis poin ke level 4,346% turut menekan pasar.
Di sisi lain, Indeks Dolar AS juga menguat 0,15 persen ke posisi 98,64, yang berpotensi menambah tekanan pada pasar emerging markets, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, IHSG pada perdagangan sebelumnya ditutup melemah 0,5 persen ke level 7.072. Sementara itu, ETF Indonesia yang diperdagangkan di AS, EIDO, juga terkoreksi 0,9 persen, mencerminkan sentimen negatif investor global terhadap aset domestik.
Pergerakan komoditas turut menjadi perhatian. Harga minyak Brent melonjak 2,8 persen ke level 111 dolar AS per barel, sementara harga nikel naik 1,8 persen. Di sisi lain, harga emas terkoreksi 1,8 persen.