Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.828.000
Beli Rp2.700.000
IHSG 7.101,226
LQ45 684,142
Srikehati 332,003
JII 470,939
USD/IDR 17.285

Industri Tekstil RI Terjepit: Krisis Global dan Serbuan Barang Kawasan Berikat

Mohammad Fadil Djailani | Fakhri Fuadi Muflih | Suara.com

Rabu, 29 April 2026 | 18:20 WIB
Industri Tekstil RI Terjepit: Krisis Global dan Serbuan Barang Kawasan Berikat
Pengunjung melihat produk kain dalam pameran Indo Intertex – Inatex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (16/4/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Tekstil April 2026 kontraksi akibat krisis bahan baku global & konflik Selat Hormuz.
  • Garmen tumbuh kuat karena impor, bukan menggunakan pasokan tekstil dalam negeri.
  • Kemenperin desak penurunan kuota 50% produk kawasan berikat masuk pasar domestik.

Suara.com - Sektor industri tekstil nasional tengah menghadapi badai besar. Pada April 2026, subsektor ini resmi mencatatkan kontraksi akibat tekanan geopolitik global yang kian memanas, ditambah persoalan internal terkait regulasi pasar domestik yang dianggap tidak berpihak pada produsen lokal.

Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arief, mengungkapkan bahwa industri tekstil nasional saat ini sedang mengalami tekanan ganda. Dinamika di Selat Hormuz telah memicu gangguan pasokan bahan baku petrokimia, krisis energi, hingga lonjakan biaya logistik internasional yang mencekik.

Data Indeks Kepercayaan Industri (IKI) per April 2026 mengonfirmasi kondisi ini, menempatkan industri tekstil sebagai salah satu subsektor yang kinerjanya merosot tajam akibat kelangkaan bahan baku utama.

Namun, fenomena anomali justru terlihat di sektor hilir. Industri pakaian jadi (garmen) justru tampil perkasa dengan kinerja cemerlang. Usut punya usut, kegemilangan sektor garmen ini ternyata bukan disokong oleh industri tekstil dalam negeri, melainkan melalui jalur impor.

“Nah, itu artinya industri garmen ini menggunakan bahan baku, bukan dari industri tekstil (lokal), tapi dari impor,” ujar Febri di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Febri menduga, industri garmen banyak memanfaatkan fasilitas di kawasan berikat yang mendapatkan izin impor tanpa bea masuk. Ironisnya, produk dari kawasan berikat—baik berupa kain maupun pakaian jadi—diperbolehkan masuk ke pasar domestik hingga porsi 50 persen.

Kondisi ini menciptakan ketimpangan. Industri tekstil lokal yang sudah kesulitan bahan baku akibat krisis global, kini harus bertarung dengan produk 'istimewa' dari kawasan berikat yang masuk ke pasar umum.

“Kebijakan itulah yang membuat industri tekstil yang di luar kawasan berikat itu menurun kinerjanya. Sudah soal bahan bakunya susah, tapi juga terhimpit oleh produk yang keluar dari kawasan berikat,” tegasnya.

Kemenperin menegaskan telah mendesak Kementerian Keuangan untuk segera mengevaluasi aturan main ini. Pihaknya meminta agar porsi produk kawasan berikat yang boleh dilempar ke pasar lokal diturunkan dari angka 50 persen guna memberi ruang napas bagi industri tekstil nasional.

“Kami sudah terus berkomunikasi dengan Kementerian Keuangan. Kami masih menunggu itu. Sudah cukup lama itu,” pungkas Febri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

7 Subsektor Manufaktur Melemah, Kemenperin Ungkap Biang Keroknya

7 Subsektor Manufaktur Melemah, Kemenperin Ungkap Biang Keroknya

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 18:04 WIB

Krisis Tersembunyi di Balik Belanja Online: Tanpa Regulasi Jelas, Sampah Kemasan Jadi Bom Waktu

Krisis Tersembunyi di Balik Belanja Online: Tanpa Regulasi Jelas, Sampah Kemasan Jadi Bom Waktu

News | Selasa, 28 April 2026 | 12:57 WIB

Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia Perlahan Mulai Geser Dominasi Mesin Konvensional

Penjualan Kendaraan Listrik di Indonesia Perlahan Mulai Geser Dominasi Mesin Konvensional

Otomotif | Kamis, 23 April 2026 | 12:34 WIB

Terkini

Prabowo Tunjuk Pengusaha Tambang-Sawit: Cari Makan di Sini, Simpan Uang di Luar Negeri!

Prabowo Tunjuk Pengusaha Tambang-Sawit: Cari Makan di Sini, Simpan Uang di Luar Negeri!

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 18:16 WIB

Cekik Industri Tembakau Sama Saja 'Bunuh' 6 Juta Pekerja, Wamenaker: Negara Belum Siap!

Cekik Industri Tembakau Sama Saja 'Bunuh' 6 Juta Pekerja, Wamenaker: Negara Belum Siap!

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 18:09 WIB

7 Subsektor Manufaktur Melemah, Kemenperin Ungkap Biang Keroknya

7 Subsektor Manufaktur Melemah, Kemenperin Ungkap Biang Keroknya

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 18:04 WIB

Prabowo Gebrak Hilirisasi Fase II Senilai Rp116 Triliun: Jalan Tunggal Menuju Kemakmuran!

Prabowo Gebrak Hilirisasi Fase II Senilai Rp116 Triliun: Jalan Tunggal Menuju Kemakmuran!

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:59 WIB

IKI April 2026 Bertahan di Level Ekspansi 51,75 Meski Bayang-bayang Global Menghantui

IKI April 2026 Bertahan di Level Ekspansi 51,75 Meski Bayang-bayang Global Menghantui

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:53 WIB

BUMN Ini Sulap Kampung Mutus Jadi Mandiri, Ekonomi Warga Melejit 87,5 Persen

BUMN Ini Sulap Kampung Mutus Jadi Mandiri, Ekonomi Warga Melejit 87,5 Persen

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:44 WIB

IHSG Ditutup Perkasa ke Level 7.100, Ini Pemicunya

IHSG Ditutup Perkasa ke Level 7.100, Ini Pemicunya

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:18 WIB

Aksi Nyata Peduli Bumi, Pegadaian Inisiasi Gerakan PURE Movement

Aksi Nyata Peduli Bumi, Pegadaian Inisiasi Gerakan PURE Movement

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 16:54 WIB

BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'

BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 16:16 WIB

Pemerintah Klaim Ketergantungan Indonesia ke Selat Hormuz Hanya 20 Persen

Pemerintah Klaim Ketergantungan Indonesia ke Selat Hormuz Hanya 20 Persen

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 16:02 WIB