Wamenaker: Biaya Membunuh Industri Tembakau Sangat Murah, Tapi...

Liberty Jemadu, Fakhri Fuadi Muflih

Kamis, 30 April 2026 | 09:46 WIB
Wamenaker: Biaya Membunuh Industri Tembakau Sangat Murah, Tapi...
Sekitar 6 juta orang menggantungkan hidup pada industri tembakau, baik sebagai pekerja langsung maupun tidak langsung. Sehingga setiap kebijakan perlu mempertimbangkan risiko ekonomi yang lebih luas. [Antara]
baca 10 detik
  • Wamenaker Afriansyah Noor memperingatkan kebijakan terhadap industri tembakau harus dihitung matang guna mencegah risiko PHK massal tenaga kerja.
  • Sektor industri tembakau nasional diketahui menyerap sekitar 6 juta tenaga kerja yang bergantung pada ekosistem usaha tersebut.
  • Pemerintah didorong melakukan sinkronisasi lintas kementerian agar regulasi tidak mengorbankan stabilitas ekonomi serta kesejahteraan jutaan pekerja lokal.

Suara.com - Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor mengingatkan kebijakan yang berpotensi menekan industri hasil tembakau harus dihitung secara matang karena dampak sosial-ekonomi yang muncul dinilai jauh lebih besar, terutama jika memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

Afriansyah menilai industri tembakau bukan sekadar sektor usaha, tetapi bagian dari industri padat karya yang menopang jutaan tenaga kerja dari hulu hingga hilir.

“Biaya untuk membunuh industri ini jauh lebih murah dibanding biaya untuk merehabilitasi orang-orang yang terdampak. Bahkan bisa jadi tidak pakai biaya—cukup satu dua regulasi saja,” ujarnya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Menurut dia, sekitar 6 juta orang menggantungkan hidup pada sektor tersebut, baik sebagai pekerja langsung maupun tidak langsung, sehingga setiap kebijakan perlu mempertimbangkan risiko ekonomi yang lebih luas.

“Sekitar 6 juta orang bergantung di sektor ini. Kalau terdampak, efeknya bisa berlipat karena menyangkut keluarga mereka. Ini yang harus dihitung serius,” ujarnya.

Afriansyah mengatakan negara juga perlu realistis melihat kapasitas penyerapan tenaga kerja jika industri tersebut mengalami tekanan besar.

“Kalau 6 juta pekerja harus dialihkan ke sektor lain, negara siap belum? Jujur, saya melihat kita belum siap. Ini bukan pekerjaan mudah, apalagi skill mereka terbatas,” katanya.

Ia menambahkan proses upskilling dan reskilling dalam skala besar membutuhkan biaya tinggi serta waktu panjang, sehingga sinkronisasi lintas kementerian dinilai penting sebelum kebijakan baru diterapkan.

“Kita tidak bisa melihat dari satu sisi saja. Dari sisi kesehatan penting, tapi dari sisi ketenagakerjaan juga harus diperhatikan. Dampaknya ke pengangguran itu nyata. Jangan sampai satu kebijakan justru mengorbankan jutaan pekerja. Harus ada kolaborasi dan sinkronisasi yang kuat,” kata Afriansyah.

baca juga

Menurut dia, sektor padat karya seperti industri hasil tembakau masih memiliki peran besar dalam menyerap tenaga kerja nasional.

“Satu perusahaan di sektor padat karya bisa menyerap 8.000 sampai 15.000 pekerja. Ini tidak bisa dianggap kecil,” ujarnya.

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI) Hendry Wardana juga meminta pemerintah menjaga keberlangsungan industri yang sudah menyerap jutaan pekerja.

“Jangan hanya fokus menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga jaga yang sudah ada. Jaga industrinya, jaga pekerjanya,” kata Hendry.

Hendry menyebut industri rokok menyerap sekitar 2 juta pekerja langsung dan 6 juta pekerja tidak langsung, dengan rantai produksi yang dinilai didominasi sektor domestik.

“Dari hulu sampai hilir, industri rokok ini hampir 100 persen lokal. Ini bentuk kemandirian ekonomi yang seharusnya dijaga,” tuturnya.

Ia juga menyoroti berbagai kebijakan fiskal dan non-fiskal yang dinilai dapat menekan industri, termasuk rencana pembatasan kadar tar dan nikotin yang disebut berisiko terhadap industri sigaret kretek padat karya.

“Kalau industri rokok dan tembakau dicekik, itu sama saja mencekik 6 juta orang. Ini bukan angka kecil,” kata Hendry.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Afriansyah menegaskan arah kebijakan pemerintah pada akhirnya harus mempertimbangkan kepentingan masyarakat luas, termasuk perlindungan tenaga kerja.

“Kalau Presiden mendengarkan ini, pasti beliau berpihak pada rakyat. Yang penting bagaimana kebutuhan orang banyak tetap terjaga,” pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cekik Industri Tembakau Sama Saja 'Bunuh' 6 Juta Pekerja, Wamenaker: Negara Belum Siap!

Cekik Industri Tembakau Sama Saja 'Bunuh' 6 Juta Pekerja, Wamenaker: Negara Belum Siap!

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 18:09 WIB

IKI April 2026 Bertahan di Level Ekspansi 51,75 Meski Bayang-bayang Global Menghantui

IKI April 2026 Bertahan di Level Ekspansi 51,75 Meski Bayang-bayang Global Menghantui

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 17:53 WIB

Marak Penyalahgunaan Narkoba, Pengusaha Liquid Tegaskan Vape Legal Aman

Marak Penyalahgunaan Narkoba, Pengusaha Liquid Tegaskan Vape Legal Aman

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 08:40 WIB

Pelaku Industri Dorong Pendekatan Pengurangan Risiko Tembakau di RI

Pelaku Industri Dorong Pendekatan Pengurangan Risiko Tembakau di RI

Bisnis | Jum'at, 24 April 2026 | 21:35 WIB

Wiwit Tembakau di Lereng Sumbing, Doa Petani Sambut Musim Tanam 2026

Wiwit Tembakau di Lereng Sumbing, Doa Petani Sambut Musim Tanam 2026

Foto | Jum'at, 24 April 2026 | 19:38 WIB

Terkini

Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?

Tren Soft Life dan Isu Mental Health: Bisakah Hidup Tenang Tanpa Harus Kaya?

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 11:00 WIB

Cara Membersihkan Kacamata yang Baik dan Benar, Boleh Dicuci Pakai Air?

Cara Membersihkan Kacamata yang Baik dan Benar, Boleh Dicuci Pakai Air?

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 10:46 WIB

Pemerintah Didesak Perjuangkan Hak Kelola Warga atas Eks Konsesi SRL di Pulau Rangsang

Pemerintah Didesak Perjuangkan Hak Kelola Warga atas Eks Konsesi SRL di Pulau Rangsang

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 10:33 WIB

Ulasan Novel Loversation: Belajar Menerima Diri dan Berdamai dengan Masa Lalu

Ulasan Novel Loversation: Belajar Menerima Diri dan Berdamai dengan Masa Lalu

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 10:30 WIB

Cara Menghapus Cache Aplikasi Android Tanpa Hapus Data Penting

Cara Menghapus Cache Aplikasi Android Tanpa Hapus Data Penting

Tekno | Minggu, 01 November 2026 | 10:24 WIB

Berapa Harga Tiket Masuk RANS Carnival Jogja? Viral Ditinggal Musisi hingga UMKM

Berapa Harga Tiket Masuk RANS Carnival Jogja? Viral Ditinggal Musisi hingga UMKM

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 10:16 WIB

Warisan Batik Pekalongan dalam Balutan Modern, Ini 24 Koleksi Terbaru Tieka Huza

Warisan Batik Pekalongan dalam Balutan Modern, Ini 24 Koleksi Terbaru Tieka Huza

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 10:05 WIB

Paradoks Bingar: Dunia Remaja, Bisbol, dan Pertandingan Melawan Ketakutan

Paradoks Bingar: Dunia Remaja, Bisbol, dan Pertandingan Melawan Ketakutan

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 10:00 WIB

Syamsuar Berduka atas Kepergian Arwin AS: Dia Guru dan Mentor Terbaik

Syamsuar Berduka atas Kepergian Arwin AS: Dia Guru dan Mentor Terbaik

Riau | Minggu, 01 November 2026 | 09:59 WIB

Retinoid dan Retinol Bedanya Apa? Ini Panduan Memilih yang Tepat Bagi Pemula

Retinoid dan Retinol Bedanya Apa? Ini Panduan Memilih yang Tepat Bagi Pemula

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 09:38 WIB

×