Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.799.000
Beli Rp2.670.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

Kemenperin: Industri Kertas Untung dengan Lemahnya Nilai Tukar Rupiah

Liberty Jemadu | Suara.com

Kamis, 30 April 2026 | 10:04 WIB
Kemenperin: Industri Kertas Untung dengan Lemahnya Nilai Tukar Rupiah
Kemenperin menyatakan pelemahan rupiah menjadi momentum penguatan daya saing ekspor industri nasional. [Antara]
  • Kemenperin menyatakan pelemahan rupiah hingga Rp17.382 per dolar AS menjadi momentum penguatan daya saing ekspor industri nasional.
  • Industri berbasis bahan baku domestik seperti kertas dan CPO berpeluang memperluas penetrasi pasar serta rantai pasok global.
  • Pemerintah mengimbau penggunaan fasilitas Local Currency Transaction untuk memitigasi ketergantungan terhadap dolar bagi industri yang membutuhkan bahan baku impor.

Suara.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menganggap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak selalu menjadi kabar buruk bagi industri nasional. Tekanan kurs justru dapat menjadi momentum bagi sektor manufaktur berbasis bahan baku domestik untuk memperkuat daya saing ekspor.

Saat ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp17.382 - terendah dalam sejarah. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi industri tertentu karena harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni mengatakan pelemahan rupiah dapat memberi keuntungan bagi industri yang tidak terlalu bergantung pada bahan baku impor. Salah satunya adalah industri kertas.

“Kalau mata uangnya itu eh makin apa, makin eh terkena tekanan, kita itu ekspor kita kan bagus,” kata Febri di Jakarta, Kamis (29/4/2026).

Menurut dia, industri berbasis bahan baku lokal seperti kertas, produk pengolahan kertas, serta sektor berbasis CPO dan turunannya menjadi kelompok yang paling berpotensi menikmati momentum tersebut.

“Produk-produk kita makin bersaing. Itu untuk industri-industri ya, yang bahan bakunya emang dari dalam negeri,” ujarnya.

Febri mencontohkan industri kertas menjadi salah satu subsektor yang diuntungkan karena selain memperoleh dorongan substitusi global terhadap plastik, sektor ini juga mendapat tambahan daya saing dari kurs.

“Tadi, kertas dan pengolahan kertas, ya. Terus produk-produk CPO dan turunannya itu kan daya saingnya akan makin, makin kuat,” ucap dia.

Di sisi lain, Kemenperin mengakui pelemahan rupiah tetap menjadi tantangan bagi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor, terutama sektor yang menggunakan komponen luar negeri dalam jumlah besar.

“Nah, untuk produk-produk yang kita masih menggunakan bahan baku impor, ya bahan baku impor, ini memang ada kendala,” kata Febri.

Meski demikian, pemerintah menilai dampak jangka pendek terhadap industri impor masih relatif tertahan karena sebagian kebutuhan bahan baku telah diamankan melalui kontrak jangka panjang dan mekanisme neraca komoditas.

“Di mana neraca komoditas, itu udah kontrak. Udah kontrak jangka panjang dan barangnya sudah banyak masuk ke Indonesia,” ujarnya.

Kemenperin juga mengimbau pelaku industri memanfaatkan fasilitas Local Currency Transaction (LCT) dari Bank Indonesia agar transaksi bahan baku antarnegara tidak sepenuhnya bergantung pada dolar AS.

Selain itu, pelemahan rupiah disebut bisa menjadi momentum bagi industri domestik yang selama ini berfokus pada pasar dalam negeri untuk mulai memperluas penetrasi ke rantai pasok global.

“Nah inilah momentum untuk masuk ke pasar global, ke rantai pasok global,” tutur Febri.

Dengan kondisi tersebut, Kemenperin melihat tekanan dolar tinggi justru dapat menjadi peluang strategis bagi industri berbahan baku lokal untuk memperbesar ekspor, selama pelaku usaha mampu memanfaatkan momentum nilai tukar dan memperkuat daya saing produksi.

“Kalau selama ini industrinya berorientasi pada pasar domestik, nah inilah momentum untuk masuk ke pasar global,” pungkas Febri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bea Masuk LPG Dihapus, Industri Petrokimia Bersukaria

Bea Masuk LPG Dihapus, Industri Petrokimia Bersukaria

Bisnis | Kamis, 30 April 2026 | 09:58 WIB

Industri Tekstil RI Terjepit: Krisis Global dan Serbuan Barang Kawasan Berikat

Industri Tekstil RI Terjepit: Krisis Global dan Serbuan Barang Kawasan Berikat

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 18:20 WIB

7 Subsektor Manufaktur Melemah, Kemenperin Ungkap Biang Keroknya

7 Subsektor Manufaktur Melemah, Kemenperin Ungkap Biang Keroknya

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 18:04 WIB

BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'

BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 16:16 WIB

Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS

Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 15:51 WIB

Terkini

Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026

Purbaya Ramal Perang AS vs Iran Berakhir September 2026

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:58 WIB

Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik

Sempat Tolak, Ini Alasan Purbaya Akhirnya Kasih Insentif Mobil Listrik

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:48 WIB

Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran

Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Sektor Moneter dan Sistem Pembayaran

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:47 WIB

Warga Jabodetabek Kabur Liburan, Kendaraan Padati Jalan Tol

Warga Jabodetabek Kabur Liburan, Kendaraan Padati Jalan Tol

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:31 WIB

Alasan Panas Bumi Jadi Pusat Pengembangan Energi terbarukan

Alasan Panas Bumi Jadi Pusat Pengembangan Energi terbarukan

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:22 WIB

Kemenhub Restui Maskapai Naikkan Fuel Surchage 50%, Tiket Pesawat Ikut Melonjak?

Kemenhub Restui Maskapai Naikkan Fuel Surchage 50%, Tiket Pesawat Ikut Melonjak?

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 15:17 WIB

BI Prediksi Kinerja Penjualan Eceran April 2026 Tetap Kuat, Kelompok Suku Cadang Jadi Penopang

BI Prediksi Kinerja Penjualan Eceran April 2026 Tetap Kuat, Kelompok Suku Cadang Jadi Penopang

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 14:33 WIB

BRI KPR Solusi Permudah Miliki Rumah dan Properti Lelang dengan Cicilan Fleksibel

BRI KPR Solusi Permudah Miliki Rumah dan Properti Lelang dengan Cicilan Fleksibel

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:00 WIB

Ada Nama Baru di Jajaran Direksi Garuda Indonesia, Dua WNA Masih Menjabat

Ada Nama Baru di Jajaran Direksi Garuda Indonesia, Dua WNA Masih Menjabat

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:33 WIB

Industri Rokok Dinilai Jadi Penopang Lapangan Kerja dan Penerimaan Negara

Industri Rokok Dinilai Jadi Penopang Lapangan Kerja dan Penerimaan Negara

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:23 WIB