- Harga minyak Brent terbang ke USD119,94 akibat blokade Selat Hormuz dan konflik AS-Iran.
- Sinyal kuat kenaikan harga BBM nonsubsidi (Pertamax cs) mulai tengah malam nanti, 1 Mei 2026.
- Menkeu jamin harga BBM subsidi tetap stabil hingga akhir tahun meski harga minyak dunia melonjak.
Suara.com - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian membara, menyeret harga minyak mentah dunia ke level tertinggi baru. Pada perdagangan Kamis (30/4/2026), harga minyak jenis Brent melonjak hingga nyaris menyentuh USD120 per barel.
Kondisi ini memicu spekulasi kuat terkait rencana pemerintah melakukan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri yang dijadwalkan berlaku per 1 Mei 2026 atau malam
Mengutip data Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Juni melonjak 1,62 persen ke posisi USD119,94 per barel. Ini menandai kenaikan hari kesembilan berturut-turut. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 0,59 persen ke level USD107,51 per barel.
Kenaikan tajam ini dipicu oleh buntunya negosiasi konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Presiden AS Donald Trump bahkan telah bertemu dengan bos-bos perusahaan minyak untuk memitigasi dampak rencana blokade pelabuhan Iran yang diprediksi berlangsung berbulan-bulan.
Analis pasar IG, Tony Sycamore menilai, harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat sangat kecil. Padahal, jalur tersebut adalah urat nadi energi dunia yang kini tersumbat setelah Teheran memblokir lalu lintas kapal sebagai respons serangan udara AS-Israel.
"Ini disebut-sebut sebagai gangguan energi terbesar dalam sejarah dunia," ungkap para analis.
Di dalam negeri, publik mulai was-was menanti pengumuman harga BBM nanti malam. Pasalnya, pemerintah telah memberi sinyal akan ada penyesuaian harga BBM nonsubsidi tahap 2, setelah sebelumnya sempat naik pada 18 April 2026 lalu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengisyaratkan bahwa perkembangan harga minyak dunia menjadi penentu utama. "Kalau harganya begini terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM.
Sebagai catatan, Pertamina sebelumnya telah menaikkan harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex saat minyak menembus USD100. Dengan harga saat ini yang mendekati USD120, peluang kenaikan harga BBM nonsubsidi nanti malam kian terbuka lebar mengacu pada Kepmen ESDM No. 245.K/MG.01/MEM.M/2022.
Meski BBM nonsubsidi dibayangi kenaikan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan harga BBM bersubsidi akan tetap stabil hingga akhir tahun. Pemerintah mengaku telah menyiapkan 'bantalan' (cushion) dari Sisa Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp420 triliun serta pendapatan tambahan dari PNBP sektor energi.
"BBM bersubsidi sampai akhir tahun aman. Masyarakat tidak perlu khawatir, anggaran subsidi masih cukup," tegas Purbaya.
Pemerintah terus melakukan efisiensi karena setiap kenaikan USD1 per barel minyak dunia akan menambah beban subsidi sebesar Rp6,8 triliun.