- Harga minyak dunia melonjak pada 30 April 2026 akibat kekhawatiran gangguan pasokan setelah konflik AS-Israel melawan Iran.
- Teheran memblokir Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer sehingga memicu krisis energi terbesar dalam sejarah dunia.
- OPEC+ berencana meningkatkan kuota produksi di tengah mundurnya UEA dan kendala logistik akibat penutupan jalur strategis tersebut.
Suara.com - Harga minyak dunia melanjutkan tren kenaikan pada perdagangan Kamis, 30 April 2026 seiring meningkatnya kekhawatiran atas gangguan pasokan dari Timur Tengah. Kondisi ini dipicu oleh buntunya upaya negosiasi untuk mengakhiri konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
Mengutip dari Reuters, minyak mentah jenis Brent untuk kontrak Juni melonjak 1,62 persen ke posisi 119,94 dolar AS per barel, menandai kenaikan hari kesembilan berturut-turut.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga naik 0,59 persen ke level 107,51 dolar AS per barel, meneruskan momentum penguatan signifikan yang terjadi pada sesi sebelumnya.
Presiden AS Donald Trump menggelar pertemuan dengan sejumlah perusahaan minyak untuk membahas langkah-langkah mitigasi menyusul rencana blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat yang diprediksi berlangsung selama berbulan-bulan.
Langkah ini memicu kekhawatiran global akan terjadinya gangguan pasokan minyak mentah dalam jangka panjang.
Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai harapan untuk penyelesaian konflik atau pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat masih sangat kecil. Jalur strategis tersebut merupakan urat nadi energi dunia yang saat ini tengah terhambat.

Situasi kian kritis setelah Teheran memblokir hampir seluruh lalu lintas kapal di Selat Hormuz, sebagai respons atas serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel sejak akhir Februari lalu.
Konflik ini tidak hanya menelan ribuan korban jiwa, tetapi juga disebut-sebut oleh para analis sebagai gangguan energi terbesar dalam sejarah dunia.
Krisis semakin meruncing pada bulan ini setelah Amerika Serikat secara resmi mulai melakukan blokade terhadap kapal-kapal pengangkut milik Iran di kawasan tersebut.
Dari sisi pasokan, kelompok produsen minyak dunia, OPEC+, diperkirakan akan menyepakati kenaikan kuota produksi minyak mentah sebesar 188.000 barel per hari dalam pertemuan hari Minggu mendatang.
Langkah ini diambil di tengah dinamika pasar energi global yang kian kompleks.
Pertemuan strategis ini digelar sesaat setelah Uni Emirat Arab (UEA) resmi mengundurkan diri dari keanggotaan OPEC per 1 Mei 2026. Mundurnya UEA dinilai akan melemahkan kendali OPEC dalam menstabilkan harga minyak dunia.
Meski hengkangnya UEA memberikan keleluasaan bagi negara tersebut untuk menggenjot produksi, para analis meyakini dampak terhadap fundamental pasar tahun ini tetap terbatas.
Hal ini disebabkan oleh kendala logistik akibat penutupan Selat Hormuz serta terganggunya operasional produksi akibat konflik yang tengah berlangsung.
Analis dari Wood Mackenzie menyebutkan bahwa negara-negara di kawasan Teluk, termasuk UEA, memerlukan waktu setidaknya beberapa bulan untuk mengembalikan kapasitas produksi mereka ke level normal seperti sebelum terjadinya perang.