- Pengamat Ibrahim Assuaibi mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen pada kuartal pertama tahun 2026 yang lalu.
- Capaian ekonomi tersebut didorong oleh stimulus pemerintah dan peningkatan konsumsi masyarakat selama momentum Ramadan serta Lebaran.
- Pertumbuhan berbasis konsumsi dinilai kurang mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat dibandingkan jika didukung oleh investasi produktif.
Suara.com - Pengamat Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026 belum sepenuhnya mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi nasional.
Menurut dia, capaian tersebut lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat yang didorong stimulus pemerintah dan momentum musiman Ramadan-Lebaran, bukan oleh investasi produktif jangka panjang yang menciptakan basis ekonomi lebih kuat.
“Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama cukup bagus, 5,61 persen. Apa sih yang menopang pertumbuhan ekonomi kuartal pertama? Oh, lebaran, ya, kemarin bulan puasa dan lebaran. Itu yang menopang,” kata Ibrahim kepada Suara.com, Kamis (7/4/2026).
Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga memang menjadi penopang utama Produk Domestik Bruto (PDB), tetapi struktur seperti ini dinilai lebih rentan jika tidak diimbangi penguatan investasi.
“Kemudian harus diingat bahwa yang menopang PDB itu adalah konsumsi masyarakat, daya beli, ya kan? Pemerintah melakukan ini, melakukan stimulus, ya, intervensi berupa BLT, ya, dana BOS, dan lain-lain, ya. Sehingga apa? Sehingga kita pertumbuhan ekonominya bagus, di 5,61 persen,” terangnya.
Ibrahim menilai, pertumbuhan berbasis konsumsi bisa terdongkrak cepat melalui bantuan sosial, subsidi, atau diskon, tetapi tidak otomatis menandakan ekonomi berada dalam kondisi sehat secara struktural.
![Suasana gedung bertingkat perkantoran di Jakarta, Kamis (7-3-2024). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/03/07/10043-pertumbuhan-ekonomi-indonesia.jpg)
“Tapi 5,61 persen itu tidak berarti bahwa ekonomi Indonesia baik-baik saja, gitu lho. Karena kita dari daya belinya, dari daya beli masyarakat, bukan dari investasi,” katanya.
Ia membandingkan dengan model pertumbuhan yang lebih bertumpu pada investasi seperti era pembangunan industri padat karya, ketika modal masuk menciptakan pabrik, lapangan kerja, dan kapasitas produksi baru.
“Orde Baru itu kan 60 persen itu kan dari investasi, kan? Kayak di Tiongkok itu 60 persen. Sehingga apa? Padat karya. Jadi modal masuk, kemudian membikin satu perusahaan, kemudian masyarakat bekerja,” jelas Ibrahim.
Menurut dia, kondisi saat ini berbeda karena konsumsi masyarakat menjadi instrumen paling mudah untuk mendorong angka pertumbuhan jangka pendek.
“Nah, sehingga kalau konsumsi masyarakat, pemerintah bisa mengatrol, dengan cara apa? Dengan cara BLT, ya kan? Bantuan tunai, ya kan? Semakin banyak bantuan tunai, semakin banyak intervensi,” katanya.
Ia juga menyoroti berbagai stimulus pemerintah selama Ramadan dan Lebaran, mulai dari bantuan tunai, hingga insentif transportasi, sebagai faktor yang memperkuat daya beli sementara.
“Kemudian bonus untuk kemarin adalah untuk transportasi udara, ya kemudian darat, laut, kan pada saat lebaran,” tutur Ibrahim.
Menurut dia, pola ini efektif menjaga konsumsi jangka pendek, tetapi belum tentu memperkuat fondasi ekonomi jika investasi, industri, dan penciptaan lapangan kerja produktif tidak menjadi motor utama.
“Pembentukan PDB dari gaya masyarakat itu paling mudah. Tinggal stimulus saja, tinggal dibagi-bagi saja, ya sehingga akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi di 5,61 persen,” pungkasnya.