Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.665.000
Beli Rp2.535.000
IHSG 6.101,333
LQ45 598,429
Srikehati 292,525
JII 363,372
USD/IDR 17.863

Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?

Liberty Jemadu

Sabtu, 09 Mei 2026 | 17:01 WIB
Apa itu Bond Stabilization Fund yang Mau Dikerahkan untuk Stabilkan Rupiah?
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan mengerahkan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk memperkuat rupiah. Menahan lonjakan imbal hasil obligasi, mencegah pelarian modal asing.. [Suara.com/Dicky Prastya]
baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan mengerahkan Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga nilai tukar rupiah yang melemah.
  • Pemerintah menggunakan dana cadangan seperti Saldo Anggaran Lebih untuk membeli Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
  • Langkah ini bertujuan menahan lonjakan imbal hasil obligasi guna mencegah pelarian modal asing yang memicu krisis ekonomi.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada pekan ini mengatakan akan mengerahkan Dana Stabilisasi Obligasi atau Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga nilai tukar rupiah yang terus anjlok.

"Di Pemerintah saya punya bond stabilization fund sendiri yang ada beberapa pihak, tetapi kita juga bisa mencukupi dengan saya sendiri untuk sementara. Jadi cukup," katanya saat ditemui di Hachi Grill Kebon Jeruk, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan BSF adalah dana cadangan khusus yang disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) saat terjadi tekanan masif, seperti pelarian modal asing (capital outflow) yang berisiko memicu krisis.

Bendahara Negara memastikan BSF berbeda dengan Bond Stabilization Framework yang dimiliki Komite Stabilitas Sistem Keuangan, di mana ini dijlalankan apabila dalam keadaan krisis.

Lalu apa itu BSF? Dari mana sumber dananya? Bagaimana caranya bekerja?

Apa itu BSF?

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan Bond Stabilization Fund pada dasarnya bagian dari Bond Stabilization Framework yang pernah digunakan pemerintah saat terjadi tekanan besar di pasar obligasi negara.

“Pada kondisi di mana tekanannya tinggi terhadap pasar bond kita atau pasar SBN kita, maka ada mekanisme melakukan pembelian terhadap SBN yang kita miliki,” terang Juda.

BSF dibentuk untuk menjaga stabilitas Surat Berharga Negara (SBN) dan nilai tukar rupiah. Pendanaan BSF dapat berasal dari cadangan fiskal pemerintah, termasuk Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan dana cadangan lainnya.

baca juga

Besaran dana bersifat fleksibel, ditentukan oleh tingkat tekanan pasar, tanpa batas baku atau alokasi khusus yang telah ditetapkan.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung saat konferensi pers APBN KiTa edisi Februari 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/2/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung saat konferensi pers APBN KiTa edisi Februari 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/2/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]

Dari mana sumber dana BSF?

Menurut Purbaya BSF adalah dana cadangan khusus yang disiapkan pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar SBN saat terjadi tekanan masif, seperti pelarian modal asing (capital outflow) yang berisiko memicu krisis.

Ia menerangkan saat ini dana BSF berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) milik pemerintah yang juga akan dikoordinasikan dengan Bank Indonesia. Tak cuma itu, dia juga melibatkan special mission vehicle (SMV) atau lembaga di bawah Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

"Nanti kerjanya juga pasti koordinasi dengan barang sentral. Tapi dananya ada. Kalau fund betulan kan desain lamanya itu ada beberapa lembaga yang terlibat, antara lain (Kementerian) Keuangan dan seluruh SMV yang di bawah Keuangan. Itu bisa ikut membantu ketika kita melakukan stabilisasi harga bond. Itu jadi bukan SAL saja," kata Purbaya.

Bagaimana BSF bekerja?

Pemerintah bisa menggunakan BSF untuk membeli SBN di pasar sekunder, mengendalikan suku bunga, menahan kenaikan imbal hasil (yield) agar tidak melonjak signifikan, serta menurunkan tekanan pada pasar obligasi negara.

“Tujuannya untuk menjaga agar yield tidak berdongkrak naik terlalu signifikan,” beber Juda.

Juda menambahkan, besaran dana yang digunakan bersifat fleksibel dan tergantung tekanan pasar yang terjadi. Pemerintah juga tidak menetapkan batas baku terkait jumlah pembelian obligasi.

Meski demikian, Juda menegaskan kewenangan aktivasi mekanisme tersebut berada di tangan Kementerian Keuangan, bukan melalui keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan atau KSSK.

Pemerintah sebelumnya pernah menggunakan skema serupa pada periode krisis keuangan global 2008 dan tekanan pasar keuangan pada 2018. Indikator utama yang menentukan kapan BSF dikerahkan adalah volatilitas.

“Yang dilihat volatility-nya,” kata Juda

Nilai tukar rupiah melemah pada Selasa (5/5/2026), ketika BPS baru saja mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen. [Antara]
Pemerintah akan mengerahkan BSF untuk menjaga nilai tukar rupiah yang terus melemah. [Antara]

.

Bagaimana BSF memperkuat rupiah?

Menurut Purbaya BSF dihidupkan lantaran adanya kenaikan yield obligasi pemerintah sejak awal 2026. Saat dirinya menyuntik dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan, yield (imbal hasil) obligasi sempat ada di angka 5,9 persen.

Namun setelahnya yield terus naik, mulai dari 6,1 persen dan sekarang 6,7 persen. Akibat imbal hasil terus naik maka harga bond bisa jatuh.

"Kalau bond jatuh apa? Asing yang punya bond di sini kan ada capital loss. Ada aturan di lembaga investasi, kalau loss sekian, musti potong sekian. Jadi itu memicu pelemahan nilai tukar," papar dia.

Maka dari itu Purbaya ingin menahan pelemahan tersebut dengan menjaga harga obligasi. Dengan demikian tidak ada modal asing yang keluar dari instrumen tersebut.

Lebih lanjut ia juga bakal koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) terkait wacana buyback obligasi melalui BSF yang akan dijalankan dalam waktu dekat.

"Belum tahu, tapi kita akan koordinasi dengan bank sentral. Saya akan coba bantu rupiah dengan cara saya sendiri," tutup Purbaya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024

Dikuras untuk Bayar Utang dan Jaga Rupiah, Cadangan Devisa Indonesia Capai Titik Terendah Sejak 2024

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 16:24 WIB

Di Balik Rupiah yang Melemah, Ada Kecemasan Finansial yang Nyata

Di Balik Rupiah yang Melemah, Ada Kecemasan Finansial yang Nyata

Your Say | Sabtu, 09 Mei 2026 | 09:00 WIB

Rupiah Kembali Merosot ke Level Rp 17.382, Apa Penyebabnya?

Rupiah Kembali Merosot ke Level Rp 17.382, Apa Penyebabnya?

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 17:18 WIB

Purbaya Ungkap Sumber Dana Bond Stabilization Fund Demi Perkuat Nilai Tukar Rupiah

Purbaya Ungkap Sumber Dana Bond Stabilization Fund Demi Perkuat Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 14:13 WIB

Duit Negara 'Ludes' Rp34 Triliun dalam Sebulan! Bank Indonesia Akhirnya Buka Suara!

Duit Negara 'Ludes' Rp34 Triliun dalam Sebulan! Bank Indonesia Akhirnya Buka Suara!

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 11:22 WIB

Terkini

Dian Siswarini Dipuji DPR, Telkom Kantongi Pendapatan Rp146,7 Triliun

Dian Siswarini Dipuji DPR, Telkom Kantongi Pendapatan Rp146,7 Triliun

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 18:33 WIB

MSCI Pertahankan Indonesia di EM, Mengapa IHSG Masih Ambruk?

MSCI Pertahankan Indonesia di EM, Mengapa IHSG Masih Ambruk?

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 18:25 WIB

Dorong Kolaborasi Hijau, Pegadaian Dukung Program 2.000 Pohon di Kaltim

Dorong Kolaborasi Hijau, Pegadaian Dukung Program 2.000 Pohon di Kaltim

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:32 WIB

Harga Durian Anjlok, Musang King Dijual Rp23 Ribu per Kg

Harga Durian Anjlok, Musang King Dijual Rp23 Ribu per Kg

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:10 WIB

Rekap Hari Ini: IHSG Ambruk, Rupiah Anjlok!

Rekap Hari Ini: IHSG Ambruk, Rupiah Anjlok!

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:03 WIB

Sinyal Bahaya dari Perbankan: Kredit Agresif, Likuiditas Justru Kian Menipis!

Sinyal Bahaya dari Perbankan: Kredit Agresif, Likuiditas Justru Kian Menipis!

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:56 WIB

Pemerintah Tunda Insentif Motor Listrik, Nasib Ditentukan Juli 2026

Pemerintah Tunda Insentif Motor Listrik, Nasib Ditentukan Juli 2026

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:53 WIB

Prabowo Mau Stop Impor BBM: Kita Akan Swasembada Energi

Prabowo Mau Stop Impor BBM: Kita Akan Swasembada Energi

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:37 WIB

IHSG Hancur Lebur! Anjlok 3,56% ke Level 5.883, Asing Ramai Jual BMRI dan DSSA

IHSG Hancur Lebur! Anjlok 3,56% ke Level 5.883, Asing Ramai Jual BMRI dan DSSA

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:31 WIB

Pelemahan Tak Terbendung, Rupiah Hampir Balik Lagi ke Rp18.000

Pelemahan Tak Terbendung, Rupiah Hampir Balik Lagi ke Rp18.000

Bisnis | Rabu, 24 Juni 2026 | 16:13 WIB