- IHSG diprediksi mengalami rebound teknikal terbatas ke level 7.070 hingga 7.130 setelah melemah signifikan pada perdagangan sebelumnya.
- Investor disarankan menggunakan strategi jual saat harga tinggi karena pasar masih dibayangi tekanan jual saham kapitalisasi besar.
- Sentimen positif dari Wall Street terganjal ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menekan mayoritas bursa saham kawasan Asia.
Suara.com - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi perhatian utama setelah pada perdagangan sebelumnya tertekan cukup dalam.
Meskipun sentimen global memberikan sinyal beragam, investor domestik disarankan untuk tetap waspada terhadap potensi volatilitas yang masih menghantui pasar modal Indonesia.
Proyeksi IHSG: Potensi Rebound Singkat
Setelah ditutup melemah signifikan sebesar 2,86% pada perdagangan terakhir, IHSG hari ini diperkirakan akan mencoba melakukan short term technical rebound. Secara teknikal, indeks memiliki peluang untuk merangkak naik menuju area resistansi di level 7.070 hingga 7.130.
Namun, kenaikan ini diprediksi bersifat terbatas. Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas, Fanny Suherman, menyarankan pelaku pasar untuk memanfaatkan momentum penguatan ini untuk strategi sell on high, mengingat IHSG masih cukup rentan mengalami koreksi lanjutan.
Tekanan jual asing juga masih membayangi pasar, di mana pada sesi sebelumnya mencatatkan net sell sekitar Rp485 miliar, terutama pada saham-saham big caps dan komoditas seperti BMRI, BUMI, BREN, ADRO, dan DSSA.
Support IHSG: 6.650 – 6.850
Resistansi IHSG: 7.070 – 7.130
Wall Street Cetak Rekor, Bursa Asia Tertekan Geopolitik
Sentimen positif datang dari bursa Amerika Serikat. Wall Street menutup pekan lalu dengan gemilang, di mana indeks S&P 500 naik 0,84% dan Nasdaq melonjak 1,71% hingga mencetak rekor tertinggi baru.
Optimisme ini didorong oleh sektor kecerdasan buatan (AI), dengan saham Nvidia, Micron Technology, dan Sandisk yang menguat tajam seiring pesatnya pembangunan pusat data AI.
Selain itu, data tenaga kerja AS yang solid memperkuat keyakinan bahwa ekonomi AS tetap tangguh meski The Fed diprediksi akan mempertahankan suku bunga di level 3,50%–3,75% hingga akhir tahun.
Berbanding terbalik dengan AS, mayoritas bursa Asia justru memerah. Ketegangan geopolitik antara pasukan AS dan Iran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru di pasar. Indeks Hang Seng turun 0,87%, Taiex Taiwan merosot 0,79%, dan ASX 200 Australia terkoreksi 1,51%. Meningkatnya risiko di Timur Tengah ini menjadi ujian bagi ketahanan reli pasar saham di kawasan Asia.
Ide Trading Hari Ini (Senin, 11 Mei 2026)
Berdasarkan kondisi pasar saat ini, berikut adalah beberapa saham yang dapat dicermati untuk aktivitas trading harian: