- PT Arsari Tambang akan membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang pertama di Bangka untuk memperkuat hilirisasi mineral.
- Pusat riset tersebut bertujuan mengembangkan teknologi pengolahan logam tanah jarang guna mendukung industri transisi energi dan sektor teknologi tinggi.
- Perusahaan membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat inovasi dan meningkatkan nilai tambah industri timah di dalam negeri.
Suara.com - PT Arsari Tambang berencana membangun pusat riset timah pertama di Indonesia yang berlokasi di Bangka. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan memperkuat hilirisasi mineral sekaligus meningkatkan penguasaan teknologi logam tanah jarang atau rare earth elements (REE) di dalam negeri.
Direktur Utama PT Arsari Tambang, Aryo PS Djojohadikusumo mengatakan keberadaan pusat riset timah menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi global berbasis mineral strategis.
"Bayangin, industri timah Indonesia sudah ada selama 150 tahun dan kita tidak punya pusat riset timah," ujar Aryo di Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, pusat riset tersebut nantinya akan menjadi basis pengembangan teknologi timah dan pengolahan logam tanah jarang yang selama ini masih terbatas di Indonesia.
![Presiden Direktur Arsari Tambang, Aryo Djojohadikusumo. [ist].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/16/75740-arsari-tambang-aryo-djojohadikusumo.jpg)
Aryo menjelaskan, logam tanah jarang merupakan produk sampingan timah yang memiliki nilai strategis tinggi untuk mendukung industri masa depan, terutama transisi energi dan teknologi tinggi global.
Beberapa unsur logam tanah jarang yang dinilai potensial antara lain neodymium (NdPr) dan dysprosium yang banyak digunakan dalam perangkat teknologi hingga industri energi.
"Semoga kita bisa mendapatkan manfaat dari itu. Salah satu hal yang kami lakukan adalah berinvestasi membangun pusat riset timah dan logam tanah jarang di Bangka," katanya.
Ia menilai Indonesia harus mulai menguasai teknologi hilir berbasis timah, termasuk pengembangan solder untuk industri semikonduktor yang membutuhkan formulasi campuran logam atau alloy dengan standar tinggi.
Menurut Aryo, pengembangan teknologi tersebut tidak bisa hanya bergantung pada pasar luar negeri. Ia menegaskan penguatan kapasitas riset domestik menjadi kunci agar inovasi dan nilai tambah industri tetap berada di Indonesia.
"Kita perlu menguasainya, dan ini harus dimiliki oleh Indonesia, diteliti di Indonesia, dan dibuat di Indonesia," imbuhnya.
Aryo juga membuka peluang kolaborasi dengan akademisi, perusahaan swasta, hingga perusahaan pelat merah di sektor timah untuk mempercepat pengembangan pusat riset tersebut.
Menurut dia, kerja sama lintas sektor penting untuk membangun ekosistem penelitian mineral nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Pembangunan pusat riset ini menjadi bagian dari agenda hilirisasi Arsari Tambang yang lebih luas. Sebelumnya, perusahaan tersebut telah membangun pabrik solder di Batam melalui PT Solder Tin Andalan Indonesia guna memperluas rantai nilai industri timah nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah.