- Mata uang rupiah melemah ke level Rp17.658 pada Senin (18/5/2026) akibat persepsi negatif dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto.
- Pernyataan Presiden yang meremehkan dampak pelemahan rupiah terhadap warga desa dinilai tidak tepat dan memicu ketidakpastian pasar.
- Pelemahan rupiah berdampak luas pada kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya energi, serta beban impor minyak bagi seluruh masyarakat.
Menurut dia, masyarakat desa tetap bisa merasakan dampak pelemahan rupiah melalui harga pupuk, BBM, ongkos distribusi, hingga kebutuhan pokok yang ikut naik akibat tekanan kurs dan harga energi.
![Kementerian ESDM mengatakan pengujian BBM diesel B50 di alat berat berjalan sukses. [Dok Kementerian ESDM]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/07/80607-b50.jpg)
Karena itu, Ibrahim mendorong pemerintah untuk lebih menekankan solusi kebijakan seperti pengurangan ketergantungan impor energi, penguatan program substitusi seperti B50, serta komunikasi publik yang menenangkan pasar.
“Seharusnya pemerintah memberikan satu masukan, ya, tentang bagaimana tentang kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi,” pungkasnya.