- Harga minyak mentah dunia turun lebih dari 2 persen di pasar Asia pada Selasa, 19 Mei 2026.
- Penurunan harga terjadi karena Presiden AS menunda serangan militer ke Iran guna membuka ruang negosiasi damai.
- Kekhawatiran pasar tetap tinggi akibat menipisnya stok cadangan minyak global dan ketidakpastian situasi di Selat Hormuz.
Jalur pelayaran krusial yang menampung seperlima pasokan minyak global tersebut sebelumnya praktis lumpuh akibat konflik, sehingga memicu kecemasan atas kelangkaan pasokan.
![Mulai Senin (14/3) pukul 10.00 waktu Washington, Angkatan Laut AS bertindak sebagai polisi lalu lintas di Selat Hormuz dan bisa memicu perang terbuka dengan negara lain [Suara.com/AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/13/23543-ilustrasi-perang-terbuka-di-selat-hormuz.jpg)
Di luar isu Timur Tengah, menipisnya pasokan energi global juga masih menjadi sorotan. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dilaporkan memperpanjang keringanan sanksi selama 30 hari agar negara-negara yang masuk kategori "rentan energi" tetap dapat membeli minyak jalur laut dari Rusia.
Dari domestik AS, data Departemen Energi menunjukkan cadangan minyak strategis (SPR) mereka terkuras hingga 9,9 juta barel pada pekan lalu.
Angka penurunan tersebut membawa stok SPR AS merosot ke level 374 juta barel, terendah sejak Juli 2024.
Kondisi ini dipertegas oleh Kepala Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol. Ia memperingatkan bahwa persediaan minyak komersial global kini menyusut dengan sangat cepat.
Akibat konflik yang mengganggu jalur pengiriman, pasokan minyak global saat ini diperkirakan hanya tersisa untuk kebutuhan beberapa minggu saja.