- Rupiah melemah ke level Rp 17.744 per dolar AS pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026 di Jakarta.
- Kondisi ini menjadikan rupiah satu-satunya mata uang di Asia yang terdepresiasi saat mata uang lain menguat.
- Penyebab utama pelemahan adalah sentimen internal berupa defisit anggaran serta defisit neraca transaksi berjalan yang melebar.
Suara.com - Rupiah menjadi satu-satunya mata uang di Asia yang nilai tukarnya terus turun terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan Senin sore (25/5/2026).
Di saat mata uang negara-negara lain menguat - bahkan rupee India yang disebut sebagai mata uang dengan kinerja terburu di dunia - karena turunnya harga minyak, nilai tukar rupiah malah konsisten anjlok.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup ke level Rp 17.744 per dolar AS, melemah 27 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan Jumat kemarin yang berada di level Rp 17.716.
“Walaupun harga minyak mengalami penurunan, tetapi rupanya masih belum bisa mengangkat sentimen positif terhadap mata uang rupiah. Kita lihat mata uang negara tetangga semua menghijau, tapi Indonesia memerah,” kata pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi di Jakarta.
Menurut Ibrahim, masalah utama yang menyebabkan melemahnya rupiah adalah sentimen dari internal, yakni masih permasalahan defisit anggaran atau fiskal pemerintah.
Sementara menurut analis Doo Financial Futures, Lukman Leong rupiah melemah disebabkan oleh defisit neraca transaksi berjalan yang melebar dan mencetak rekor terburuk dalam 6 tahun terakhir.
"Tekanan juga datang dari defisit neraca transaksi berjalan kuartal satu yang terbesar dalam lebih dari 6 tahun. Prospek kenaikan suku bunga BI dalam satu atau dua pertemuan ke depan juga membuat investor masih menghindari SBN," kata Lukman dihubungi Suara.com.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen pasar yang masih rapuh walau indeks dolar AS sendiri terpantau turun oleh harapan pembukaan kembali selat Hormuz," jelasnya.
Saat nilai tukar rupiah terus anjlok, baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,5 persen. Disusul, peso Filipina yang ditutup melesat 0,37 persen. Selanjutnya ada rupee India yang naik 0,36 persen dan ringgit Malaysia naik 0,32 persen. Lalu dolar Taiwan ditutup terangkat 0,3 persen.
Won Korea Selatam dan yuan China sama-sama terapresiasi 0,19 persen. Diikuti, dolar Singapura yang menanjak 0,18 persen. Kemudian, yen Jepang naik 0,12 persen serta dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen terhadap the greenback.
Sebelumnya diwartakan harga minyak dunia turun nyaris 5 persen setelah adanya kabar prospek perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Kedua negara disebut berpeluang menandatangani perjanjian damai pada pekan ini atau pekan depan.
Dalam kesepakatan itu disebut bahwa blokade Iran dan AS atas Selat Hormuz akan berakhir, sehingga aliran minyak mentah dari Timur Tengah akan kembali normal.