- HSBC China meluncurkan fasilitas kredit senilai USD 4 miliar untuk mendukung ekspansi korporasi energi bersih Tiongkok ke pasar internasional.
- Indonesia menjadi target utama penyaluran dana tersebut guna mempercepat proyek transisi energi dan mencapai target emisi tahun 2030.
- Inisiatif ini memanfaatkan momentum perjanjian perdagangan ACFTA 3.0 untuk memperkuat kerja sama ekonomi hijau antara Tiongkok dan kawasan ASEAN.
Langkah ini juga seirama dengan hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-48 yang baru saja diselenggarakan di Filipina. Dalam forum tertinggi tersebut, para pemimpin negara Asia Tenggara kembali menegaskan ikhtiar bersama untuk mempercepat interkoneksi ASEAN Power Grid demi mewujudkan ketahanan energi kawasan yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Sebagai salah satu magnet investasi hijau paling potensial di Asia Tenggara, Indonesia memerlukan alokasi dana sekitar USD 97 miliar demi merealisasikan target aksi iklim tahun 2030.
Standardisasi target tersebut telah tertuang secara komprehensif dalam dokumen Comprehensive Investment and Policy Plan (CIPP) dari kemitraan Just Energy Transition Partnership (JETP).
Sejalan dengan hal itu, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru Indonesia tahun 2025 menetapkan target ambisius berupa pembangunan kapasitas energi terbarukan baru sebesar 42.569 MW hingga tahun 2034.
Angka target ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding rencana korporasi periode sebelumnya, sekaligus mengintroduksi target sistem penyimpanan energi (energy storage) untuk pertama kalinya.