- IHSG di Bursa Efek Indonesia sempat dibuka melemah namun berhasil menguat ke level 6.147 pada Jumat pagi.
- Perdagangan mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp3,17 triliun dengan pergerakan saham yang didominasi oleh BREN sebagai top gainer.
- Pasar diperkirakan masih mengalami konsolidasi akibat tekanan nilai tukar rupiah serta dampak dari rebalancing indeks MSCI global.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai menghijau pagi ini meski saat dibuka indeks memerah. IHSG pada pembukaan, Jumat, 29 Mei 2026 dibuka melemah ke level 6.112.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.05 WIB, IHSG tiba-tiba melesat ke level 6.147 atau naik 0,29 persen.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 5,29 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 3,17 triliun, serta frekuensi sebanyak 186.300 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 248 saham bergerak naik, sedangkan 294 saham mengalami penurunan, dan 417 saham tidak mengalami pergerakan.
![OJK sedang memproses seleksi jajaran direksi Bursa Efek Indonesia periode mendatang melalui mekanisme penilaian kemampuan dan kepatutan. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/13/29742-bursa-efek-indonesia-ihsg.jpg)
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, BREN, CUAN, BHAT, RSGK, dan OMRE.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, UNIC, ASPR, TAMA, TALF, dan JGLE.
Proyeksi IHSG
IHSG diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi pada perdagangan hari ini. Pelaku pasar diminta mewaspadai tekanan nilai tukar rupiah serta dampak rebalancing indeks MSCI yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek.
Mengutip riset BRI Danareksa Sekuritas dalam publikasi SAPA Mentari, secara teknikal IHSG masih berpotensi bergerak dalam tren konsolidasi melemah dengan area resistance di level 6.240 dan support di level 6.060.
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis (28/5/2026), IHSG ditutup melemah 1,23 persen ke level 6.130. Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya aksi ambil untung (profit taking) dan tekanan yang terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar maupun saham sektor komoditas.
Tercatat, investor asing masih melakukan aksi jual bersih (net foreign sell) sebesar Rp1,89 triliun di pasar reguler. Tekanan jual tersebut turut membebani laju indeks sepanjang perdagangan.
BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa reli saham-saham Grup Barito Pacific yang sempat menopang pergerakan indeks belum mampu menahan koreksi pasar yang semakin meluas.
Selain itu, perhatian investor juga tertuju pada pergerakan nilai tukar rupiah yang telah mendekati level Rp16.800 per dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai berisiko memicu arus keluar modal asing (capital outflow) yang lebih besar dari pasar keuangan domestik.
"Pelaku pasar juga akan mencermati tekanan nilai tukar rupiah yang telah mendekati level 16.800 per dolar AS, sehingga berisiko mendorong capital outflow lebih lanjut," tulis BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya.
Di sisi lain, pasar juga akan mencermati pelaksanaan effective date rebalancing MSCI yang berlangsung pada penutupan perdagangan hari ini. Momentum tersebut diperkirakan dapat meningkatkan volatilitas pasar dalam jangka pendek seiring penyesuaian portofolio oleh investor institusi global.
Sementara itu, sentimen global cenderung positif setelah mayoritas indeks utama Wall Street ditutup menguat pada perdagangan sebelumnya. Dow Jones Industrial Average naik 0,049 persen ke level 50.668,97. Kemudian S&P 500 menguat 0,58 persen menjadi 7.563,63 dan Nasdaq Composite naik 0,91 persen ke level 26.917,47.
Untuk perdagangan hari ini, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan dua saham pilihan yang dapat dicermati investor, yakni PT Hartadinata Abadi Tbk (EMAS) dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).
Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan dan analisis pasar yang ditujukan sebagai informasi umum, bukan saran atau rekomendasi investasi. Keputusan investasi tetap berada di tangan pembaca, dan setiap risiko investasi menjadi tanggung jawab pribadi.