- Kementerian Perdagangan resmi menaikkan Harga Referensi biji kakao periode Juni 2026 sebesar 17,24 persen menjadi 3.832,17 dolar AS.
- Penutupan Selat Hormuz menyebabkan lonjakan biaya logistik, asuransi, dan bahan bakar yang mengganggu rantai pasok perdagangan internasional secara global.
- Penurunan suplai kakao dari Nigeria serta kenaikan HPE getah pinus turut menambah beban biaya bagi eksportir dan industri.
Suara.com - Ketegangan geopolitik global kembali mengguncang pasar komoditas. Kementerian Perdagangan (Kemendag) resmi menetapkan kenaikan signifikan pada Harga Referensi (HR) biji kakao untuk periode Juni 2026.
Melonjaknya harga bahan baku cokelat ini dipicu oleh penutupan Selat Hormuz yang berdampak fatal pada rantai pasok dunia.
Kenaikan ini menjadi sinyal peringatan bagi pelaku industri makro, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan internasional.
Penutupan jalur ini memicu efek domino, mulai dari lonjakan biaya logistik hingga melambungnya harga bahan bakar global.
Harga Kakao Meroket 17 Persen
Berdasarkan data terbaru Kemendag, Harga Referensi (HR) biji kakao periode Juni 2026 dipatok sebesar 3.832,17 dolar AS per MT. Angka ini menunjukkan kenaikan drastis sebesar 563,48 dolar AS atau sekitar 17,24 persen dibandingkan periode sebelumnya.
![Ilustrasi Kakao | Foto: Buah kakao yang berada di perkebunan Bali, Selasa (25/11/2025). [Suara.com/Dicky Prastya]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/11/25/39478-ilustrasi-kakao-buah-kakao.jpg)
Sejalan dengan itu, Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao juga ikut terkerek ke level 3.511 dolar AS per MT, naik 18,53 persen.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menjelaskan bahwa situasi di Timur Tengah menjadi faktor utama di balik anomali harga ini.
"Ada kenaikan pada HR dan HPE biji kakao karena ditutupnya Selat Hormuz yang mengakibatkan peningkatan biaya logistik, biaya asuransi, dan bahan bakar," ujar Tommy Andana dilansir dari laman Antara, Sabtu (30/5/2026).
Suplai Nigeria Terganggu, Beban Eksportir Bertambah
Selain faktor jalur distribusi, kondisi fundamental di negara produsen juga memperburuk keadaan. Tommy menambahkan bahwa penurunan suplai kakao dari Nigeria turut menjadi katalis pendorong harga di pasar internasional.
Kombinasi antara krisis logistik di Selat Hormuz dan menipisnya stok global memaksa pemerintah untuk menyesuaikan harga patokan agar tetap relevan dengan kondisi pasar dunia.
Namun, hal ini diprediksi akan menambah beban biaya bagi para eksportir dan industri pengolahan hilir.
Tak hanya kakao, tren kenaikan juga merembet ke komoditas kehutanan. Harga Patokan Ekspor (HPE) getah pinus periode Juni 2026 ditetapkan sebesar 980 dolar AS per MT, naik 6,99 persen dari bulan sebelumnya.