- Nilai tukar rupiah melemah ke posisi Rp17.988 per dolar AS pada perdagangan Kamis akibat tekanan sentimen eksternal global.
- Konflik geopolitik di Timur Tengah dan aksi jual investor asing memicu penguatan dolar AS secara signifikan saat ini.
- Kondisi ekonomi domestik yang lesu akibat kontraksi penjualan ritel turut menekan performa mata uang rupiah secara berkelanjutan.
Suara.com - Nilai tukar rupiah konsisten menunjukkan performa yang kurang bertenaga dan kembali terdepresiasi mendekati ambang psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis sore.
Mengacu pada data pasar yang dirilis Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot ditutup melorot ke posisi Rp17.988 per dolar AS. Angka tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 44 poin atau setara 0,25 persen jika disandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp17.944 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengonfirmasi bahwa pemicu utama ambruknya nilai tukar rupiah adalah memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Ekskalasi konflik bersenjata tersebut secara otomatis mendongkrak keperkasaan mata uang greenback.
Di samping itu, Lukman menyebutkan bahwa pergerakan negatif ini diperparah oleh munculnya sikap menghindari risiko (risk-off) di pasar saham domestik, yang memicu aksi jual oleh pemegang modal asing (capital outflow).
Dari dalam negeri, rilis indikator makroekonomi mengenai angka penjualan ritel yang terkontraksi hingga 3,7 persen kian menambah sentimen negatif bagi mata uang Garuda.
Pelemahan nilai tukar ini diproyeksikan masih akan konsisten berlanjut pada perdagangan esok hari. Investor global saat ini cenderung bersikap antisipatif menanti rilis data inflasi dari sisi produsen AS yang diperkirakan kembali menanjak, sementara sentimen eksternal tetap berfluktuasi merespons isu Timur Tengah. Pergerakan kurs untuk esok diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS.
Jika ditarik sejak sesi siang, mata uang rupiah memang sudah terkapar di zona merah akibat gempuran sentimen eksternal dan melambatnya konsumsi rumah tangga di dalam negeri.
Berdasarkan pantauan TradingView, penguatan indeks dolar AS yang terus bertahan di zona tertingginya dalam kurun dua bulan terakhir menjadi batu sandungan utama bagi pemulihan rupiah.
Para pelaku pasar dunia berbondong-bondong memindahkan modal mereka ke instrumen lindung nilai (safe haven) pasca-serangan udara terbaru militer AS ke wilayah Iran. Kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka di Timur Tengah membuat mata uang negara berkembang menjadi kurang menarik.
Kondisi tersebut diperparah oleh fakta bahwa daya beli masyarakat di dalam negeri mulai mengalami kelesuan. Penurunan penjualan ritel pada bulan April menjadi kontraksi tahunan perdana yang tercatat dalam setahun terakhir.
Fenomena ini memperkuat indikasi bahwa kebijakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi belakangan ini telah memukul kapasitas belanja riil rumah tangga secara signifikan.
Akibat tekanan jangka pendek yang begitu masif, para pelaku pasar cenderung mengabaikan proyeksi optimis Bank Indonesia (BI) yang menyebut rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada tahun depan.
Fokus utama investor saat ini sepenuhnya tertuju pada risiko inflasi global serta ruang pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif.
Menjelang agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang dijadwalkan berlangsung pekan depan, Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa bank sentral terus memonitor pergerakan pasar. Otoritas moneter tengah mengevaluasi urgensi untuk mengerek kembali suku bunga acuan (BI-Rate).
Sebagai catatan, guna membentengi nilai tukar dari kejatuhan yang lebih dalam, BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin sejak bulan Mei lalu.
Perry menegaskan bahwa kebijakan moneter ke depan akan diambil secara hati-hati dengan sangat bergantung pada dinamika data ekonomi teranyar serta stabilitas pasar keuangan.
Dilihat dari rekam jejak historisnya, nilai tukar rupiah sempat mencatatkan penurunan paling dalam sepanjang sejarah dengan parkir di level Rp18.049 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 4 Juni 2026 lalu.
Pada sesi perdagangan harian di pekan lalu tersebut, fluktuasi pergerakan harian (intraday) rupiah bahkan sempat menembus titik terendahnya di koridor Rp18.029 hingga Rp18.050 per dolar AS.