- PGN incar CBM Tanjung Enim bernilai USD15,4 miliar.
- Pasokan gas baru ditargetkan naik hingga 25 MMSCFD.
- CBM, biomethane, dan SNG jadi penguat ketahanan energi nasional.
Suara.com - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mulai membidik sumber gas non-konvensional melalui pemanfaatan Coalbed Methane (CBM) atau gas metana batubara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perseroan memperkuat pasokan gas nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional yang kian terbatas.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), wilayah Tanjung Enim menyimpan potensi CBM mencapai 9,7 triliun kaki kubik (Original Gas in Place/OGIP) dengan estimasi nilai ekonomi sekitar USD15,4 miliar atau setara lebih dari Rp250 triliun.
Bagi PGN, cadangan tersebut membuka peluang diversifikasi pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan industri dan pembangkit listrik yang terus meningkat. Perseroan bahkan telah menyiapkan skema pemanfaatan komersial dengan target penyaluran awal sebesar 1 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) yang akan ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 25 MMSCFD.
Direktur Utama PGN Arief K. Risdianto mengatakan, selain mengembangkan CBM, perusahaan juga tengah mengamankan sumber pasokan alternatif lain berupa biomethane berbasis limbah kelapa sawit dan Synthetic Natural Gas (SNG). Ketiga sumber energi tersebut dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Sumatera Selatan.
Menurut Arief, keberadaan berbagai sumber energi tersebut perlu didukung dengan infrastruktur yang mampu mengintegrasikan seluruh pasokan agar dapat langsung dimanfaatkan pasar domestik.
Karena itu, PGN tengah membangun injection point, yakni fasilitas yang berfungsi sebagai titik pengumpul gas dari berbagai sumber sebelum dialirkan ke jaringan pipa transmisi nasional.
"Infrastruktur ini sebagai titik pengumpul gas, di mana gas yang bersumber dari tiga pasokan, baik dari coalbed methane, dari biomethane ataupun juga sumber lainnya akan dikumpulkan yang kemudian akan dimasukkan ke dalam pipa transmisi yang sudah ada," ujar Arief dalam keterangannya, Senin (6/7/2026).
Sebagai Subholding Gas Pertamina, PGN akan mengintegrasikan infrastruktur pipa maupun non-pipa agar penyaluran energi berlangsung lebih efisien. Jaringan distribusi yang telah dimiliki perusahaan diharapkan mampu mempercepat konektivitas antara sumber gas dengan sektor industri sebagai pengguna akhir.
Meski demikian, PGN mengakui keberhasilan pengembangan energi non-konvensional tersebut tidak hanya bergantung pada kesiapan teknis maupun aspek komersial. Dukungan regulasi yang adaptif serta koordinasi lintas pemangku kepentingan dinilai menjadi faktor penting agar proyek dapat segera direalisasikan.
PGN menilai optimalisasi CBM, biomethane, dan SNG bukan hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang investasi baru, meningkatkan pemanfaatan sumber daya lokal, serta menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah.
"PGN menegaskan komitmen jangka panjangnya untuk terus mengawal kebijakan pemerintah. Dari wilayah Muara Enim dan Pagardewa, PGN bertekad menghadirkan solusi energi domestik yang bersih, andal, dan memberikan multiplier effect yang luas bagi masyarakat serta berkontribusi pada perekonomian daerah," tutup Arief.