- Jajaran direksi PT Amman Mineral Internasional Tbk melakukan aksi beli saham AMMN secara bertahap selama periode Juli 2026.
- Transaksi investasi pribadi tersebut dilaporkan kepada BEI dan OJK sebagai wujud keyakinan manajemen terhadap prospek bisnis perusahaan.
- Langkah direksi mencerminkan optimisme kolektif di tengah tekanan pasar, didukung target pertumbuhan pendapatan signifikan serta solidnya fundamental operasional.
Suara.com - Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) kembali menjadi sorotan setelah jajaran direksi kompak melakukan aksi pembelian saham di tengah tekanan pasar modal domestik.
Langkah tersebut dinilai menjadi sinyal kuat bahwa manajemen memiliki keyakinan tinggi terhadap fundamental perusahaan dan prospek bisnis AMMN dalam jangka panjang.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat aksi pembelian saham oleh sejumlah direksinya secara bertahap.
Direktur Utama AMMN, Arief Sidarto, membeli 1,6 juta saham pada 30 Juni 2026 dengan harga Rp3.105 per saham atau senilai sekitar Rp4,97 miliar.
Selanjutnya, Direktur Anthony Mathias mengakumulasi 1,69 juta saham pada 1–2 Juli 2026 di kisaran harga Rp3.120 hingga Rp3.510 per saham dengan nilai transaksi sekitar Rp5,6 miliar.
Aksi serupa juga dilakukan oleh dua direksi lainnya. Aditya Sasmito membeli 850.000 saham pada 6 Juli 2026 dengan harga Rp3.530 per saham atau senilai Rp3 miliar.
Sementara itu, Lal Naveen Chandra mengakumulasi 1 juta saham pada harga Rp3.565 per saham, sehingga total kepemilikan sahamnya meningkat menjadi 53.161.300 lembar.
Seluruh transaksi tersebut telah dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia sesuai dengan Peraturan OJK Nomor 4 Tahun 2024. Dalam keterbukaan informasi tersebut, tujuan transaksi secara tegas disebutkan sebagai investasi pribadi.
Dalam siaran pers perusahaan disebutkan bahwa aksi pembelian saham oleh jajaran direksi merupakan bentuk keyakinan terhadap prospek bisnis perseroan di masa depan.
"Jajaran direksi PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menunjukkan sinyal optimisme dan keyakinan penuh terhadap fundamental serta prospek masa depan perusahaan. Hal ini dibuktikan melalui aksi nyata berupa akumulasi pembelian saham AMMN oleh pucuk pimpinan perusahaan di tengah tekanan pasar modal domestik yang terjadi belakangan ini," demikian kutipan dalam siaran pers.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menilai gelombang pembelian saham oleh para direksi AMMN tidak dapat dipandang sebagai aksi individual semata, melainkan mencerminkan optimisme kolektif terhadap masa depan perusahaan.
"Gerakan borong saham yang dilakukan jajaran direksi AMMAN ini bisa mengindikasikan bahwa manajemen melihat prospek masa depan perusahaan yang positif, dengan kinerja bisnis yang solid. Terlebih saat ini pasar sedang tertekan oleh sentimen makro dan capital outflow asing, yang tidak mencerminkan fundamental atau kondisi bisnis perusahaan yang sebenarnya," ujar Nafan, Rabu (8/7/2026).
Optimisme tersebut juga sejalan dengan laporan riset BRI Danareksa Sekuritas yang memberikan rekomendasi buyterhadap saham AMMN dengan target harga Rp6.000 per saham.
Analis BRI Danareksa, Andhika Audrey Eko Nugroho, menilai AMMN memasuki fase pertumbuhan yang signifikan pada 2026, didukung peningkatan produksi Fase 8 Tambang Batu Hijau serta optimalisasi fasilitas hilirisasi berupa smelter tembaga dan Precious Metal Refinery (PMR).
Dalam riset tersebut, pendapatan AMMN pada 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 4 miliar dolar AS atau meningkat 117 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, EBITDA diperkirakan naik 97 persen menjadi sekitar 2 miliar dolar AS. Target harga tersebut dihitung menggunakan metode valuasi Sum of the Parts yang turut memperhitungkan potensi pengembangan Proyek Elang.
![Ilustrasi Saham. [Dokumentasi IPOT].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/31/80588-ilustrasi-saham-trading-pasar-modal.jpg)
Meski demikian, sejak awal tahun harga saham AMMN masih terkoreksi 44,28 persen secara year to date hingga berada di level Rp3.580 per saham per 6 Juli 2026. Namun, dalam satu bulan terakhir saham tersebut telah menguat sekitar 8 persen.
Prospek saham AMMN dinilai tetap menarik seiring tren kenaikan harga emas dan tembaga dunia.
Menurut Nafan, meningkatnya permintaan tembaga sebagai bahan baku kendaraan listrik dan pusat data menjadi katalis positif bagi perusahaan yang memiliki cadangan tembaga dan emas berkadar tinggi tersebut.
Ia melihat, dari sisi fundamental, kinerja operasional Amman dalam beberapa tahun terakhir masih relatif solid.
Menurutnya, hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan memiliki daya tahan yang cukup baik dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk volatilitas harga komoditas maupun dinamika ekonomi global.
"Apabila tren produksi, efisiensi operasional, dan prospek proyek pengembangan tetap berjalan sesuai rencana, maka fundamental tersebut berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja perusahaan dan harga saham dalam jangka menengah hingga panjang," pungkas Nafan.