Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.585.000
Beli Rp2.465.000
IHSG 5.912,442
LQ45 587,370
Srikehati 290,628
JII 345,613
USD/IDR 18.085

Produk Murah China Terus Membanjiri RI, UMKM Dipaksa Bertahan di Tengah Gempuran

Mohammad Fadil Djailani

Jum'at, 10 Juli 2026 | 08:09 WIB
Produk Murah China Terus Membanjiri RI, UMKM Dipaksa Bertahan di Tengah Gempuran
Pekerja menyelesaikan pembuatan sepatu Flavio Boston di Cakung, Jakarta, Kamis (11/9/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Produk murah China masih menekan daya saing UMKM di pasar domestik.
  • Riset: jejaring lokal menjadi kunci ketahanan UMKM menghadapi impor murah.
  • Kementerian UMKM dorong produk Indonesia jadi tuan rumah di negeri sendiri

Suara.com - Gempuran produk murah asal China masih menjadi tantangan besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia. Meski sempat memukul omzet pedagang tradisional hingga memicu polemik nasional, penelitian terbaru menunjukkan UMKM dalam negeri ternyata memiliki daya tahan yang lebih kuat dari yang diperkirakan.

Fenomena membanjirnya barang murah dari Republik Rakyat China (RRC) semakin terasa sejak ekonomi global mulai pulih pascapandemi Covid-19. Produk-produk impor dengan harga rendah kini dapat langsung menjangkau konsumen melalui platform perdagangan elektronik tanpa melalui rantai distribusi konvensional.

Kondisi tersebut pernah menjadi sorotan pada 2023 ketika pedagang di Pasar Tanah Abang mengeluhkan penurunan drastis jumlah pembeli. Saat itu, kehadiran TikTok Shop menjadi pusat perhatian karena dinilai membuka jalan bagi produk-produk impor murah untuk langsung menyasar konsumen Indonesia.

Tak sedikit pihak yang menuding praktik penjualan produk asal China tersebut sebagai bentuk predatory pricing atau strategi menjual dengan harga sangat rendah hingga sulit disaingi produsen lokal.

Namun, Pemerhati China sekaligus dosen Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pelita Harapan (UPH), Johanes Herlijanto, menilai tudingan tersebut belum memiliki dasar hukum yang kuat.

"Anggapan bahwa barang-barang asal China yang dijual melalui TikTok melakukan praktik predatory pricing memang sangat populer dalam tiga tahun terakhir. Namun sampai sekarang hal itu masih berupa wacana dan belum bisa dibuktikan secara hukum," ujar Johanes.

Meski demikian, ia mengakui produk-produk asal China memang dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan produk sejenis di dalam negeri.

Menurut Johanes, sekitar satu dekade lalu keberadaan barang murah dari China justru membantu perkembangan UMKM Indonesia. Pedagang daring dapat memperoleh barang dengan harga murah untuk dijual kembali, sementara platform digital mempermudah mereka menjangkau konsumen.

"Para pedagang toko daring bisa mendapatkan barang yang murah untuk dijual," katanya.

baca juga

Persaingan mulai berubah ketika penjual dari luar negeri, termasuk China, dapat langsung menawarkan produknya kepada konsumen Indonesia melalui platform digital. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran karena pelaku UMKM lokal harus bersaing secara langsung dengan produsen asing yang memiliki skala produksi jauh lebih besar.

Pemerintah kemudian merespons melalui regulasi yang mengharuskan platform asing berkolaborasi dengan perusahaan dalam negeri. Namun langkah tersebut belum sepenuhnya menghentikan derasnya arus barang murah impor.

Di sisi lain, fenomena tersebut semakin diperkuat oleh kelebihan kapasitas produksi (overcapacity) yang tengah dialami industri manufaktur China. Akibatnya, semakin banyak produk berharga murah yang mengalir ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Meski menghadapi tekanan tersebut, hasil sementara penelitian yang dilakukan Amore Minayora dari University of the West of England (UWE) menunjukkan pelaku UMKM Indonesia tidak serta-merta kehilangan daya saing.

Dalam seminar bertajuk "Jakarta Hustle: Resilience and Resourcefulness beyond E-Commerce Platform" di Gedung SMESCO Jakarta, 8 Juli 2026, Amore mengungkapkan kekuatan utama UMKM justru berasal dari jaringan lokal yang mereka miliki.

"Masuknya barang-barang dari China melalui platform perdagangan daring tidak membuat pengusaha kecil dan menengah mati langkah. Ketahanan pengusaha UMKM di Jakarta berasal dari kedekatan akses dan relasi dengan rantai pasok lokal, penyedia jasa logistik, serta hubungan yang kuat dengan konsumen," ujarnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ramai Isu Moratorium Alfamart dan Indomaret, Ini Penjelasan Resmi Menteri UMKM

Ramai Isu Moratorium Alfamart dan Indomaret, Ini Penjelasan Resmi Menteri UMKM

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2026 | 07:52 WIB

CBR Dinilai Mampu Ciptakan Lapangan Kerja, Ini Ajakan Menteri UMKM ke Korporasi

CBR Dinilai Mampu Ciptakan Lapangan Kerja, Ini Ajakan Menteri UMKM ke Korporasi

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2026 | 07:40 WIB

Panduan Lengkap Urus Sertifikat Halal Gratis untuk UMKM, Ini Syarat dan Caranya

Panduan Lengkap Urus Sertifikat Halal Gratis untuk UMKM, Ini Syarat dan Caranya

Lifestyle | Kamis, 09 Juli 2026 | 16:55 WIB

Terkini

327 Emiten Belum Penuhi Free Float 15 Persen, Apa Penyebabnya?

327 Emiten Belum Penuhi Free Float 15 Persen, Apa Penyebabnya?

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2026 | 08:06 WIB

Prambanan Dipugar Bersama India, InJourney Bidik Lonjakan Wisatawan dan Dampak Ekonomi

Prambanan Dipugar Bersama India, InJourney Bidik Lonjakan Wisatawan dan Dampak Ekonomi

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2026 | 07:58 WIB

Ramai Isu Moratorium Alfamart dan Indomaret, Ini Penjelasan Resmi Menteri UMKM

Ramai Isu Moratorium Alfamart dan Indomaret, Ini Penjelasan Resmi Menteri UMKM

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2026 | 07:52 WIB

CBR Dinilai Mampu Ciptakan Lapangan Kerja, Ini Ajakan Menteri UMKM ke Korporasi

CBR Dinilai Mampu Ciptakan Lapangan Kerja, Ini Ajakan Menteri UMKM ke Korporasi

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2026 | 07:40 WIB

Penjualan Eceran Juni 2026 Turun Tipis, BI Pastikan Konsumsi Rumah Tangga Masih Solid

Penjualan Eceran Juni 2026 Turun Tipis, BI Pastikan Konsumsi Rumah Tangga Masih Solid

Bisnis | Jum'at, 10 Juli 2026 | 07:24 WIB

Purbaya Ajak Investor Negara Islam Kembangkan Industri Halal di Indonesia

Purbaya Ajak Investor Negara Islam Kembangkan Industri Halal di Indonesia

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:56 WIB

TikTok Donasi 200 Ribu Dolar AS untuk Sektor Pangan RI

TikTok Donasi 200 Ribu Dolar AS untuk Sektor Pangan RI

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:52 WIB

Indonesia Dihantam 4 Tekanan Ekonomi Sekaligus, Apa Saja?

Indonesia Dihantam 4 Tekanan Ekonomi Sekaligus, Apa Saja?

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 20:14 WIB

Program AURA BRI Peduli Cetak UMKM Perempuan Tangguh Dengan Peluang Ekonomi Olahan Pala

Program AURA BRI Peduli Cetak UMKM Perempuan Tangguh Dengan Peluang Ekonomi Olahan Pala

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:55 WIB

B50 Mulai Mengalir ke 57% SPBU Pertamina, Pemerintah Targetkan Transisi Tuntas dalam Dua Bulan

B50 Mulai Mengalir ke 57% SPBU Pertamina, Pemerintah Targetkan Transisi Tuntas dalam Dua Bulan

Bisnis | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:45 WIB

×