Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.599.000
Beli Rp2.485.000
IHSG 5.924,360
LQ45 589,254
Srikehati 291,550
JII 348,641
USD/IDR 18.064

Harga Minyak Naik Berkali-kali Sejak Kemarin, AS-Iran Sudah 'Panaskan Mesin' Perang

M Nurhadi

Senin, 13 Juli 2026 | 13:22 WIB
Harga Minyak Naik Berkali-kali Sejak Kemarin, AS-Iran Sudah 'Panaskan Mesin' Perang
IRGC Iran merespon serangan AS dengan menyerang titik strategis AS di Timur Tengah [Ist]
baca 10 detik
  • Harga minyak dunia melonjak lebih dari 4 persen pada Senin (13/7/2026) akibat eskalasi konflik militer di Selat Hormuz.
  • Pasukan Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan udara yang menargetkan posisi militer di lokasi strategis tersebut.
  • Ketegangan militer memicu penurunan volume distribusi minyak mentah dunia serta mengancam kelangsungan perjanjian damai kedua negara.

Suara.com - Harga minyak mentah dunia mencatatkan lonjakan signifikan di atas 4 persen pada perdagangan Senin (13/7/2026) siang (WIB).

Kenaikan tajam ini dipicu oleh meningkatnya ancaman terhadap jalur distribusi energi di Selat Hormuz, menyusul pengumuman rangkaian serangan militer terbaru yang melibatkan pasukan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Berdasarkan data pasar komoditas pada pukul 10.25 WIB, kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent menguat sebesar USD3,10 atau sekitar 4,08 persen ke posisi USD79,11 per barel.

Pada saat yang sama, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) pasokan AS terkerek naik USD2,95 atau 4,11 persen, menempatkan posisinya pada level USD74,36 per barel.

Komando Sentral AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa pasukannya telah merampungkan gelombang serangan baru terhadap posisi Iran pada hari Minggu kemarin.

Operasi tersebut menyasar puluhan target strategis di sejumlah lokasi terpisah menggunakan amunisi berpandu presisi.

Sebagai aksi balasan, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan pada Senin ini bahwa mereka telah meluncurkan serangan yang membidik pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Bahrain.

Di tengah situasi yang memanas, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Jalur Selat Hormuz masih terbuka bagi aktivitas pelayaran komersial.

Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan klaim Teheran sebelumnya yang menegaskan telah menutup jalur perairan vital itu, setelah sebuah kapal dagang dilaporkan terkena serangan karena melintasi rute yang tidak mendapatkan izin otoritas setempat.

baca juga

Penurunan Volume Distribusi dan Ketidakpastian Gencatan Senjata

Seperti yang dilaporkan Reuters, sebelum konflik bersenjata pecah pada akhir Februari lalu, sekitar 20 persen dari total pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia bergantung pada akses Selat Hormuz.

Namun, data pelacakan kapal komersial dari Kpler menunjukkan hanya ada enam kapal terintegrasi yang melintasi selat tersebut pada hari Minggu, menandai volume lalu lintas harian terendah dalam lima pekan terakhir.

Rentetan serangan ini kian mengancam kelangsungan perjanjian interim yang disepakati oleh AS dan Iran bulan lalu. Perjanjian tersebut semula ditargetkan menjadi landasan untuk membuka kembali akses selat secara penuh dan mengakhiri konflik melalui perundingan lanjutan selama 60 hari.

Badan Energi Internasional (IEA) dalam laporan bulanan terbarunya mencatat bahwa pasokan minyak global sempat merangkak naik 4,1 juta barel per hari (bpd) pada Juni pasca-kesepakatan tersebut. Meski demikian, total produksi dunia saat ini terpantau masih defisit 9,4 juta bpd jika dibandingkan dengan level produksi sebelum pecahnya perang.

Tim analis dari bank ANZ menilai eskalasi ketegangan yang terjadi sepanjang akhir pekan ini mengikis harapan pelaku pasar terhadap resolusi konflik yang cepat.

Dinamika di lapangan menunjukkan peta konflik yang semakin rumit bagi jalur pasokan energi terintegrasi.

Sementara itu, analis pasar dari IG, Tony Sycamore, memberikan pandangan yang sedikit berbeda mengenai respons pergerakan harga.

Menurut analisisnya, kenaikan harga minyak yang relatif terukur ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar saat ini melihat ketegangan yang terjadi masih berada dalam koridor eskalasi di tengah gencatan senjata yang rapuh, dan belum mengarah pada kegagalan total dari upaya damai.

"Kendati demikian, seberapa akurat pandangan pasar tersebut masih harus kita cermati perkembangannya ke depan," jelas Sycamore dalam catatan resminya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Militer Yordania Menembak Jatuh 4 Rudal Iran yang Terobos Masuk Wilayah Udara Mereka

Militer Yordania Menembak Jatuh 4 Rudal Iran yang Terobos Masuk Wilayah Udara Mereka

News | Senin, 13 Juli 2026 | 12:50 WIB

Iran Ngamuk Lagi, Kuwait Dibombardir Hancurkan Tanki Bahan Bakar Militer AS

Iran Ngamuk Lagi, Kuwait Dibombardir Hancurkan Tanki Bahan Bakar Militer AS

News | Senin, 13 Juli 2026 | 11:46 WIB

Misi Juara Piala Asia 2027, Timnas Iran Perpanjang Kontrak Amir Ghalenoei

Misi Juara Piala Asia 2027, Timnas Iran Perpanjang Kontrak Amir Ghalenoei

Bola | Senin, 13 Juli 2026 | 11:16 WIB

IRGC Iran: Operasi Pembalasan ke Amerika Akan Terus Berlanjut

IRGC Iran: Operasi Pembalasan ke Amerika Akan Terus Berlanjut

News | Senin, 13 Juli 2026 | 11:04 WIB

Daftar Gempuran AS ke Iran Terbaru karena Ngamuk Selat Hormuz Kembali Ditutup

Daftar Gempuran AS ke Iran Terbaru karena Ngamuk Selat Hormuz Kembali Ditutup

News | Senin, 13 Juli 2026 | 10:37 WIB

Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur

Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur

News | Senin, 13 Juli 2026 | 10:05 WIB

Terkini

Distribusi BBM Kini Gunakan AI, Begini Caranya

Distribusi BBM Kini Gunakan AI, Begini Caranya

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 13:20 WIB

Asing Lepas BBCA hingga GOTO, Net Sell Rp274,81 Miliar di Sesi I

Asing Lepas BBCA hingga GOTO, Net Sell Rp274,81 Miliar di Sesi I

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 13:14 WIB

IMF Pertahankan Target Ekonomi Indonesia, 'Lebih Baik' dari India dan Filipina

IMF Pertahankan Target Ekonomi Indonesia, 'Lebih Baik' dari India dan Filipina

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 13:04 WIB

IHSG Bertahan di Level 5.900-an pada Sesi I, RATU dan BRPT Jadi Pendorong

IHSG Bertahan di Level 5.900-an pada Sesi I, RATU dan BRPT Jadi Pendorong

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 13:02 WIB

Timnas Argentina Diguncang Skandal Pencucian Uang AFA, FBI Turun Tangan

Timnas Argentina Diguncang Skandal Pencucian Uang AFA, FBI Turun Tangan

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 12:38 WIB

Purbaya Tolak Perpanjang Tenor Dana SAL Rp 200 Triliun Milik Pemerintah ke Himbara

Purbaya Tolak Perpanjang Tenor Dana SAL Rp 200 Triliun Milik Pemerintah ke Himbara

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 12:28 WIB

Harga Emas Antam Anjlok, Rupiah Ikutan Koreksi Tajam: Apa Penyebabnya?

Harga Emas Antam Anjlok, Rupiah Ikutan Koreksi Tajam: Apa Penyebabnya?

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 12:19 WIB

Purbaya Ramal Defisit APBN 2026 Bengkak Jadi Rp 734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB

Purbaya Ramal Defisit APBN 2026 Bengkak Jadi Rp 734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 12:02 WIB

Meski Labanya Ribuan Persen, Saham GGRM Belum Layak Dibeli

Meski Labanya Ribuan Persen, Saham GGRM Belum Layak Dibeli

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:51 WIB

Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD

Prabowo Minta yang Pesimistis Tinggalkan Indonesia, IKK Turun hingga IHSG Anjlok 32% YTD

Bisnis | Senin, 13 Juli 2026 | 11:25 WIB

×