- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 6.046 pada perdagangan hari Rabu, 15 Juli 2026.
- Sebanyak 269 saham mengalami penguatan di tengah total nilai transaksi mencapai Rp949,85 miliar pada awal perdagangan.
- Penguatan IHSG didorong sentimen positif pasar global setelah data inflasi Amerika Serikat lebih rendah dari ekspektasi.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) betah di zona hijau pada awal perdagangan, Rabu, 15 Juli 2026. IHSG dibuka menguat ke level 6.068.
Mengutip data Stockbit, hingga pukul 09.05 WIB, IHSG masih menguat tipis 6,61 atau 0,11 persen ke level 6.046.
Pada perdagangan waktu itu sebanyak 1,75 miliar lembar saham diperdagangkan dengan nila transaksi mencapai Rp 949,85 miliar serta frekuensi sebesar 180.930 kali.
Di waktu itu, terdapat 269 saham menghijau, sedangkan, 203 saham merosot. Sisanya, 493 saham masih belum bergerak alias stagnan.
![Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta Pusat, Senin (2/12/2023). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/01/02/33118-bursa-efek-ihsg-idx-saham.jpg)
Adapun, berikut beberpa saham yang Top Gainer dan Loser di waktu itu:
Top Gainer
- PRDL
- AGAR
- GOLD
- GDST
- BAJA
Top Loser
- SKBM
- RSGK
- RISE
- FITT
- TIFA
Proyeksi IHSG
IHSG diproyeksikan melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Optimisme tersebut didorong sentimen positif dari pasar global setelah bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup di zona hijau menyusul rilis data inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi.
Dalam riset Samuel Sekuritas Indonesia, analis memperkirakan IHSG akan bergerak menguat seiring momentum positif dari pembukaan bursa regional.
"Hari ini, kami memperkirakan JCI akan bergerak naik, didukung oleh momentum pembukaan yang kuat dari pasar regional," tulis Samuel Sekuritas dalam risetnya.
Pada perdagangan Selasa (14/7/2026), Wall Street berhasil ditutup menguat. Indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,02 persen, S&P 500 menguat 0,38 persen, sementara Nasdaq melesat 0,90 persen.
Penguatan tersebut didorong oleh data inflasi Amerika Serikat periode Juni yang lebih rendah dari perkiraan pasar. Selain itu, kinerja solid sejumlah bank besar di Negeri Paman Sam turut meningkatkan optimisme investor dan meredakan kekhawatiran terhadap risiko geopolitik yang masih membayangi pasar.
Sejalan dengan itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 3,43 basis poin menjadi 4,589 persen. Sementara itu, Indeks Dolar AS melemah 0,31 persen ke level 100,92, memberikan sentimen positif bagi aset-aset berisiko di pasar berkembang.
Di sisi komoditas, harga minyak Brent naik 1,7 persen ke level 85 dolar AS per barel. Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia juga menguat 0,9 persen menjadi 4.573 ringgit Malaysia per metrik ton. Sementara harga emas dunia naik 1,3 persen ke level 4.053 dolar AS per troy ounce.