- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu Menteri Perdagangan China di Shanghai untuk memperkuat kemitraan investasi strategis dan kawasan industri.
- Pemerintah Indonesia membahas pengembangan teknologi kecerdasan buatan, komputasi awan, dan digitalisasi UMKM bersama perusahaan raksasa Huawei serta ByteDance.
- Penguatan kolaborasi teknologi ini bertujuan mempercepat transformasi digital nasional, meningkatkan daya saing industri, serta mendorong pertumbuhan ekonomi baru.
Namun pemerintah juga mendorong kolaborasi yang lebih jauh, tidak hanya di sektor perdagangan digital, tetapi juga pengembangan teknologi AI generatif, machine learning, hingga Large Language Models (LLM).
![Ilustrasi Bytedance. [Greg Baker/AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/03/05/78914-bytedance.jpg)
"Pemerintah Indonesia mengapresiasi kepercayaan ByteDance yang terus memperkuat investasinya di Indonesia. Kehadiran ByteDance tidak hanya memperkuat ekosistem ekonomi digital, tetapi juga membuka peluang yang lebih luas bagi jutaan pelaku UMKM untuk berkembang melalui platform digital dan perdagangan lintas batas," ujar Airlangga.
Ia bahkan mengundang ByteDance untuk membangun pusat riset AI di Indonesia sebagai bagian dari penguatan ekosistem teknologi nasional.
"Indonesia memiliki pasar digital yang besar, talenta digital yang terus berkembang, serta komitmen kuat dalam membangun ekosistem AI yang inklusif. Kami mengundang ByteDance untuk mengeksplorasi peluang pembentukan pusat riset AI, pengembangan talenta digital, serta kolaborasi inovasi yang dapat memberikan manfaat bagi kedua negara," tambahnya.
AI Dinilai Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
Langkah pemerintah mempererat hubungan dengan Huawei dan ByteDance menunjukkan arah baru diplomasi ekonomi Indonesia. Fokus kerja sama kini tidak lagi sebatas perdagangan dan manufaktur, tetapi mulai bergeser ke sektor bernilai tambah tinggi seperti kecerdasan buatan, komputasi awan, pusat data, dan pengembangan talenta digital.
Kemitraan tersebut diharapkan mampu mempercepat transfer teknologi, memperkuat daya saing industri nasional, mengurangi kesenjangan teknologi global (bridging the AI divide), sekaligus membuka peluang investasi baru yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia dalam jangka panjang.