The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Mendadak Malah Panik dan Bingung!

M Nurhadi

Kamis, 30 Juli 2026 | 07:13 WIB
The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Mendadak Malah Panik dan Bingung!
Kevin Warsh (Hoover)
baca 10 detik
  • Federal Reserve menahan suku bunga acuan dan memicu kebingungan pasar karena minimnya kejelasan kebijakan penanganan inflasi.
  • Tiga dari dua belas anggota FOMC menolak keputusan tersebut dan mengusulkan kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin.
  • Lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah jangka panjang membuat pelaku pasar keuangan mempertanyakan kredibilitas bank sentral.

Suara.com - Bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk membiarkan suku bunga acuan tidak berubah pada hari Rabu waktu setempat.

Meski Gubernur The Fed, Kevin Warsh, menjanjikan komitmen tak tergoyahkan untuk menurunkan inflasi, pesannya justru membuat pasar keuangan kebingungan mengenai langkah konkret apa yang sebenarnya siap ia ambil ke depannya.

Dalam konferensi pers pasca-pertemuan, Warsh menolak memberikan petunjuk apa pun terkait tindakan spesifik yang diperlukan untuk mengendalikan inflasi. Padahal, inflasi AS telah tertahan di atas target 2 persen The Fed selama lebih dari lima tahun terakhir. Warsh hanya menegaskan satu janji: "The Fed ini tidak akan goyah."

Perpecahan Suara di Internal The Fed (FOMC)

Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50% hingga 3,75% tidak diambil secara mufakat. Terdapat perbedaan pendapat (dissenting opinion) yang cukup mencolok di dalam komite penentu kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC).

Dilansir via Reuters, tiga dari 12 anggota FOMC secara terbuka menolak keputusan penahanan suku bunga tersebut.

Ketiga anggota yang berbeda pendapat itu—termasuk kepala bank regional The Fed dari Cleveland, Dallas, dan Minneapolis—lebih menginginkan adanya kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin persentase (0,25%).

Berdasarkan aturan The Fed saat ini, para pejabat yang berbeda pendapat tersebut bebas untuk menyuarakan pandangan mereka kepada publik mulai hari Jumat mendatang.

Warsh secara eksplisit mengakui bahwa "bankir sentral mana pun" yang dihadapkan pada pasar tenaga kerja yang stabil dan inflasi yang meningkat biasanya akan "lebih cenderung untuk memperketat kebijakan."

baca juga

Sebagai catatan, inflasi dasar (underlying inflation) hingga bulan lalu kembali mengalami akselerasi. Lonjakan ini didorong oleh dua faktor utama:

  • Naiknya harga bahan bakar dan pangan global akibat perang di Timur Tengah.
  • Lonjakan belanja bisnis korporasi yang berkaitan erat dengan tren kecerdasan buatan (AI).

Meski demikian, Warsh tidak lantas menawarkan kenaikan suku bunga sebagai jawaban mutlak.

"Kami sedang bekerja, kami akan mewujudkannya, kami fokus untuk memastikan kami bisa melakukannya, tetapi anggapan bahwa kami bisa melakukannya dengan tongkat ajaib adalah sesuatu yang ingin saya singkirkan dari pikiran Anda semua," ujar Warsh.

Ia menambahkan bahwa jika inflasi terus tinggi, suku bunga bisa menjadi bagian dari solusi, tetapi bukan satu-satunya cara.

Kredibilitas Bank Sentral Dipertanyakan Analis dan Pasar

Keengganan Warsh untuk memberikan panduan yang jelas (forward guidance) langsung menuai kritik tajam dari para pelaku pasar. Michael Feroli, Kepala Ekonom AS di J.P. Morgan, menulis dalam laporannya bahwa sulit untuk memahami maksud dari pernyataan Warsh.

"Pernyataannya melibatkan banyak frasa yang disusun dengan baik, tetapi sangat minim pandangan makroekonomi yang koheren," tulis Feroli.

Kebingungan ini langsung tercermin pada pergerakan pasar obligasi. Dinamika kurva imbal hasil (yield curve) obligasi Treasury AS mengalami perubahan drastis pada hari Rabu:

Imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 2 tahun mengalami penurunan.

Sebaliknya, imbal hasil untuk tenor 10 tahun dan 30 tahun justru bergerak naik.

Bahkan, imbal hasil obligasi 30 tahun—yang sangat sensitif terhadap ekspektasi inflasi—menembus level 5,20% untuk pertama kalinya sejak pertengahan tahun 2007.

Merespons anomali pasar keuangan ini, para ekonom di Bank of America merilis sebuah catatan analitik berjudul "Doved and Confused" (Doved dan Bingung). Secara gamblang, mereka menyimpulkan bahwa pasar keuangan saat ini sedang mempertanyakan kredibilitas The Fed dalam mengendalikan laju inflasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kebijakan Tahan BI Rate 5,75 persen Disebut Bisa Dorong Penyaluran Kredit Perbankan

Kebijakan Tahan BI Rate 5,75 persen Disebut Bisa Dorong Penyaluran Kredit Perbankan

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:20 WIB

BI Batal Naikan Suku Bunga Acuan, Rupiah Melemah Lagi

BI Batal Naikan Suku Bunga Acuan, Rupiah Melemah Lagi

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 17:01 WIB

Jangan Anggap Sepele BI Rate, Dampaknya bagi Masyarakat yang Punya Utang Bank

Jangan Anggap Sepele BI Rate, Dampaknya bagi Masyarakat yang Punya Utang Bank

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 16:11 WIB

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen

BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75 Persen

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 15:05 WIB

Cicilan KPR Semakin Berat Jika BI Naikkan Suku Bunga Acuan Hari Ini

Cicilan KPR Semakin Berat Jika BI Naikkan Suku Bunga Acuan Hari Ini

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 14:20 WIB

Rupiah Tembus Rp17.800, Bank Indonesia Diprediksi Tahan BI-Rate 5,75 Persen di RDG Juli 2026

Rupiah Tembus Rp17.800, Bank Indonesia Diprediksi Tahan BI-Rate 5,75 Persen di RDG Juli 2026

Bisnis | Rabu, 22 Juli 2026 | 07:35 WIB

Terkini

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Mentereng di AS, Mitchell Baker Punya Target Tampil di Premier League, Olimpiade, Piala Dunia

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Mantan Ketua DPR RI Marzuki Alie Minta Dialog soal Tunggakan PBB IGM Rp2,33 Miliar

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:40 WIB

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel United Kalah 0-1 dari Semen Padang, Gol Menit Akhir Buyarkan Asa Laskar Juaro Raih Poin

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:28 WIB

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:50 WIB

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

Jakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:47 WIB

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Bogor | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:31 WIB

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Video | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:15 WIB

×