- Harga minyak dunia di Asia menguat pada Jumat, 31 Juli 2026, dan mencatat kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret.
- Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi jangka panjang.
- Badan Informasi Energi AS mencatat persediaan minyak mentah komersial anjlok 7,2 juta barel menjadi 404,5 juta barel per 24 Juli 2026.
Suara.com - Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (31/7/2026) pagi di Asia dan berada di jalur kenaikan bulanan lebih dari 20 persen.
Kenaikan harga dipicu serangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memperluas konflik kawasan serta memicu kekhawatiran gangguan pasokan jangka panjang di Timur Tengah.
Mengutip dari Investing. com, harga minyak berjangka Brent untuk kontrak September naik 0,7 persen menjadi 89,64 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 0,6 persen ke posisi 84,06 dolar AS per barel.
Meski secara mingguan kedua patokan harga tersebut diperkirakan terkoreksi sekitar 7 persen akibat harapan pembicaraan damai di awal pekan, secara bulanan Brent dan WTI melonjak hampir 21 persen sepanjang Juli 2026, kenaikan bulanan tertinggi sejak Maret.
Eskalasi terbaru terjadi setelah serangan AS ke sasaran militer Iran dibalas dengan tembakan rudal ke posisi pasukan AS dan sekutu regionalnya.
![Terusan Suez. [AFP]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/04/07/83513-terusan-suez.jpg)
Pasar makin bergejolak setelah konflik meluas ke Mesir menyusul serangan drone misterius terhadap kapal gas di Pelabuhan Damietta dekat Terusan Suez, yang memicu kekhawatiran terganggunya rute energi utama menuju Eropa.
Di sisi lain, ancaman milisi Houthi di Laut Merah dan pengetatan lalu lintas Selat Hormuz oleh Iran mendorong Arab Saudi menggelar pembicaraan dengan perwakilan 43 negara untuk membentuk koalisi maritim guna mengamankan pelayaran kawasan.
Pasokan pasar kian mengetat setelah stok minyak mentah komersial AS merosot tajam melebihi perkiraan.
Data Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat persediaan minyak mentah AS berkurang 7,2 juta barel menjadi 404,5 juta barel per 24 Juli, yang merupakan level terendah sejak 2018.