- Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia mencatat pendapatan premi tertimbang mencapai Rp58,06 triliun pada semester pertama 2026.
- Industri asuransi jiwa membayar total klaim dan manfaat sebesar Rp75,57 triliun kepada 5,01 juta penerima.
- Ketua Dewan Pengurus Albertus Wiroyo menyatakan kinerja tersebut menunjukkan fundamental yang kuat di Gedung Grha AAJI.
Di sisi lain, segmen kumpulan mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni 11 persen menjadi Rp19,63 triliun. Pertumbuhan tersebut menunjukkan kebutuhan perlindungan asuransi tetap meningkat, baik melalui kepemilikan polis secara individu maupun skema perlindungan kumpulan.
Dari sisi distribusi, bancassurance masih menjadi kanal terbesar dengan pendapatan premi Rp41,58 triliun atau tumbuh 17,9 persen. Sementara itu, kanal keagenan meningkat 3,1 persen menjadi Rp28,67 triliun.
![Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo (tengah) di Gedung Grha AAJI, Senin (31/8/2026). [Suara.com/Rina A]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/09/01/18677-ketua-dewan-pengurus-aaji-albertus-wiroyo-tengah.jpg)
Perkembangan tersebut menunjukkan peran kemitraan dengan perbankan dan tenaga pemasar masih penting dalam memperluas akses masyarakat terhadap produk perlindungan asuransi jiwa.
Selain itu, pertumbuhan industri juga tercermin dari jumlah polis dan tertanggung. Hingga semester I 2026, jumlah polis asuransi jiwa mencapai 22,44 juta unit atau tumbuh 7,7 persen.
Kenaikan jumlah polis terjadi pada segmen perorangan dan kumpulan. Polis perorangan mencapai sekitar 22,06 juta unit, sedangkan polis kumpulan sekitar 384 ribu unit.
Sementara itu, jumlah tertanggung meningkat 24,8 persen menjadi 153,58 juta orang. Pertumbuhan terutama didorong oleh segmen tertanggung kumpulan yang naik 28,5 persen menjadi 131,20 juta orang.
Selain jumlah tertanggung, nilai perlindungan yang diberikan industri juga mengalami peningkatan. Total uang pertanggungan mencapai Rp8,02 ribu triliun atau tumbuh 10,1 persen.
"Segmen kumpulan menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan tersebut dengan uang pertanggungan meningkat 17,9 persen menjadi Rp5,44 ribu triliun," jelasnya.