- Kelompok Houthi Yaman meluncurkan rudal dan drone ke Arab Saudi pada awal pekan ini, merusak fasilitas penting.
- Negara-negara Teluk menunda perundingan damai dengan Iran, yang menyebabkan lonjakan harga minyak mentah global lebih dari empat persen.
- Badan Migrasi Internasional mencatat sebanyak 82.000 warga Yaman mengungsi akibat eskalasi pertempuran yang meluas sejak awal bulan.
Suara.com - Eskalasi militer di kawasan Timur Tengah semakin tidak terkendali setelah kelompok Houthi asal Yaman yang bersekutu dengan Iran melancarkan gelombang serangan baru ke wilayah Arab Saudi pada awal pekan ini.
Situasi makin memburuk menyusul keputusan negara-negara Teluk Arab yang menunda agenda perundingan damai dengan Iran, memicu kekhawatiran global akan meluasnya peta konflik serta terganggunya rantai pasokan minyak dunia.
Kelompok Houthi mengonfirmasi telah melepaskan puluhan rudal dan armada drone ke arah pangkalan udara militer di Khamis Mushait, wilayah selatan Arab Saudi.
Serangan presisi tersebut diklaim menargetkan hanggar pesawat, sistem radar, landasan pacu, serta gudang amunisi sebagai bentuk balasan atas operasi serangan udara Saudi di Yaman. Otoritas Kerajaan Arab Saudi langsung mengeluarkan peringatan darurat di lokasi kejadian serta tiga kota selatan lainnya.
Aksi militer ini terjadi hanya beberapa hari setelah serangan pada Jumat lalu yang merusak fasilitas pipa minyak East-West milik Saudi. Fasilitas pipa vital tersebut selama ini menjadi jalur alternatif utama bagi ekspor minyak Teluk untuk menghindari pemblokiran di Selat Hormuz.
Ekspansi Houthi di Laut Merah dan Tekanan Diplomatik AS
Selain menggempur wilayah tetangga, kelompok Houthi terus bergerak maju menguasai sejumlah kawasan strategis di Yaman. Pekan lalu, mereka berhasil merebut Pulau Perim yang berlokasi tepat di muara Selat Bab al-Mandab, akses masuk menuju Laut Merah.
Perkembangan ini menjadi ujian berat bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Di satu sisi, Washington menerima desakan kuat dari sekutu Teluk untuk membantu membendung pergerakan Houthi, namun di sisi lain AS berusaha menghindari pembukaan front pertempuran baru yang berskala besar.
Berdasarkan sumber internal, pihak Washington sejauh ini masih menolak permintaan Arab Saudi untuk melakukan intervensi militer langsung dan hanya membatasi dukungannya pada berbagi informasi intelijen. Sementara itu, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan telah menggelar pertemuan mendadak dengan Komandan Regional AS Laksamana Brad Cooper di Jeddah untuk membahas langkah mengamankan kawasan.
Eskalasi pertempuran juga memicu krisis kemanusiaan yang mendalam. Badan Migrasi Internasional (IOM) mencatat sedikitnya 82.000 warga Yaman melarikan diri dari wilayah konflik sejak awal bulan ini, termasuk dari kota pelabuhan bersejarah Mocha.
Pembahasan Selat Hormuz Batal, Pasar Minyak Bergejolak
Peluang penyelesaian diplomatik kian suram setelah Kesultanan Oman mengumumkan penundaan agenda pertemuan antara Iran dan negara-negara Teluk. Pertemuan yang semula dijadwalkan pada Senin tersebut dirancang untuk merumuskan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur maritim vital yang sebelum perang menyalurkan sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia. Pihak Iran menyebut pembatalan tersebut terjadi atas permintaan dari Arab Saudi.
Pihak Teheran melalui Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, Mohsen Rezaei, menegaskan sikap kerasnya lewat unggahan di media sosial X dengan menyatakan, "No talks until Iran's conditions are met."
Ketegangan geopolitik ini membuat harga minyak mentah melesat lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin sebelum menguat tipis di posisi 1 persen pada penutupan. Para pelaku pasar memperkirakan bahwa penutupan berkepanjangan pada jalur pipa East-West Saudi berpotensi memangkas hingga 4 persen dari total pasokan minyak global harian.
Situasi di koridor pelayaran maritim kian simpang siur akibat munculnya laporan yang bertolak belakang mengenai kerusakan kapal tanker komersial. Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim kapal tanker berbendera Panama, El Gaia, rusak akibat menerjang ranjau laut saat melintasi zona terlarang di selatan Selat Hormuz.
Namun, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) segera membantah klaim Teheran dan menyebut kapal tersebut sebenarnya telah lumpuh akibat dihantam rudal Iran sejak bulan lalu. Di sisi lain, Organisasi Maritim Internasional (IMO) mengonfirmasi El Gaia mengalami kerusakan pada Sabtu dengan dua awak kapal dilaporkan hilang.
Sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz praktis tertutup bagi lalu lintas kapal komersial tanpa izin resmi dari Iran. IRGC menegaskan akan tetap memegang kendali penuh atas jalur pelayaran tersebut.