- Krisis geopolitik melibatkan AS, Iran, dan beberapa negara Timur Tengah mengancam partisipasi Iran di Piala Dunia 2026.
- Kekerasan di Meksiko pasca kematian bos kartel memicu kekhawatiran keamanan tuan rumah, meskipun FIFA menyatakan kepercayaan.
- Boston, AS, terancam kehilangan laga karena sengketa pendanaan keamanan sebesar $7,8 juta untuk izin stadion.
Suara.com - Hanya 100 hari sebelum laga pembuka Piala Dunia 2026, awan ketidakpastian menyelimuti turnamen akbar tersebut.
Meksiko dijadwalkan menghadapi Afrika Selatan pada partai pembuka yang seharusnya menjadi awal pesta sepak bola selama lima pekan.
Namun, dengan waktu tersisa sedikit lebih dari tiga bulan, sejumlah persoalan krusial belum terselesaikan.
Dari tiga tuan rumah, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, hanya satu yang relatif bebas masalah.
Amerika Serikat, bersama Israel, tengah berperang dengan Iran yang juga merupakan peserta Piala Dunia 2026.
Iran dilaporkan membalas dengan meluncurkan rudal ke negara tetangga seperti Qatar dan Arab Saudi, yang juga akan tampil di turnamen musim panas ini.
Situasi tersebut memunculkan pertanyaan besar soal partisipasi Iran. Rumornya bahkan Iran bisa saja absen di Piala Dunia 2026.
![8 Masalah Paling Panas Piala Dunia 2026: Tiket Selangit, Parkir Mahal hingga Perang AS-Iran [Suara.com]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/03/87319-ilustrasi-piala-dunia-2026.jpg)
Jika Iran mundur atau didiskualifikasi, FIFA menghadapi dilema besar.
Opsi menjadikan Grup G hanya berisi tiga tim Belgia, Mesir, dan Selandia Baru dinilai kecil kemungkinan terjadi karena potensi kehilangan pemasukan hak siar dan sponsor.
Kemungkinan lain adalah mengganti Iran dengan tim lain.
Irak yang akan tampil di turnamen play-off akhir bulan ini bisa menjadi kandidat, terutama jika gagal lolos otomatis namun dinilai sebagai wakil Asia paling layak.
Jika Irak lolos, Uni Emirat Arab disebut-sebut berpeluang naik menggantikan.
Di tengah krisis geopolitik tersebut, korban sipil terus berjatuhan. Laporan terbaru menyebut angka kematian di Iran telah mencapai 787 orang dan terus bertambah.
Di Meksiko, situasi tak kalah genting. Kematian bos kartel Nemesio Ruben Oseguera Cervantes alias El Mencho memicu gelombang kekerasan, khususnya di Guadalajara yang menjadi salah satu kota tuan rumah.
Mobil dibakar, jalan diblokade, dan sejumlah bisnis dirusak.
Turis Amerika Serikat bahkan diminta berlindung di beberapa negara bagian Meksiko sebelum situasi berangsur kondusif.
“Tentu saja kami memantau situasi di Meksiko hari-hari ini, tetapi saya ingin menegaskan sejak awal bahwa kami memiliki kepercayaan penuh pada Meksiko, pada presidennya Claudia Sheinbaum, dan pada otoritas setempat,” ujar Presiden FIFA, Gianni Infantino.
“Kami yakin semuanya akan berjalan semulus mungkin,” tambah Infantino.
Masalah lain muncul di Boston, Amerika Serikat. Hingga kini, FIFA belum mengantongi izin hiburan untuk menggelar pertandingan di Foxboro, markas Gillette Stadium.
Dewan kota (menolak memberikan lisensi karena sengketa pendanaan keamanan.
Terdapat kekurangan dana sebesar 7,8 juta dolar AS atau setara Rp131,8 miliar yang belum jelas sumber penutupannya.
Select Board menegaskan beban tersebut tidak bisa ditanggung pemerintah lokal maupun pembayar pajak.
Sementara itu, Kraft Group selaku pemilik stadion dan panitia lokal belum memberikan solusi konkret.
Batas waktu ditetapkan hingga 17 Maret. Jika tak ada kesepakatan, pertandingan Piala Dunia 2026 terancam tidak digelar di Foxboro.
“Kami tidak siap mengeluarkan lisensi ini kecuali semuanya sudah beres. Banyak yang bilang tidak mungkin kami menolak, tapi saya tegaskan dewan ini tidak akan menerbitkan lisensi tanpa kepastian,” kata Wakil ketua Dewan Kota, Stephanie McGowan seperti dilansir dari 101greatgoals.
“Dananya harus ada. Kami kota kecil. Angka ini hampir 10 persen dari seluruh anggaran tahunan kami. Bagaimana mungkin kami mengeluarkan dana sebesar itu untuk FIFA yang datang 39 hari lalu pergi begitu saja?” ujarnya.
“Kami tidak bisa melakukan itu kepada pembayar pajak kami. Itu tidak bertanggung jawab,” tegas McGowan.
Kontributor: Adam Ali