- Majalah The Economist menggunakan kecerdasan buatan untuk menganalisis lirik lagu kebangsaan dari 48 negara peserta Piala Dunia 2026.
- Studi mengungkapkan Spanyol paling sering digambarkan sebagai antagonis karena sejarah kolonialisme yang memicu konflik di berbagai negara dunia.
- Sebagian besar lagu kebangsaan mengandung referensi kekerasan historis, sedangkan segelintir negara lainnya memilih tema perdamaian serta persatuan nasional.
Portugal tercatat sebagai negara dengan lagu kebangsaan paling militan.
Lagu tersebut memiliki sekitar 11 referensi kekerasan dalam setiap 100 kata, termasuk seruan terkenal Às armas yang berarti Angkat senjata!.
Negara lain seperti Prancis, Uruguay, dan Tunisia juga mempertahankan nuansa militeristik dalam lagu kebangsaannya.
Lirik mereka menonjolkan semangat perlawanan, pengorbanan, hingga martir demi tanah air.
Sebaliknya, beberapa negara memilih pendekatan yang lebih damai.
Lagu kebangsaan Jerman menekankan persatuan dan kebebasan, Jepang mengangkat tema waktu dan keabadian, sementara Kanada hampir tidak mengandung unsur konflik.
Untuk tuan rumah Piala Dunia 2026, Amerika Serikat dan Meksiko tetap menampilkan tema patriotisme dan perjuangan.
Namun, lagu kebangsaan Meksiko dinilai lebih konfrontatif karena lahir dari sejarah panjang invasi dan konflik wilayah.
Studi ini menunjukkan bahwa lagu kebangsaan bukan sekadar simbol seremonial, tetapi juga cerminan sejarah panjang sebuah bangsa, termasuk luka, perjuangan, dan identitas yang masih membekas hingga hari ini.