Alasan Aurelie Moeremans Tulis Broken Strings, Berdamai dengan Masa Lalu yang Pahit

Rabu, 14 Januari 2026 | 14:47 WIB
Alasan Aurelie Moeremans Tulis Broken Strings, Berdamai dengan Masa Lalu yang Pahit
Aurelie Moeremans (Instagram/aurelie)
Baca 10 detik
  • Buku Broken Strings ditulis sebagai bentuk terapi diri dan upaya berdamai dengan masa lalu, bukan untuk menyerang pihak tertentu.
  • Aurelie merilis buku ini secara gratis dalam format e-book untuk membantu sesama penyintas trauma dan meningkatkan kesadaran orang tua tentang grooming.
  • Menulis menjadi cara Aurelie menghadapi luka lama dan melepaskan beban batin demi menyambut kehidupan baru sebagai seorang ibu.

"Jujur aja, sempat kepikiran. Ada momen aku bertanya ke diri sendiri, 'apakah aku terlalu jauh?', 'apakah aku membuka sesuatu yang seharusnya diam saja?’" ungkap Aurelie.

Namun, keraguan itu sirna setiap kali dia menerima pesan dari pembaca, baik korban yang akhirnya berani bersuara maupun orang tua yang mulai memahami bahaya grooming.

"Di titik itu aku tahu, diam justru akan lebih menyakitkan. Jadi bukan berarti aku kebal, tapi aku sudah berdiri di tempat yang jelas, dan aku tahu kenapa aku melakukan ini," tegasnya.

Bagi Aurelie, polemik yang terjadi adalah bagian dari proses yang harus diterima.

Menolak "Menjual Trauma"

Salah satu hal yang unik dari perilisan "Broken Strings" adalah formatnya yang berupa e-book gratis. Padahal, dengan atensi sebesar ini, potensi komersialnya sangat tinggi.

Aurelie menekankan bahwa sejak awal, niatnya murni untuk berbagi, bukan mencari keuntungan materi dari kisah pilunya.

"Karena dari awal tujuanku bukan komersial. Bahkan ebook pun aku rilis gratis karena jujur aku tidak ingin ada kesan 'menjual trauma'," jelas perempuan yang tengah menanti kelahiran anak pertamanya tersebut.

Keputusan untuk akhirnya menaikkan naskah ini ke versi cetak baru diambil belakangan, setelah melihat permintaan pembaca yang ingin menjadikan buku tersebut pegangan fisik atau hadiah bagi orang terdekat.

Baca Juga: Kak Seto Lulusan Apa? Profil Psikolog Anak yang Ramai Dikaitkan dengan Kasus Aurelie

"Di situ aku sadar, versi fisik itu bukan soal jualan, tapi soal keberlanjutan dan akses yang lebih luas," tambahnya.

Proses Pulih yang Belum Selesai

Banyak yang mengira Aurelie menulis buku ini karena sudah sepenuhnya sembuh dari trauma. Nyatanya, proses penulisan yang memakan waktu berbulan-bulan secara intens itu justru adalah terapinya.

Aurelie mengaku banyak memori yang selama bertahun-tahun dia simpan rapat dan anggap "selesai", ternyata masih bersarang di tubuhnya.

"Menulis membuat aku berhenti menyalahkan diri sendiri. Jadi buku ini bukan bukti bahwa aku sudah sembuh, tapi bukti bahwa aku berani menghadapi lukanya," tuturnya.

Kini, di tengah masa kehamilannya, Aurelie merasakan energi positif yang luar biasa. Bukan dari viralnya berita, melainkan dari rasa "lega" dan hilangnya beban yang selama ini dia pikul sendirian.

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI