- 300 figur publik berkumpul di Kemang pada 4 Maret 2026 untuk Iftar FoP ke-3 demi konsistensi advokasi Palestina.
- Acara ini mengumpulkan donasi sekitar Rp130 juta yang 100% akan disalurkan untuk kebutuhan warga di Jalur Gaza.
- Gerakan seperti "Tanah Para Nabi" berkolaborasi menyuarakan isu kemanusiaan Palestina melalui karya seni dan media digital.
Suara.com - Sebanyak 300 artis dan kreator konten berkumpul dalam acara "Iftar Bersama Friends of Palestine (FoP) ke-3" di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pada Rabu, 4 Maret 2026.
Pertemuan ini bertujuan menjaga konsistensi dukungan terhadap kemerdekaan Palestina yang kini mulai meredup dari pemberitaan global pasca-gencatan senjata.
Pimpinan Eksekutif Friends of Palestine, Rayyan Abdallah, menyatakan bahwa fokus utama gerakan ini adalah menyatukan para figur publik untuk memperkuat advokasi dan kesadaran masyarakat.
Melalui konsep "Digital Sumud" atau keteguhan hati di ruang digital, para pesohor diharapkan tetap konsisten menyuarakan isu kemanusiaan.
"Hal paling penting adalah persatuan para influencer dan selebritas. Friends of Palestine fokus pada advokasi dan kesadaran tentang Palestina melalui peran mereka, termasuk musisi juga," kata Rayyan kepada awak media saat ditemui usai acara.
"Jadi, iftar ini menyatukan semua influencer dan selebritas di bawah satu payung, 'Iftar Bersama Rakyat Palestina'," sambungnya lagi.
Rayyan menambahkan bahwa kehadiran ratusan figur publik tersebut didasari oleh satu visi yang sama mengenai hak kemerdekaan.
![Chiki Fawzi dan Bella Fawzi bersama Tanah Para Nabi Movement serta Friend of Palestine dalam acara buka puasa di kawasan Kemang, Jakarta Selatan pada Rabu, 4 Maret 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/03/05/83557-chiki-fawzi-dan-bella-fawzi-bersama-tanah-para-nabi-movement-serta-friend-of-palestine.jpg)
"Hal yang paling penting sudah terjadi, alhamdulillah, program ini sudah sukses. Malam ini kita ada 300 influencer dan selebritas di tempat ini. Semua selebritas dan influencer datang ke acara iftar ini karena mereka percaya pada satu hal, yaitu kemerdekaan untuk Palestina," tegasnya.
Selain menjadi ajang silaturahmi, acara ini juga berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp130 juta melalui sesi lelang dan sumbangan sukarela. Seluruh dana tersebut akan disalurkan langsung untuk membantu kebutuhan warga di Jalur Gaza.
"Hasil donasi insya Allah mungkin sekitar Rp130 juta. Dan hasil donasi ini semua 100 persen buat rakyat Palestina, rakyat Gaza, buat buka puasa di sana, insya Allah. Nanti kalau implementasi sudah selesai, kita dokumentasikan ke media semua buat bukti implementasi," jelas Rayyan.
Isu Palestina sendiri memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan Indonesia. Secara historis, Palestina merupakan salah satu pihak awal yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1945.
Hal ini menjadi landasan moral bagi banyak seniman lokal untuk terus memberikan dukungan melalui gerakan kreatif seperti "Tanah Para Nabi".
Perwakilan gerakan Tanah Para Nabi, artis Bella Fawzi, menjelaskan bahwa kolaborasi kreatif ini telah dimulai sejak tahun 2024 untuk menjaga agar isu penjajahan tidak tenggelam.
"Tanah Para Nabi Movement ini adalah satu gerakan yang isinya adalah campuran musisi, influencer, para seniman yang peduli terhadap isu Palestina," jelas Bella Fawzi dalam kesempatan yang sama.
"Sebenarnya tuh Tanah Para Nabi Movement itu isinya banyak. Jadi waktu itu kita pada tahun 2024 ya, sama Kak Fia sama Kak Anisa Theresia, jadi kita bertiga tuh kayak rembukan bikin lagu judulnya 'Tanah Para Nabi'," sambungnya.
Proyek kolaborasi ini melibatkan deretan nama besar di industri musik Tanah Air dari berbagai genre untuk memperluas jangkauan pesan damai ke masyarakat luas.
"Jadi ada Chiki, ada Kak Lala Karmela, ada Rebecca Reijman, ada Dira Sugandi, ada Mas Fadly Padi, masih tahu semua lah ya, terus ada Teh Melly Goeslaw, Eka Deli, terus ada Endah Widiastuti, Sandhy Sondoro, Kojek Rap Betawi, Nada Sikkah, iya betul penyanyi Arab gitu ya. Dari berbagai macam genre kita berhasil mengadakan kolaborasi itu," tutur Bella merinci.
Putri pertama Ikang Fawzi dan Marissa Haque ini menekankan bahwa dukungan terhadap Palestina bukan sekadar aksi sesaat, melainkan tanggung jawab berkelanjutan karena alasan historis dan kemanusiaan.
"Ke depannya kita kepengin bisa bikin kolaborasi yang lebih berdampak dan lebih masif lagi. Karena selama Palestina itu masih dijajah, selama itu juga kita harus terus bersuara. Karena dulu Indonesia juga enggak bisa merdeka kalau enggak didukung oleh Palestina, guys," lanjutnya.
Dia juga menambahkan bahwa profesi sebagai seniman memberikan ruang untuk terus melakukan edukasi kepada publik melalui karya-karya nyata.
"Kita sebenarnya sih pengin terus menyebarkan awareness ya, dan juga terus menyuarakan melalui karya. Karena kami sebagai musisi, yang kami bisa lakukan adalah ya melalui karya kami bersuara," ucap Bella.
Meski gencatan senjata telah diumumkan, Rayyan Abdallah mengingatkan bahwa kondisi di lapangan masih kritis dan membutuhkan perhatian serius karena proses rekonstruksi Gaza akan memakan waktu lama.
"Kondisi Palestina masih sama, enggak ada update. Walaupun di sana ada gencatan senjata, tapi pengeboman masih di sana, hancuran masih di sana. Bantuan-bantuan kami masuk, tapi alhamdulillah rakyat Palestina masih memiliki ketangguhan di sana," cerita Rayyan.
"Kami masih menunggu rakyat Indonesia menyuarakan suara dan perasaan mereka untuk hukum internasional. Kami juga menunggu pemerintah Indonesia untuk mendukung rakyat Palestina dan membawa kemerdekaan dari sungai hingga ke laut (from the river to the sea)," tambahnya.
Bella Fawzi menutup dengan harapan agar suatu saat para musisi Indonesia bisa membawakan karya mereka langsung di Palestina yang sudah merdeka.
"Ya pastinya mau banget ya. Kalau kami ada kesempatan ke sana dan langsung bertemu ya, insya Allah Palestina merdeka, amin. Pengin sampai ke sana, pengin bawain langsung. Tapi selagi kita di sini, kita tetap menyuarakan lewat musik, lewat lagu, lewat media sosial, apapun yang bisa kita lakukan," pungkasnya.