Januari, Empat Orang Meninggal karena DBD di Bali

Arsito Hidayatullah | Suara.com

Sabtu, 06 Februari 2016 | 02:01 WIB
Januari, Empat Orang Meninggal karena DBD di Bali
Ilustrasi nyamuk penyebar virus Dengue. [Shutterstock]

Suara.com - Dinas Kesehatan Provinsi Bali pada Januari 2016 mencatat empat pasien meninggal dunia akibat terserang demam berdarah dengue setelah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di kabupaten/kota di daerah itu.

"Kasus meninggal akibat DBD ini pada umumnya terjadi karena terlambat mendapatkan penanganan di fasilitas kesehatan, baik itu klinik atau puskesmas maupun rumah sakit," kata Kepala Bidang P2PL Dinkes Bali, dr Gede Wira Sunetra, di Denpasar, Jumat.

 
Ia mengatakan, empat kasus kematian akibat DBD itu, terhitung dari 910 kasus penyakit yang tersebar di sembilan kabupaten/kota di Bali.

Kasus DBD tertinggi terjadi di Kabupaten Buleleng sebanyak 262 kasus, Gianyar (245), Tabanan (104), Karangasem (95), Badung (92), Jembrana (56), Bangli (23), Denpasar (19) dan Klungkung (14).

Sedangkan, empat kasus kematian akibat DBD, masing-masing terjadi di Kabupaten Buleleng, Gianyar, Jembrana dan Denpasar.

"Dibandingkan tahun sebelumnya pada periode yang sama kasus DBD di Tahun 2016 mengalami penurunan," ujarnya.

Untuk kasus DBD pada Januari 2015 tercatat sebanyak 1.001 kasus. Oleh sebab itu, kasus DBD di Bali belum dapat dikatakan Kasus Luar Biasa (KLB).

"KLB terjadi apabila jumlah kasusnya meningkat dua kali lipat pada bulan yang sama di tahun sebelumnya," ujarnya.

Upaya pencegahan penyakit itu, kata dia, perlu adanya peran serta seluruh elemen masyarakat untuk melakukan pembrantasan sarang nyamuk (PSN) di lingkungannya masing-masing.

Selain PSN, penting juga hindari gigitan dengan menggunakan lotion anti nyamuk serta menanam lavender atau tamanam pengusir nyamuk lainnya seperti lidah buaya.

"Juga bisa memasang kelambu agar nyamuk tidak bisa masuk ke ruangan," katanya.

Ia menambahkan, pihaknya sudah menurunkan petugas juru pemantau jentik (Jumantik) ke masing-masing rumah untuk rutin melaporkan apabila ada jentik nyamuk agar angka bebas jentik (ABJ) dapat diketahui.

"Standarnya, ABJ harus diatas 95 persen baru bisa menekan dan mengendalikan atau menurunkan angka DBD secara bermakna," ujarnya. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Musim DBD, Ahok Minta Warganya Perhatikan Genangan Air

Musim DBD, Ahok Minta Warganya Perhatikan Genangan Air

News | Jum'at, 05 Februari 2016 | 11:07 WIB

Anak Terkena DBD? Ini Pertolongan Pertamanya

Anak Terkena DBD? Ini Pertolongan Pertamanya

Health | Rabu, 20 Januari 2016 | 17:48 WIB

Musim Hujan, Waspadai Demam Berdarah

Musim Hujan, Waspadai Demam Berdarah

Health | Rabu, 13 Januari 2016 | 08:10 WIB

Peneliti Australia Temukan Cara Unik Perangi DBD

Peneliti Australia Temukan Cara Unik Perangi DBD

Health | Kamis, 02 April 2015 | 13:20 WIB

Terkini

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 21:10 WIB

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 18:54 WIB

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 14:42 WIB

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 12:31 WIB

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Health | Kamis, 16 April 2026 | 16:45 WIB

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Health | Rabu, 15 April 2026 | 19:14 WIB

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Health | Rabu, 15 April 2026 | 15:33 WIB

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Health | Selasa, 14 April 2026 | 09:26 WIB

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Health | Selasa, 14 April 2026 | 08:37 WIB

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Health | Senin, 13 April 2026 | 06:15 WIB