Malas Gerak, Salah Satu Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia

Ririn Indriani

Minggu, 27 November 2016 | 15:54 WIB
Malas Gerak, Salah Satu Penyebab Kematian Terbanyak di Dunia
Ilustrasi. (Shutterstock)

Suara.com - Anda mungkin sedang membaca tulisan ini sambil bersantai di tempat duduk atau sambil tiduran di kasur. Mungkin Anda juga sudah duduk atau tiduran sejak beberapa jam lalu.

Cobalah untuk mengingat-ingat, kapan Anda bangkit dari tempat duduk dan melakukan aktivitas fisik tertentu? Jika Anda kesulitan mengingatnya, bisa jadi Anda adalah salah satu dari ratusan juta penduduk dunia yang menjalani gaya hidup sedentari atau yang sering juga disebut malas gerak (mager).
   
Apa itu gaya hidup sedentari?
Gaya hidup sedentari adalah pola perilaku manusia yang minim aktivitas atau gerakan fisik. Biasanya mereka yang menjalani gaya hidup sedentari adalah pekerja kantoran yang hampir sepanjang hari duduk di balik meja kerja.

Perjalanan menuju kantor dari rumah pun biasanya ditempuh dengan kendaraan umum atau pribadi yang berarti Anda juga akan duduk sepanjang jalan.
Sesampainya di rumah setelah bekerja seharian, banyak pekerja kantoran yang akan langsung beristirahat di sofa, kasur, atau kursi malas untuk melepas lelah.
Jika Anda sering memanfaatkan layanan pembelian barang, makanan, atau jasa secara online, apa pun yang Anda butuhkan akan langsung diantar ke depan pintu rumah Anda.

Selain itu, banyak orang saat ini memilih untuk mengakses layanan perbankan online, misalnya untuk transfer uang atau membayar tagihan. Sementara pada zaman dahulu, orang-orang harus berjalan keluar rumah untuk menyelesaikan berbagai urusan tersebut.

Inilah yang menyebabkan generasi muda sering dicap sebagai orang-orang yang malas gerak.

Salah satu penyebab kematian terbanyak

Malas gerak adalah kebiasaan yang perlu diubah. Namun, bagi beberapa orang kebiasaan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas harian sehingga mereka terlanjur merasa nyaman.

Anda mungkin memang tak akan merasakan langsung risiko dari gaya hidup sedentari. Dampak dari gaya hidup sedentari baru akan mulai terasa bertahun-tahun setelah Anda terbiasa menjalani rutinitas tersebut.

Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, gaya hidup sedentari adalah salah satu dari 10 penyebab kematian terbanyak di dunia. Selain itu, data yang dilaporkan oleh European Prospective Investigation into Cancer and Nutrition (EPIC) pada 2008 menunjukkan bahwa kematian akibat kebiasaan malas gerak jumlahnya dua kali lebih banyak dibandingkan kematian karena obesitas.

Jika gaya hidup sedentari diikuti dengan pola makan yang tidak seimbang dan kebiasaan tidak sehat seperti merokok atau minum alkohol, Anda pun berisiko mengalami lebih banyak masalah kesehatan.

Lantas, apa saja risiko kesehatan yang rentan dialami pada orang-orang yang malas bergerak? Berikut penjelasan yang dihimpun oleh hellosehat.com:

1. Konsentrasi menurun
Ketika Anda bekerja sambil duduk, tulang belakang Anda akan jadi tegang karena terlalu lama membungkuk atau melengkung. Oleh karenanya, paru-paru Anda tidak akan mendapatkan cukup ruang untuk mengembang cukup besar.

Jika paru-paru Anda terhimpit, seluruh tubuh Anda akan menerima kadar oksigen yang lebih sedikit. Apalagi karena sirkulasi juga akan terganggu kalau Anda tidak cukup bergerak.

Kurangnya oksigen yang diterima otak bisa menyebabkan turunnya konsentrasi. Bekerja pun jadi lebih sulit kalau Anda tidak fokus.

2. Meningkatkan risiko stroke dan serangan jantung
Sebuah studi yang dilakukan oleh Aerobics Research Center di Amerika Serikat menunjukkan bahwa aktivitas fisik mampu mengurangi risiko stroke pada lelaki hingga sebesar 60 persen.

Penelitian lain yang diterbitkan dalam Nurses’ Health Study membuktikan bahwa perempuan yang cukup bergerak atau beraktivitas fisik memiliki peluang terhindar dari stroke dan serangan jantung sebesar 50 persen. Maka, Anda yang terlalu sering duduk bekerja atau bermalas-malasan di depan layar komputer memiliki risiko cukup besar mengalami stroke.

3. Gangguan fungsi kognitif
Anda yang menjalani gaya hidup sedentari atau malas gerak cenderung lebih mudah mengalami berbagai gangguan fungsi kognitif dalam jangka panjang. Kurangnya aktivitas fisik menyebabkan fungsi otak menurun.

Aktivitas fisik mampu merangsang aliran darah yang penuh oksigen menuju otak serta memperbaiki sel dan jaringan otak yang mulai rusak. Bergerak dan berolahraga juga akan menumbuhkan berbagai sel saraf baru dalam otak. Hal ini membuat otak semakin tajam dan daya ingat semakin kuat.

4. Menyebabkan resistensi insulin
Kalau Anda menghabiskan kira-kira 70 persen dari waktu Anda seharian dengan duduk dan tiduran, Anda berisiko mengalami resistensi insulin. Kondisi ini menyebabkan meningkatnya kadar gula dalam darah sehingga peluang Anda terserang diabetes pun meningkat.

Apalagi biasanya sambil duduk atau tiduran, orang-orang cenderung mencari camilan yang kurang sehat. Camilan tersebut bisa jadi mengandung gula yang sangat tinggi, misalnya es krim, permen, cokelat, atau minuman kemasan yang manis.

5. Memicu osteoporosis
Tubuh manusia sudah dirancang sedemikian rupa untuk terus bergerak secara aktif untuk bisa bertahan diri. Otot dan tulang Anda harus dilatih setiap hari agar tetap sehat dan kuat. Kebiasaan malas gerak akan membuat Anda kehilangan massa otot.

Kepadatan tulang juga akan berkurang drastis. Jika dibiarkan, kondisi tersebut akan mengarah pada osteoporosis. Akibatnya, menjalani aktivitas sehari-hari pun jadi lebih sulit karena Anda semakin lemas dan cepat lelah.

Cara Mudah Agar Tubuh Lebih Banyak Bergerak
Anda bisa menghindari risiko-risiko yang diakibatkan oleh kebiasaan malas gerak dengan cara meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari. Simak berbagai trik agar Anda tetap bisa memenuhi kebutuhan gerak tubuh setiap hari, meskipun Anda harus bekerja di hadapan layar komputer.

1. Cari standing desk atau meja yang cukup tinggi supaya Anda bisa bekerja sambil berdiri jika sudah kelamaan duduk di kursi.
2. Sambil mencari ide atau inspirasi saat bekerja, Anda bisa berjalan kaki mengitari gedung kantor atau di sekitar meja kerja Anda selama beberapa menit.
3. Jika Anda naik kendaraan umum seperti kereta atau bus, usahakan untuk berdiri daripada duduk sepanjang perjalanan.
4. Parkir kendaraan atau turun dari kendaraan umum di perhentian yang lebih jauh dari biasanya, lalu berjalan kakilah menuju kantor.
5. Daripada memesan barang-barang di toko online, pergilah dan berburu barang-barang yang Anda cari di pusat perbelanjaan.
6. Sempatkan untuk berolahraga selama satu jam setiap hari, baik di pagi hari atau sepulang kerja
7. Membersihkan rumah bisa menjadi aktivitas fisik yang cukup berat, misalnya menyapu, mengepel lantai, atau mencuci pakaian dengan tangan

 

 

 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Awas! Sering Duduk Terlalu Lama Tingkatkan Risiko Osteoporosis

Awas! Sering Duduk Terlalu Lama Tingkatkan Risiko Osteoporosis

Health | Kamis, 20 Oktober 2016 | 19:58 WIB

Terlalu Lama Duduk, Awas Diincar Ambeien!

Terlalu Lama Duduk, Awas Diincar Ambeien!

Health | Senin, 17 Oktober 2016 | 13:17 WIB

Awas, WC Duduk Tingkatkan Risiko Wasir!

Awas, WC Duduk Tingkatkan Risiko Wasir!

Health | Minggu, 16 Oktober 2016 | 19:45 WIB

Terkini

Suhu 'Neraka Bocor' Bakal Muncul di Negara Tetangga Terdekat RI di Tahun 2027

Suhu 'Neraka Bocor' Bakal Muncul di Negara Tetangga Terdekat RI di Tahun 2027

News | Minggu, 13 September 2026 | 12:23 WIB

Bukan Cuma Soal Listrik, PLTP Gunung Ungaran Berpotensi Buka Bisnis Baru

Bukan Cuma Soal Listrik, PLTP Gunung Ungaran Berpotensi Buka Bisnis Baru

Bisnis | Minggu, 13 September 2026 | 12:20 WIB

Cari Wangi Vanilla yang Gak Bikin Pusing? Coba 5 Rekomendasi Body Mist Ini!

Cari Wangi Vanilla yang Gak Bikin Pusing? Coba 5 Rekomendasi Body Mist Ini!

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 12:20 WIB

Heboh Pelat Mobil 'BK 54 NGE' di Medan, Pemilik Kendaraan Ditilang

Heboh Pelat Mobil 'BK 54 NGE' di Medan, Pemilik Kendaraan Ditilang

Sumut | Minggu, 13 September 2026 | 12:16 WIB

Berapa Honor Manggung Juicy Luicy? Viral usai Batal Tampil gara-gara Masalah Bagasi

Berapa Honor Manggung Juicy Luicy? Viral usai Batal Tampil gara-gara Masalah Bagasi

Entertainment | Minggu, 13 September 2026 | 12:10 WIB

Edarkan Narkoba Buat Modal Nikah, Pria di Deli Serdang Ditangkap Polisi

Edarkan Narkoba Buat Modal Nikah, Pria di Deli Serdang Ditangkap Polisi

Sumut | Minggu, 13 September 2026 | 12:09 WIB

Iran Siapkan 7 Syarat Ketat ke AS Sebelum Membuka Kembali Jalur Pelayaran Selat Hormuz

Iran Siapkan 7 Syarat Ketat ke AS Sebelum Membuka Kembali Jalur Pelayaran Selat Hormuz

News | Minggu, 13 September 2026 | 12:07 WIB

Polisi Bekukan Rekening Jaringan Penyelundupan Narkoba Pilot Malaysia Airlines di Bandara Soetta

Polisi Bekukan Rekening Jaringan Penyelundupan Narkoba Pilot Malaysia Airlines di Bandara Soetta

News | Minggu, 13 September 2026 | 12:05 WIB

MotoGP Mandalika 2026 Target Rp5 Triliun, Intip Kesiapan Sirkuit dan Teknologi di Baliknya

MotoGP Mandalika 2026 Target Rp5 Triliun, Intip Kesiapan Sirkuit dan Teknologi di Baliknya

Otomotif | Minggu, 13 September 2026 | 12:02 WIB

Holding UMi 5 Tahun, dari Akses Menuju Kesejahteraan

Holding UMi 5 Tahun, dari Akses Menuju Kesejahteraan

Malang | Minggu, 13 September 2026 | 12:01 WIB

×