Tak Semua Stadium Kanker Perlu Kemoterapi

Chaerunnisa, Firsta Nodia

Rabu, 14 Juni 2017 | 05:28 WIB
Tak Semua Stadium Kanker Perlu Kemoterapi
Ilustrasi simbol penderita kanker. (Shutterstock)

Suara.com - Sebagian dari Anda tentu berpikir kemoterapi merupakan satu-satunya cara mengatasi kanker. Padahal, tak semua stadium kanker membutuhkan penanganan kemoterapi.

Dr. dr. Nugroho Prayogo, SpPD-KHOM, Spesialis penyakit dalam Konsulen Hemato Onkologi Medis RS Kanker Dharmais Jakarta, mengunkapkan, penanganan kemoterapi kerap digunakan sebagai metode lanjutan usai tindakan operasi pengangkatan tumor.

"Karena kalau hanya operasi saja, risiko kekambuhan memang kecil, tapi tetap ada. Jadi beberapa dokter melakukan kemoterapi dengan tujuan sel kankernya yang masih tersisa bisa dimatikan," ujar dia pada temu media di Jakarta, Selasa (14/6/2017).

Pemberian kemoterapi pada jenis kanker stadium dini dianggap berlebihan. Sehingga, justru dapat meningkatkan risiko pertumbuhan sel kanker baru di organ lainnya. Untuk itu, dia mengimbau pemberian kemoterapi harus melihat manfaat dan risikonya.

"Jangan sampai kemoterapi hanya menyisakan kebotakan dan efek samping lainnya yang membuat pasien tidak nyaman, tapi sel kankernya tidak benar-benar mati," imbuh dia.

Lebih lanjut, dr Nugroho mengungkapkan, obat kemoterapi pada dasarnya tak hanya bersifat merusak sel kanker, tapi juga merusak sel yang sehat. Untuk itu, penting bagi para dokter memastikan sifat kanker yang diderita si pasien tergolong ganas atau jinak.

"Ada beberapa metode untuk menilai keganasan kanker pada stadium dini, di antaranya faktor klinis dan patologis. Itu yang saat ini ada, tapi akurasinya memang tidak sebagus pemeriksaan secara genomis," imbuhnya.

Dalam kesempatan sama, Ahmad Rusdan H. Utomo PhD, Peneliti Utama Divisi Penelitian Genetik Kanker Stem Cell & Cancer Institute Kalbe Farma, memperkenalkan metode mutakhir untuk mendeteksi keganasan kanker payudara pada stadium dini yakni 'mammaprint'.

Melalui pemeriksaan genomis ini, dokter bisa menilai aktivitas gen-gen yang memengaruhi sifat keganasan kanker. Hasil tes ini akan menentukan apakah pasien perlu mendapatkan kemoterapi atau tidak.

baca juga

"Jadi hasil tes ini akan menggolongkan sifat kanker yang diderita pasien dalam dua kelompok risiko, yakni low risk dan high risk. Kalau low risk tidak perlu diberikan kemoterapi karena justru dapat memicu pertumbuhan sel kanker baru," tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Hebat! Lelaki Penderita Kanker Ini "Taklukkan" Gunung Everest

Hebat! Lelaki Penderita Kanker Ini "Taklukkan" Gunung Everest

Health | Selasa, 13 Juni 2017 | 08:00 WIB

Dua Artis Meninggal Akibat Kanker, Ini Pentingnya Deteksi Dini

Dua Artis Meninggal Akibat Kanker, Ini Pentingnya Deteksi Dini

Health | Minggu, 11 Juni 2017 | 13:59 WIB

Wah, Bawang Merah Pekat Bisa Bunuh Sel Kanker

Wah, Bawang Merah Pekat Bisa Bunuh Sel Kanker

Health | Jum'at, 09 Juni 2017 | 10:21 WIB

Dikira Ruam Biasa, Perempuan Ini Idap Kanker Payudara Langka

Dikira Ruam Biasa, Perempuan Ini Idap Kanker Payudara Langka

Health | Minggu, 04 Juni 2017 | 18:00 WIB

Terkini

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 15:05 WIB

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:18 WIB

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Bikin Anak Berani Berekspresi, Isi Libur Sekolah dengan Aktivitas Ini

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 18:38 WIB

Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga

Kenalan dengan HYROX, Fitness Race yang Sedang Digandrungi Komunitas Olahraga

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 17:06 WIB

Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung

Mudah Lelah dan Sesak Napas Bisa Jadi Tanda Kebocoran Katup Jantung

Health | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:15 WIB

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 20:10 WIB

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern

Health | Jum'at, 26 Juni 2026 | 13:45 WIB

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 21:17 WIB

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan

Health | Kamis, 25 Juni 2026 | 19:13 WIB

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif

Health | Rabu, 24 Juni 2026 | 17:15 WIB

×