Studi: Nanopartikel Emas Berguna Obati Kanker Paru

Dythia Novianty, Risna Halidi

Selasa, 08 Agustus 2017 | 12:34 WIB
Studi: Nanopartikel Emas Berguna Obati Kanker Paru
Nanopartikel emas. [Shutterstock]

Suara.com - Sebuah penelitian baru-baru ini, dikatakan jika bintik-bintik kecil yang ada dalam emas bisa digunakan sebagai senjata perang melawan kanker.

Dikutip dari The Independent, sekelompok peneliti baru saja menyelesaikan penelitian yang menunjukkan bahwa logam mulia tersebut meningkatkan efektivitas obat yang digunakan untuk mengobati sel kanker paru-paru. Potongan-potongan kecil, yang dikenal sebagai nanopartikel emas, telah terbungkus rapi dalam perangkat kimia tim peneliti.

Meskipun belum diuji pada manusia, diharapkan alat semacam ini dapat digunakan untuk mengurangi efek samping dari perawatan kemoterapi dan tepat dalam menargetkan sel yang sakit tanpa merusak jaringan sehat.

Emas sendiri merupakan unsur kimia yang aman dan memiliki kemampuan untuk mempercepat atau mengkatalisis reaksi kimia.

Para peneliti menemukan sifat logam yang memungkinkan kemampuan katalitik ini diakses pada makhluk hidup tanpa efek samping. Perangkat ini terbukti efektif setelah ditanamkan pada otak seekor ikan zebra dan menunjukkan bahwa obat ini dapat digunakan pada hewan hidup.

Penelitian sendiri dilakukan bekerja sama antara para peneliti di University of Zaragoza`s Institute of Nanoscience of Aragon di Spanyol, Dengan dana yang berasal dari Cancer Research UK (CRUK) dan Dewan Riset Teknik dan Ilmu Pengetahuan Alam.

"Kami telah menemukan sifat baru dari emas yang sebelumnya tidak diketahui dan temuan kami menunjukkan bahwa logam tersebut dapat digunakan untuk melepaskan obat-obatan di dalam tumor dengan sangat aman," ujar Dr Asier Unciti-Broceta, dari University of Edinburgh's CRUK Edinburgh Center.

Menurutnya, masih ada pekerjaan yang harus dilakukan sebelum bisa menggunakannya pada pasien.

"Kami berharap perangkat serupa pada manusia suatu hari bisa ditanamkan oleh ahli bedah untuk mengaktifkan kemoterapi secara langsung pada tumor dan mengurangi efek berbahaya pada organ tubuh yang sehat," ucap dia.

baca juga

Petugas informasi ilmu pengetahuan senior Dr. Aine McCarthy mengungkapkan, dengan mengembangkan cara baru yang lebih baik dalam memberikan obat kanker, penelitian seperti ini berpotensi memperbaiki pengobatan kanker dan mengurangi efek samping.

"Secara khusus, dapat membantu memperbaiki pengobatan tumor otak dan kanker yang sulit diobati lainnya" katanya.

Dr. McCarthy menambahkan jika langkah selanjutnya adalah melihat apakah metode ini aman digunakan pada manusia dan apakah ada efek samping jangka panjang atau jangka pendek.

"Dan apakah itu cara yang lebih baik untuk mengobati beberapa jenis kanker," ujar dia.

Penelitian ini telah dipublikasikan dalam Jurnal Angewandte Chemie. [Zeenews]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Obat Baru Kanker Ini Punya Efek Samping Tak Terduga

Obat Baru Kanker Ini Punya Efek Samping Tak Terduga

Health | Senin, 24 Juli 2017 | 11:12 WIB

Imunoterapi, Metode Terkini Atasi Kanker Paru

Imunoterapi, Metode Terkini Atasi Kanker Paru

Health | Jum'at, 16 Juni 2017 | 14:27 WIB

6 Jenis Kanker Paling Mematikan di Indonesia

6 Jenis Kanker Paling Mematikan di Indonesia

Health | Selasa, 04 Oktober 2016 | 09:28 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:00 WIB

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 19:05 WIB

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis  Redakan Wasir dengan Cara Alami

Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami

Health | Minggu, 14 Juni 2026 | 15:55 WIB

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun

Health | Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:18 WIB