Ini Perbedaan antara Fast Food dan Junk Food

Kamis, 24 Agustus 2017 | 07:48 WIB
Ini Perbedaan antara Fast Food dan Junk Food
Ilustrasi fast food dan junk food (Shutterstock)

Suara.com - Seringkali kita menyamakan definisi fast food atau makanan cepat saji dengan junk food atau makanan sampah. Padahal, keduanya memiliki perbedaan dari segi gizi dan bentuknya.

Guru Besar Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor (IPB), Profesor Ali Khomsan, menjelaskan perbedaan dari dua kelompok makanan ini. Fast food, kata dia, merujuk pada makanan cepat saji yang tinggi kandungan garam dan lemak, namun rendah serat.

"Fast food hadir karena adanya revolusi industri dimana orang bekerja dalam waktu lama namun waktu istirahat sangat terbatas. Awal mulanya berupa snack bar tapi kini bentuknya sudah beragam mulai dari ayam goreng, pizza, burger, dan lainnya," jelas Prof Ali pada sesi Journalist Goes to Campus bersama Danone di Bogor, Rabu (23/8/2017).

Seiring dengan semakin banyaknya pasangan yang bekerja, dan waktu untuk mengolah makanan di rumah menjadi terbatas, industri Fast Food pun meningkat. Kandungan natrium dalam bentuk MSG yang tinggi dalam makanan cepat saji membuat orang menjadi ketagihan.

"Itu sebabnya di negara maju, konsumsi fast food menyumbang kasus obesitas yang sangat tinggi, ditambah minuman pendampingnya yakni minuman bersoda yang mengandung banyak gula," ungkapnya.

Lalu, berapa kali idealnya mengonsumsi fast food yang tergolong aman bagi kesehatan? Prof Ali mengatakan, tentu saja konsumsi fast food yang terlalu sering akan menimbulkan masalah bagi kesehatan. Namun, jika dilakukan dalam frekuensi satu hingga dua kali dalam sebulan, cukup aman bagi kesehatan.

"Yang penting jangan pumya semboyan tiada hari tanpa fast food. Di Indonesia kita ke fast food kalau ke mal saja, misal sekali dua kali dalam sebulan saya rasa tidak masalah," imbuhnya.

Sedangkan junk food atau makanan sampah, merujuk pada makanan tinggi kalori namun zat gizinya rendah atau bahkan tidak ada contohnya keripik. Itu sebabnya Prof Ali mengimbau agar masyarakat pintar memilih jenis makanan yang akan dikonsumsi.

"Jadi segala macam keripik-keripik dan snack masuk ke junk food. Kalau mau snack yang relatif sehat itu kacang-kacangan, karena kalorinya rendah, tapi tinggi protein," tandasnya.

Baca Juga: Hati-hati! Bahaya Mengintai di Balik Pembungkus "Fast Food"

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI