Kenali, Ragam Penyebab dan Cara Pencegahan Kanker Tiroid

M. Reza Sulaiman | Vessy Dwirika Frizona | Suara.com

Jum'at, 19 Oktober 2018 | 14:21 WIB
Kenali, Ragam Penyebab dan Cara Pencegahan Kanker Tiroid
Kenali penyebab dan cara mecegah kanker tiroid. (Shutterstock)

Suara.com - Kanker tiroid masih menjadi salah satu jenis penyakit kanker yang bisa menyebabkan kematian pada manusia. Sayangnya, informasi soal kanker tiroid belum banyak diketahui kalangan awam.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD, KHOM, FACP mengatakan kanker tiroid bisa menyerang siapa saja. Untuk itu penting mengenali gejala, penyebab, dan penanggulangan kanker tiroid bagi pasien.

“Gaya hidup sehat merupakan kunci terhadap pencegahan terkena kanker tiroid yang lebih banyak menyerang gender wanita, mereka yang terkena pajanan terhadap radiasi berkekuatan tinggi, dan sindrom genetika yang diturunkan. Jika kanker tiroid ditemukan, pengobatan yang tersedia meliputi pembedahan, yodium radioaktif, hormon tiroid, radioterapi luar, kemoterapi atau dengan terapi target atau sasaran khusus,” ujar Prof. Aru.

Dr. Hapsari Indrawati, SpKN, dalam diskusi ilmiah soal kanker tiroid belum lama ini, menyebutkan bahwa menurut data American Cancer Society 2007, terdapat 33.550 kasus baru kanker tiroid dalam setahun, dengan 1.530 menyebabkan kematian. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah penderita kanker tiroid terus meningkat, meski jumlah kematian akibat kanker tiroid relatif stabil.

Saat seseorang terkena kanker tiroid, maka akan mengganggu hormon tiroid dan menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Hipertiroidisme adalah kondisi ketika kadar hormon tiroksin di dalam tubuh sangat tinggi. Hal ini menyebabkan hiperaktivitas atau hiperiritasi, penderita menjadi tidak tahan udara panas, jantung berdetak cepat, lekas lelah dan lemah, turunnya berat badan meski nafsu makan naik, diare, poliuria atau meningkatnya buang air kecil secara berlebih, menstruasi tidak teratur, dan hilangnya libido.

Sementara itu, hipotiroidisme adalah kondisi di mana kelenjar tiroid tidak membuat hormon tiroid dengan cukup. Tanda-tandanya tubuh lekas lelah dan lemah, kulit kering, merasa kedinginan terus, rambut rontok, sulit konsentrasi dan daya ingat berkurang, konstipasi, berat badan bertambah meski nafsu makan berkurang, suara serak, menstruasi tidak teratur, sensasi abnormal berupa kesemutan, tertusuk, atau terbakar pada kulit, gangguan pendengaran, muka sembab, turunnya refleks urat, jari tangan mengalami sensasi kesemutan, mati rasa, atau nyeri, denyut jantung dibawah 60 per menit, dan adanya penumpukan cairan diantara dua lapisan pleura yang membungkus paru-paru.

Lebih lanjut Prof. Aru menerangkan tentang sejumlah faktor makanan yang memicu dan dapat meningkatkan risiko kanker. Alkohol misalnya, dapat mempengaruhi kesehatan mulut, tekak, pangkal tenggorokan saluran kerongkongan, hati, payudara, usus besar dan dubur; sementara garam yang berlebih berpengaruh terhadap kesehatan lambung; gula yang berlebih terhadap usus besar dan dubur; daging yang dipanggang dengan arang berkemungkinan berpengaruh terhadap usus besar dan dubur; lemak total dan lemak jenuh berpengaruh terhadap kesehatan paru-paru, usus besar, dubur, payudara dan prostat.

Adapun faktor makanan yang berhubungan dengan pengurangan risiko kanker meliputi makanan berserat yang bermanfaat bagi kesehatan kolorektal, pankreas dan payudara; asam folik untuk kesehatan serviks dan kolorektal; Vitamin D dan kalsium untuk kolorektal dan payudara; antioksidan baik yang bersifat nutrisi dan non-nutrisi dari makanan baik untuk kesehatan kolorektal, paru-paru, payudara, serviks, prostat, kerongkongan dan lambung; vitamin C yang bersumber dari makanan untuk kesehatan mulut, kerongkongan, paru-paru, lambung, pankreas dan serviks; the (flavonoids) baik untuk kesehatan paru-paru dan kolorektal; dan zat Alpha-tocopherol baik untuk paru-paru; serta isoflavon kedelai untuk kesehatan payudara. Sedangkan penyebab kanker lainnya termasuk rokok (160.000 dari 514.000 kematian karena kanker disebabkan oleh rokok); kurang berolah raga; dan obesitas.

Sementara itu DR. dr. Sonar S. Panigoro yang membawakan topik mengatakan, penanganan tumor padat diawali dari penemuan klinis, biopsi dan imajing untuk diagnosis kanker, dilanjutkan dengan penentuan stadium, penentuan jenis pengobatan apakah dilanjutkan dengan bedah, radiasi, atau hormonal kemoterapi.

"Namun berdasarkan pengalaman, sebagian besar benjolan tiroid bersifat jinak, dan hanya 10% - 15% yang ganas sehingga perlu tindakan pembedahan," ujarnya.

DR. Sonar menjelaskan bahwa benjolan tiroid yang tidak ditangani pada pasien dengan riwayat radiasi leher dengan usia muda atau lanjut, benjolan dapat bertambah besar, terjadi pembesaran kelenjar getah bening leher, suara serak, dan mengalami kesulitan makan dan minum.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Yuk Intip Pola Hidup Chelsea Islan untuk Cegah Kanker

Yuk Intip Pola Hidup Chelsea Islan untuk Cegah Kanker

Health | Jum'at, 19 Oktober 2018 | 07:30 WIB

Sembuh dari Leukimia berkat Berpikir Positif

Sembuh dari Leukimia berkat Berpikir Positif

Health | Rabu, 17 Oktober 2018 | 11:15 WIB

Ternyata Bayi Baru Lahir Pun Bisa Kena Kanker

Ternyata Bayi Baru Lahir Pun Bisa Kena Kanker

Health | Rabu, 17 Oktober 2018 | 10:00 WIB

Kenali Gejala Leukimia pada Anak dengan 3P, Sebelum Terlambat

Kenali Gejala Leukimia pada Anak dengan 3P, Sebelum Terlambat

Health | Selasa, 16 Oktober 2018 | 16:00 WIB

Ketahui, 6 Jenis Kanker yang Paling Banyak Menyerang Anak

Ketahui, 6 Jenis Kanker yang Paling Banyak Menyerang Anak

Health | Selasa, 16 Oktober 2018 | 16:00 WIB

Terkini

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 13:52 WIB

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar

Health | Kamis, 14 Mei 2026 | 12:59 WIB

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 18:25 WIB

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan

Health | Rabu, 13 Mei 2026 | 17:00 WIB

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 22:34 WIB

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 17:02 WIB

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 16:59 WIB

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:56 WIB

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:05 WIB

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?

Health | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:46 WIB