Kisah Traumatis Ibu di Singapura, Bayinya Lahir Berwarna Biru

Irwan Febri Rialdi | Shevinna Putti Anggraeni
Kisah Traumatis Ibu di Singapura, Bayinya Lahir Berwarna Biru
Ilustrasi bayi sakit (Pexels)

Seorang wanita menceritakan pengalaman persalinan pertamanya yang membuat trauma karena tubuh bayinya membiru dan tidak bisa bernapas.

Suara.com - Setiap wanita yang melahirkan pasti ingin mendengarkan suara tangisan bayinya. Sebab, tangisan itu menandakan bahwa bayi lahir dengan selamat dan bisa bernapas.

Namun, trauma persalinan justru dialami seorang ibu asal Singapura, Michelle Kee, ketika melahirkan anak sulungnya yang bernama Vera.  Anak tersebut lahir sangat hening tanpa tangisan.

Bayi Michelle Kee tidak bisa bernafas. Selain itu, tubuh bayi juga terlihat berwarna biru ketika lahir ke dunia. Wanita 30 tahun itu merasa sangat sedih melihat kondisi bayinya.

"Bayi saya tidak menangis bahkan ketika dokter mencoba memberinya oksigen agar bisa bernapas. Saya perhatian kulitnya biru karena kekurangan oksigen," ujar Michelle Kee dikutip dari asiaone.com.

Karena bayinya menghirup mekonium sebelum lahir, anak sulungnya yang diberi nama Vera dibawa ke Unit Perawatan Intensif Neonatal (NICU). Sehingga, Michelle Kee tidak bisa langsung menggendong anaknya.

Sebagai informasi, Mekonoium adalah tinja hitam lengket yang pertama kali dikeluarkan oleh bayi baru lahir. Kotoran itu telah memasuki saluran udara dan paru-paru Vera.

Ilustrasi bayi baru lahir. (Shutterstock)
Ilustrasi bayi baru lahir. (Shutterstock)

Menurut dr Joseph Manuel Gomez, kepala dan konsultan senior di NICU di KK Women's and Children's Hospital mengatakan sebagian besar bayi mengeluarkan tinja itu dalam 24 jam pertama setelah dilahirkan.

Namun, beberapa bayi yang mengalami stres sebelum atau selama persalinan dapat memasukkan mekoniumnya ke dalam cairan ketuban sebelum mereka lahir.

Cairan ketuban adalah cairan bening dan tidak berwarna yang mengelilingi bayi dalam rahim. Stres juga bisa menyebabkan bayi yang belum lahir untuk menghasilkan gerakan terengah-engah saat dalam kandungan atau ketika dia akan lahir.

Akibatnya, ia bisa menghirup cairan ketuban yang terkontaminasi. Kondisi ini dikenal sebagai sindrom aspirasi mekonium (MAS).

Persalinan pertama Michelle tampak lancar sampai bidan memecahkan kantung airnya selama tahap akhir persalinan dan menemukan kotoran dalam cairan ketuban.

Ilustrasi bayi sakit (Pexels)
Ilustrasi bayi sakit (Pexels)

Namun, hal yang terjadi selanjutnya bagaikan mimpi buruk bagi Michelle. Persalinannya yang lancar selama 12 jam tiba-tiba berstatus darurat medis.

Ketika dia berjuang melahirkan, tiba-tiba detak jantung anaknya turun yang menunjukkan bahwa bayinya dalam kesulitan. Akhirnya, dokter pun menggunakan forsep agar bayi lebih cepat keluar.

"Pada waktu itu saya tidak tahu bahwa ada kemungkinan bayi yang belum lahir menghirup cairan ketuban yang terkontaminasi sebelum lahir dan itu adalah masalah serius," ujarnya.

MAS merupakan kondisi berbahaya bagi bayi yang baru lahir karena mengganggu pernapasannya. Kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi, antara lain menghasilkan kadar oksigen yang rendah.

Kekurangan oksigen ke otak dapat menyebabkan kematian hingga keterlambatan perkembangan. Menurut dr Gomez sendiri, bayi dengan MAS serius memerlukan bantuan alat pernapasan.

Sekitar lima persen bayi mengembangkan penyakit paru-paru kronis, yakni suatu kondisi yang terkait dengan peningkatan risiko mengi dan infeksi dada pada tahun pertama kehidupannya.

Bayi-bayi ini juga membutuhkan tindak lanjut jangka panjang untuk memeriksa pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS