Saat Bermain, Bayi dan Orang Dewasa Mengalami Aktivitas Otak yang Sama

Yasinta Rahmawati | Suara.com

Kamis, 16 Januari 2020 | 08:00 WIB
Saat Bermain, Bayi dan Orang Dewasa Mengalami Aktivitas Otak yang Sama
Ilustrasi orang dewasa dan balita. (Pixabay)

Suara.com - Pernahkah Anda bermain dengan bayi dan merasakan koneksi, meskipun mereka belum bisa berbicara dengan Anda? Penelitian baru menunjukkan bahwa Anda mungkin secara harfiah berada "pada gelombang yang sama". Di mana diketahui keduanya mengalami aktivitas otak sama di daerah otak yang sama.

Dirangkum dari Medical Express, sebuah tim peneliti Princeton telah melakukan studi pertama tentang bagaimana otak bayi dan orang dewasa berinteraksi selama bermain. 

Mereka menemukan kesamaan yang terukur dalam aktivitas saraf. Dengan kata lain, aktivitas otak bayi dan dewasa naik dan turun bersama saat mereka berbagi mainan dan kontak mata.

Penelitian ini dilakukan di Princeton Baby Lab, tempat para peneliti Universitas mempelajari bagaimana bayi belajar melihat, berbicara dan memahami dunia.

"Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa otak orang dewasa bersinkronisasi ketika mereka menonton film dan mendengarkan cerita, tetapi sedikit yang diketahui tentang bagaimana 'sinkronisasi saraf' ini berkembang pada tahun-tahun pertama kehidupan," kata Elise Piazza, seorang sarjana peneliti di Princeton Neuroscience Institute (PNI) dan penulis pertama utama penelitian.

Ilustrasi orang dewasa dan balita. (Pixabay)
Ilustrasi orang dewasa dan balita. (Pixabay)

Penelitian melibatkan 42 bayi dan balita, di mana orang dewasa yang sama harus berinteraksi dengan mereka. Peneliti kemudian mengumpulkan data dari 57 saluran otak yang diketahui terlibat dalam prediksi, pemrosesan bahasa dan memahami perspektif orang lain.

Ketika mereka melihat data, para peneliti menemukan bahwa selama sesi tatap muka, otak bayi disinkronkan dengan otak orang dewasa di beberapa bidang yang diketahui terlibat dalam pemahaman tingkat tinggi dunia.

Pemahaman tersebut membantu anak-anak menerjemahkan makna keseluruhan cerita atau menganalisis motif orang dewasa yang membacanya kepada mereka.

Ilustrasi balita akrab dengan orang asing di bandara.(Pexels/rawpixel)
Ilustrasi balita akrab dengan orang asing di bandara.(Pexels/rawpixel)

"Saat berkomunikasi, orang dewasa dan anak tampaknya membentuk lingkaran umpan balik," tambah Piazza. "Jadi, ketika bayi dan orang dewasa bermain bersama, otak mereka saling mempengaruhi secara dinamis," lanjutnya.

Pendekatan dua otak untuk ilmu saraf ini dapat membuka pintu untuk memahami bagaimana menggabungkan mode pengasuhan dalam perkembangan atipikal.

Contohnya seperti pada anak-anak yang didiagnosis dengan autisme. Serta bagaimana pendidik dapat mengoptimalkan pendekatan pengajaran mereka untuk mengakomodasi beragam otak anak-anak.

Para peneliti terus menyelidiki bagaimana kaitan saraf ini dengan pembelajaran bahasa awal anak-anak prasekolah.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jangan Diabaikan, Kesehatan Mental Ibu Hamil Bisa Pengaruhi Otak Bayi!

Jangan Diabaikan, Kesehatan Mental Ibu Hamil Bisa Pengaruhi Otak Bayi!

Health | Kamis, 10 Oktober 2019 | 15:15 WIB

Menurut Studi, Wanita Perlu Tidur Lebih Lama Ketimbang Pria

Menurut Studi, Wanita Perlu Tidur Lebih Lama Ketimbang Pria

Lifestyle | Senin, 22 Juli 2019 | 10:22 WIB

Bumil Sering Cekcok dengan Suami? Awas Risiko Ini Menimpa Janin

Bumil Sering Cekcok dengan Suami? Awas Risiko Ini Menimpa Janin

Health | Sabtu, 16 Desember 2017 | 21:10 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Health | Rabu, 01 April 2026 | 10:55 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB