Ini Mengapa Orang Masih Berkeliaran Saat Pandemi Corona Covid-19

Bimo Aria Fundrika, Lilis Varwati

Rabu, 25 Maret 2020 | 12:30 WIB
Ini Mengapa Orang Masih Berkeliaran Saat Pandemi Corona Covid-19
Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (23/3) lengang karena banyak warga memilih di rumah aja untuk menurunkan risiko penularan virus Corona Covid-19. [ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso

Suara.com - Pandemi virus corona Covid-19 telah memaksa manusia untuk membatasi kontak dengan lingkungan luar dan tetap di dalam rumah. Namun sebagian orang masih mengabaikan imbaun tersebut tanpa memedulikan risiko penularan virus corona.

Di Amerika Serikat bahkan festival musim semi tetap digelar dan banyak orang memadati pantai. Mengapa sebenarnya orang tidak menganggap serius ancaman virus corona? 

Tim Gordon Asmundson, seorang profesor psikologi di Universitas Regina di Saskatchewan, sedang mempelajari bagaimana faktor-faktor psikologis berdampak pada penyebaran dan respons terhadap Covid-19. 

Penumpang KRL. [Instagram/@jktinfo]
Ilustrasi penumpang KRL mengenakan masker untuk mengurangi risiko penularan virus Corona Covid-19, tapi kalau berjubel begini efektifkah? [Instagram/@jktinfo]

Melansir laman CNN, menurut Asmundson, manusia bisa dibedakan menjadi tiga kelompok berdasarkan responsnya terhadap pandemi. Yaitu, menanggapi berlebihan, kurang menanggapi, dan mereka yang berada di antara keduanya. 

Para penanggap berlebih diidentikkan dengan perilaku panic buying. Mereka takut tidak bisa keluar rumah karena penyebaran virus corona. Sehingga menimbun banyak makanan bahkan hingga tumpukan kertas toilet.

Sementara orang-orang yang kurang menanggapi, mereka tidak mematuhi pedoman kesehatan bahkan menganggap dirinya kebal. Mereka juga tidak mengikuti jarak sosial karena merasa tidak akan sakit. 

Padahal telah disosialisasikan bahwa berkumpul di tengah orang banyak hanya meningkatkan risiko seseorang terpapar.

Membatasi kontak dengan orang lain adalah satu-satunya cara untuk memperlambat penyebaran virus corona baru.

Namun bagi sebagian orang, viris Corona Covid-19 tampak seperti masalah yang hanya ditanggung oleh kota-kota berpenduduk padat atau negara asing. 

baca juga

Masyarakat di negara Barat mengabaikan nasihat untuk tetap di rumah. Itu karena terlalu membingungkan, kata Steven Taylor, seorang psikolog klinis dan penulis "The Psychology of Pandemics," sebuah pandangan bersejarah tentang bagaimana orang merespons krisis semacam itu.

Orang yang tinggal di lingkungan kecil, di mana infeksi tidak menyebar atau petugas tidak memberlakukan lockdown mungkin kurang mau menjauhkan diri dari orang lain, jelas Taylor. 

"Orang-orang meremehkan pentingnya, mungkin karena mereka tidak melihat orang-orang di lingkungannya terkena virus," kata Taylor. 

Beberapa negara bagian Barat, khususnya AS, dikenal sangat menghargai kebebasan individu. Selama pandemi, pola pikir itu bisa berakibat fatal bagi mereka yang paling rentan, kata Taylor. Mereka hidup dengan penyakit yang tak terlihat. 

Itu sebabnya petugas kesehatan hingga selebriti meminta masyarakat untuk tetap di rumah. Bukan untuk dirinya sendiri tetapi demi keselamatan orang lain

Kelompok ketiga, yakni orang kesulitan melakukan social distancing. Hal tersebut bisa sangat sulit bagi orang tua yang memiliki risiko kematian lebih tinggi akibat depresi dan kesepian. 

Mereka mungkin kurang mau menggunakan alat teknologi, seperti FaceTime atau Zoom video conferencing, untuk berkomunikasi. 

"Kami makhluk sosial," kata Asmundson. "Kami juga memiliki banyak kebebasan. Sulit untuk membuat perubahan yang diminta." 

Jadi bisakah mereka dibujuk untuk tetap di dalam? Itulah yang sedang dipelajari Asmundson untuk mencari tahu dengan mengidentifikasi faktor-faktor psikologis. Pesan itu bisa rumit, kata psikolog.  

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lokal Pride! Nih Tutorial Cuci Tangan yang Tepat ala Kraton Jogja

Lokal Pride! Nih Tutorial Cuci Tangan yang Tepat ala Kraton Jogja

Jogja | Rabu, 25 Maret 2020 | 10:47 WIB

Cerita Randy, Dokter Muda yang Kini Jadi Garda Terdepan Lawan Corona

Cerita Randy, Dokter Muda yang Kini Jadi Garda Terdepan Lawan Corona

News | Rabu, 25 Maret 2020 | 10:39 WIB

Gemas! Restoran Tutup Akibat Corona, Anak Menangis Harus Makan Masakan Ibu

Gemas! Restoran Tutup Akibat Corona, Anak Menangis Harus Makan Masakan Ibu

News | Rabu, 25 Maret 2020 | 10:51 WIB

Terkini

Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih

Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih

Health | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:54 WIB

Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat,  Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional

Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional

Otomotif | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:50 WIB

Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026

Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026

Bola | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:42 WIB

Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah

Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:34 WIB

Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi

Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi

News | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:31 WIB

MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan

MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan

Otomotif | Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:07 WIB

Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap

Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap

Lifestyle | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:38 WIB

Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta

Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta

Jatim | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:30 WIB

Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal

Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal

Sumbar | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:24 WIB

Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda

Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda

Lampung | Sabtu, 25 Juli 2026 | 21:19 WIB

×