Tak Bisa Asal, BPOM AS Buat Panduan Khusus Untuk Rapid Test Corona Covid-19

Bimo Aria Fundrika | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Rabu, 06 Mei 2020 | 10:23 WIB
Tak Bisa Asal, BPOM AS Buat Panduan Khusus Untuk Rapid Test Corona Covid-19
Ilustrasi rapid test virus Corona Covid-19. (Shutterstock)

Suara.com - Tak Bisa Asal, BPOM AS Buat Panduan Khusus Untuk Rapid Test Corona Covid-19.

Pemeriksaan cepat atau rapid test untuk virus corona atau Covid-19 kini semakin menjamur. Meski tidak bisa mendiagnosis secara pasti seperti tes PCR, banyak perusahaan medis yang membuat dan memproduksi alat tes ini.

Permintaan banyak datang dari masyarakat umum dan bukan dari pihak berwenang.

Akibat hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) memperketat aturan rapid test yang diperjualbelikan. Di mana perusahaan yang menjual dan memproduksinya harus memiliki laporan keakuratan alat, dalam 10 hari kerja.

Petugas medis mengamati sampel darah dari pekerja yang mengikuti rapid test atau pemeriksaan cepat COVID-19 di Aula Serba Guna Kementerian Tenaga Kerja, Jakarta, Jumat (1/5). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]
Petugas medis mengamati sampel darah dari pekerja yang mengikuti rapid test atau pemeriksaan cepat COVID-19 di Aula Serba Guna Kementerian Tenaga Kerja, Jakarta, Jumat (1/5). [ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat]

Meski keadaan saat ini darurat, namun karena banyak perusahaan yang menjualnya, aturan ini harus dikuti perusahaan demi memenuhi standar akurasi pengecekan rapid test.

Aturan baru ini berbeda dari sebelumnya, di mana FDA mengizinkan perusahaan menjual rapid test atau tes antibodi Covid-19. Aturan mempersilakan kepada mereka untuk memvalidasi data mereka sendiri, tanpa harus mengikuti tinjauan FDA.

Akibatnya sejumlah alat tes ditemukan cacat atau menunjukkan data yang tidak akurat.

"Kami menyayangkan perilaku yang tidak bermoral menjual alat tes dan melakukan kecurangan, dengan memanfaatkan masa pandemi untuk mencari keuntungan," kata FDA mengutip Live Science, Selasa (5/5/2020).

Dengan adanya aturan ini, FDA mengatakan apabila dari 10 hari perusahaan tidak mengirimkan laporan keakuratan rapid test maka FDA akan ambil tindakkan menyita seluruh alat tes di pasaran.

Rapid test sendiri memang bisa menunjukkan apabila seseorang sebelumnya telah terinfeksi Covid-19. Tapi sayangnya, karena pembentukkan antibodi memerlukan waktu, menjalani rapid test akan percuma jika baru terinfeksi Covid-19 kurang dari 7 hari setelah terpapar. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ini 3 Metode Tes Deteksi Virus Corona Menurut Pakar

Ini 3 Metode Tes Deteksi Virus Corona Menurut Pakar

News | Selasa, 05 Mei 2020 | 12:37 WIB

Hipoksia Termasuk Komplikasi Corona Covid-19 Mematikan, Ini Tanda Umumnya!

Hipoksia Termasuk Komplikasi Corona Covid-19 Mematikan, Ini Tanda Umumnya!

Health | Selasa, 05 Mei 2020 | 12:28 WIB

Diklaim 100 Persen Akurat, Tes Antibodi Covid-19 Ini Siap Dirilis 2 Minggu

Diklaim 100 Persen Akurat, Tes Antibodi Covid-19 Ini Siap Dirilis 2 Minggu

Tekno | Selasa, 05 Mei 2020 | 11:30 WIB

Terkini

Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat

Transformasi Operasi Lutut: Teknologi Robotik hingga Protokol ERAS Dorong Pemulihan Lebih Cepat

Health | Senin, 20 April 2026 | 06:32 WIB

Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat

Konflik Global Memanas, Menkes Dorong Ketahanan Farmasi Nasional dan Stabilitas Harga Obat

Health | Sabtu, 18 April 2026 | 21:33 WIB

Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama

Rahasia Produk Kesehatan Laris di Marketplace: Review Positif Jadi Penentu Utama

Health | Sabtu, 18 April 2026 | 12:00 WIB

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 21:10 WIB

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 18:54 WIB

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 14:42 WIB

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 12:31 WIB

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Health | Kamis, 16 April 2026 | 16:45 WIB

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Health | Rabu, 15 April 2026 | 19:14 WIB

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Health | Rabu, 15 April 2026 | 15:33 WIB