Apa Itu Dysbiosis, Masalah Kesehatan yang Kerap Dialami Anak?

Risna Halidi

Senin, 15 Juni 2020 | 18:21 WIB
Apa Itu Dysbiosis, Masalah Kesehatan yang Kerap Dialami Anak?
Ilustrasi anak sakit. (Shutterstock)

Suara.com - Anak-anak terutama anak usia 1-3 tahun dan anak usia prasekolah (3-5 tahun) rentan mengalami masalah kesehatan seperti kekurangan atau kelebihan nutrisi yang berakibat salah satunya dysbiosis atau gangguan keseimbangan mikrobiota usus.

"Masalah gizi menyebabkan gangguan sistem kekebalan tubuh anak dan gangguan keseimbangan mikrobiota usus atau dysbiosis," kata pakar gizi medik, Prof. Saptawati Bardosono dalam konferensi pers virtual, Senin (15/6/2020).

Dia menjelaskan, dysbiosis akan menurunkan kekebalan tubuh anak terhadap masuknya kuman-kuman penyakit, misalnya yang menyebabkan ISPA dan diare.

Dilansir Suara.com dari Antara, penyakit ini dialami lebih dari 10 persen anak di masa toddler dan prasekolah. Padahal, saluran cerna adalah organ kekebalan tubuh terbesar, yakni meliputi 80 persen sistem kekebalan tubuh.

Data Global Nutrition Reports 2017 menunjukkan, isu nutrisi utamanya stunting, kelebihan berat badan hingga kegemukan dan anemia baik secara sendiri-sendiri atau kombinasi masih merupakan tantangan global,

"Anak-anak usia 1-5 tahun di 29 negara termasuk Indonesia menghadapi masalah terkait nutrisi kombinasi ketiganya yang dikenal istilah triple burden of malnutrition," tutur Saptawati.

Stunting karena kekurangan zat gizi makro yakni kalori dan protein, lalu obesitas karena kelebihan zat gizi makro, kalori dan anemia karena kekurangan zat gizi mikro yaitu mineral dan vitamin.

"Anak usia toddler dan prasekolah lebih rentan terhadap ISPA dan diare yang dapat berdampak ulang pada masalah gizi anak sehingga membentuk suatu lingkaran setan," demikian kata Saptawati.

Laman Healthline menyebutkan, gejala dysbiosis tergantung di mana ketidakseimbangan bakteri berkembang. Namun gejala umumnya antara lain: bau mulut (halitosis), sakit perut, mual, sembelit, diare, kembung, nyeri dada, ruam atau kemerahan, kelelahan, kesulitan berpikir atau berkonsentrasi, dan gelisah.

baca juga

Menurut Saptawati, perbaikan asupan gizi baik makro dan mikro melalui asupan masukan sehari-hari, jenisnya menjadi solusi mencegah dysbiosis. Selain itu, pemberian probiotik juga bisa menjadi cara berikutnya.

"Untuk mencegah terjadinya dysbiosis perlu juga pemberian asupan probiotik atau bakteri baik contohnya Lactobacillus rhamnosus, yang akan berikan efek immunomodulatorry, karena menyeimbangkan mikrobiota usus, mencegah dysbiosis," ujar dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tak Diduga, 5 Barang Dapur Ini Bisa Berbahaya Bagi Imunitas Tubuh

Tak Diduga, 5 Barang Dapur Ini Bisa Berbahaya Bagi Imunitas Tubuh

Lifestyle | Senin, 15 Juni 2020 | 14:41 WIB

Hadapi New Normal, Ahli Nutrisi Bagikan 5 Cara Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Hadapi New Normal, Ahli Nutrisi Bagikan 5 Cara Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Health | Minggu, 14 Juni 2020 | 13:59 WIB

Studi: Infeksi Parasit Pengaruhi Tingkat Mikrobioma Gastrointestinal

Studi: Infeksi Parasit Pengaruhi Tingkat Mikrobioma Gastrointestinal

Health | Sabtu, 13 Juni 2020 | 18:44 WIB

Terkini

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan: Botol Plastik Bekas Bisa Disulap Jadi Pakaian Olahraga

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 23:01 WIB

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Dewa United Bukan Lawan Biasa, Shin Tae-yong Minta Persija Hati-hati

Bola | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:54 WIB

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Kapolresta Bogor Kota Minta Maaf atas Insiden Intimidasi Videografer

Jabar | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:50 WIB

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

IVES 2026 Soroti EEC, Pengukuran Dampak Ekonomi Industri Event

Jakarta | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:47 WIB

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Sudah Tunjukkan ID Card Tapi Tetap Diamankan, Jurnalis di Bogor Sempat Diminta Hapus Video

Bogor | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:43 WIB

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Kasus Polisi Diduga Bunuh Ibu Kandung di Siak, Riwayat Skizofrenia Terungkap, Kompolnas Turun Tangan

Sumsel | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:31 WIB

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Bahlil Curiga LNG Indonesia ke Singapura Dijual Lagi, Ada Apa?

Video | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:15 WIB

Pendapatan Barito Pacific Melonjak 56%, Laba Bersih Tembus US$616 Juta

Pendapatan Barito Pacific Melonjak 56%, Laba Bersih Tembus US$616 Juta

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:09 WIB

Floral, Fruity, atau Woody? Kenali Karakter Aroma Sebelum Memilih Parfum

Floral, Fruity, atau Woody? Kenali Karakter Aroma Sebelum Memilih Parfum

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 22:08 WIB

Cegah Balap Liar! JLNT Antasari Ditutup Tiap Akhir Pekan Mulai 14 November

Cegah Balap Liar! JLNT Antasari Ditutup Tiap Akhir Pekan Mulai 14 November

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 21:59 WIB

×