Array

Koneksinya Ngebut, Tapi Jaringan 5G Bisa Timbulkan Dampak Kesehatan

Kamis, 09 Juli 2020 | 11:10 WIB
Koneksinya Ngebut, Tapi Jaringan 5G Bisa Timbulkan Dampak Kesehatan
Ilustrasi tentang teknologi jaringan 5G (Shutterstock).

Suara.com - Genarasi kelima atau teknologi nirkabel 5G mulai digunakan di seluruh dunia sejak tahun 2019. Jaringan 5G ini menawarkan konektivitas yang lebih cepat alias ngebut dan bandwidth lebih besar, sehingga memiliki kecepatan pengunduhan lebih tinggi.

Tapi, jaringan 5G ini memiliki sedikit efek kesehatan potensial dan radiasi frekuensi radio lebih tinggi dibandingkan 4G, karena tergolong masih sangat baru.

Subham Dasgupta, pascadoktoral yang bekerja di lab Roby Tanguay di Oregon State, Amerika Serikat pun mulai melakukan penelitian tentang dampak kesehatan dari jaringan 5G. Subhan mengaku mulanya tim penelitinya tidak berpikir radiasi 5G itu berbahaya.

"Berdasarkan penelitian kami, kami tidak berpikir radiasi 5G itu berbahaya, ini jinak," kata Subham Dasgupta dikutip dari Medical Express.

Para peneliti pun melakukan penelitian menggunakan embrio zebrafish, sebuah model organisme yang sering digunakan untuk menemukan interaksi antara stresor lingkungan dan sistem biologis.

Ilustrasi jaringan 5G. (Shutterstock)
Ilustrasi jaringan 5G. (Shutterstock)

Karena, ikan zebra dan manusia memiliki proses perkembangan dan tingkat genomik yang serupa, artinya penelitian pada ikan zebra ini bisa diterapkan pada manusia.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal PLOS ONE, para peneliti mengekspos embrio zebrafish atau ikan zebra selama 2 hari hingga 3,5 GHz frekuensi radio, frekuensi yang biasanya digunakan dalam ponsel dengan jaringan 5G.

Peneliti tidak menemukan dampak signifikan pada kematian, proses embrio terbentuk atau respons perilaku embrio terhadap cahaya. Peneliti menemukan dampak sederhana pada tes yang mengukur respons embrio terhadap bunyi tiba-tiba.

Penelitian berikutnya juga akan melihat efek radiasi jaringan 5G pada ikan zebra yang sama. Studi itu digunakan dalam penelitian tingkat gen dan saat mereka berkembang dari embrio hingga dewasa.

Baca Juga: Peneliti Temukan Obat Kumur Bisa Bunuh Virus Corona

Para peneliti juga ingin mempelajari dampak frekuensi dan tingkat paparan yang lebih tinggi pada ikan zebra untuk mengimbangi perubahan industri ponsel.

Penelitian berikutnya juga akan menggunakan set eksperimental standar yang sama seperti penelitian sekarang ini. Mereka akan menggunakan kotak yang terbuat dari tembaga.

Kemudian embrio ikan zebra akan ditempatkan di piring dan dimasukkan ke dalam kotak. Radiasi jaringan 5G akan memasuki kotak melalui antena dan tembaga yang juga disimpan di dalam kotak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apakah Kamu Terjebak 'Mental Miskin'?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: 10 Soal Bahasa Inggris Kelas 12 SMA Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI