Sindrom Patah Hati Meningkat pada Pasien Tidak Terinfeksi Covid-19, Kenapa?

Rima Sekarani Imamun Nissa | Rosiana Chozanah
Sindrom Patah Hati Meningkat pada Pasien Tidak Terinfeksi Covid-19, Kenapa?
Ilustrasi sindrom patah hati (Shutterstock)

Kasus sindrom patah hati justru meningkat pada pasien non-Covid-19 selama pandemi virus corona.

Suara.com - Sebuah studi yang terbit pada Kamis (9/7/2020) lalu menemukan peningkatan signifikan dalam sindrom patah hati di antara beberapa pasien di dua rumah sakit Ohio yang tidak terinfeksi virus corona. Ini menunjukkan bahwa stres fisik, sosial dan ekonomi dari pandemi juga menyebabkan korban fisik.

Kardiomiopati yang diinduksi stres atau sindrom Takotsubo yang sering disebut "sindrom patah hati", terjadi ketika otot jantung melemah, menyebabkan nyeri dada dan sesak napas. Munculnya seperti serangan jantung, tetapi dipicu oleh peristiwa stres, bukan penyumbatan dalam aliran darah.

Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Clinic Cleveland, Ohio, terhadap pasien di dua rumah sakit dengan gangguan jantung yang dirawat musim semi (Maret hingga Mei) ini, dan membandingkannya dengan pasien dengan masalah serupa selama dua tahun terakhir.

Peneliti menemukan, pasien yang dirawat selama pandemi virus corona dua kali lebih mungkin mengalami sindrom patah hati. Studi ini terbit dalam jurnal medis JAMA Network Open.

"Pandemi telah menciptakan lingkungan paralel yang tidak sehat," kata Dr. Ankur Kalra, ahli jantung yang memimpin penelitian.

Patah hati. (Shutterstock)
Ilustrasi patah hati. (Shutterstock)

"Jarak emosional tidak sehat. Dampak ekonomi tidak sehat. Kami telah melihat bahwa peningkatan kematian non-virus corona terkait kardiomiopati telah naik akibat stres yang diciptakan karena pandemi," sambungnya, dilansir CNN Internasional.

Penelitian ini tidak memeriksa apakah ada hubungan antara sindrom patah hati dan stres karena infeksi Covid-19 atau melihat kerabat yang menderita penyakit tersebut.

Para pasien dalam penelitian ini juga diuji untuk Covid-19 dan tidak satupun dari tes mereka yang menunjukkan hasil positif.

Namun, penelitian ini dinilai memiliki potensi bias oleh ahli sindrom patah hati.

"Mereka mungkin sepenuhnya benar. Saya tidak keberatan dengan hipotesis. Saya keberatan dengan metode statistik," kata Dr. John Horowitz, seorang profesor kardiologi emeritus di University of Adelaide di Australia.

Menurutnya, secara umum sudah diketahui bahwa pasien akan mendapatkan sindrom Takotsubo atau sindrom patah hati pada saat mengalami tekanan ekstrem atau selama mengalami bencana alam.

"Tapi ada masalah dengan cara penelitian ini dirancang. Aku tidak percaya semua kasus ini adalah Takotsubo. Sesederhana itu," tandasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS