Baby Blues dan 2 Gangguan Mental yang Berisiko Dialami Ibu Pascamelahirkan

Sabtu, 01 Agustus 2020 | 15:19 WIB
Baby Blues dan 2 Gangguan Mental yang Berisiko Dialami Ibu Pascamelahirkan
Ilustrasi baby blues, depresi pascamelahirkan. (Shutterstock)

Suara.com - Baby blues selama ini kerap diidentikkan sebagai gangguan mental yang kerap dialami oleh ibu pascamelahirkan.

Penyebabnya, bisa karena stres dan kaget dengan kehadiran bayi yang mengubah hidupnya. Sebagian besar para ibu ini mungkin bingung dan khawatir tidak bisa menjadi ibu yang bertanggung jawab.

Selain baby blues, ada 2 jenis depresi lain yang bisa terjadi pada ibu pascamelahirkan. Yuk, simak penjelasan dari dr. Tatih Meilani, Sp.KJ dalam LIVE IG Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Cirebon, Sabtu (1/8/2020), berikut ini.

1. Baby blues syndrome

Sebanyak 70 hingga 80 persen ibu yang baru melahirkan berisiko mengalami baby blues syndrome, dengan gejala seperti merasa selalu sedih, mudah tersinggung, cemas, dan mudah menangis.

Ini disebabkan karena adanya perubahan hormonal dalam tubuh ibu pascamelahirkan, alhasil perasaan dan moodnya berubah drastis. Tapi, gejala ini tidak bertahan lebih dari 2 minggu, kok.

"Nanti dalam beberapa hari sampai 2 minggu, itu biasanya baby bluse bisa menghilang," ujar dr. Tatih.

2. Depresi Postpartum

Gejala ini satu tingkat lebih parah di atas baby blues. Dikategorikan dalam depresi postpartum karena gejala tidak kunjung usai setelah berlangsung lebih dari 2 minggu. Gejala yang dialami cenderung menetap dan bertahan lama.

Baca Juga: Ibu Muda Gantung Diri karena Baby Blues, Tak Mau Menyusui Bayinya

"Suasana hatinya muram terus, nggak ada minat, nggak ada gairah. Biasanya hobi dandan, nonton, dia nggak ingin, nggak selera, nggak nafsu, tidur pun terganggu. Kadang ribut dengan pasangan karena emosinya yang labil," terangnya.

Depresi postpartum juga ada batasan waktu, paling lama berlangsung selama 6 bulan.

3. Psikosis Postpartum

Ini adalah tingkatan terparah dan terberat yang dialami perempuan yang baru melahirkan. Gejalanya bukan sekedar muram dan tidak ada gairah, tapi lebih aneh dari itu. Bahkan bisa membahayakan nyawa sang anak.

"Ibunya itu sudah ada kepikiran aneh-aneh, misalnya kepikiran terus mau mencekik anaknya, atau bicaranya melantur, kepikirannya aneh-aneh nggak masuk akal," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI