Bantah Hadi Pranoto, IDI: Tidak Mungkin Rapid Test Harga Rp 10 Ribu

M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
Bantah Hadi Pranoto, IDI: Tidak Mungkin Rapid Test Harga Rp 10 Ribu
Petugas medis menunjukkan alat tes cepat (rapid test) COVID-19 buatan dalam negeri di Kantor Kemenko PMK, Jakarta, Kamis (9/7/2020). [ANTARA FOTO]

IDI membantah klaim Hadi Pranoto yang menyebut biaya tes Covid-19 hanya Rp 10-20 ribu.

Suara.com - Selain mengklaim telah menciptakan cairan antibodi Covid-19, Hadi Pranoto juga menyampaikan bahwa ada teknologi yang bisa digunakan untuk tes virus corona yang hanya memakan biaya Rp 10-20 ribu.

Nominal itu tentu lebih murah daripada rapid test yang telah ditetapkan Kemenkes dengan harga maksimalnya Rp 150 ribu.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan bahwa alat tes menjadi lebih murah itu bisa saja terjadi. Tetapi tidak mungkin harga rapid test bisa sangat murah hingga Rp 10 ribu.

"Engga mungkin 10 ribu. Jadi intinya, apakah suatu saat akan makin murah, iya akan makin murah. Sehingga mendekati 10 ribu ya engga lah," kata Ketua Satgas Kewaspadaan dan Kesiagaan Covid-19 IDI Prof. Zubairi Djoerban kepada Suara.com, Minggu (2/8/2020).

Ia mencontohkan, seperti yang terjadi pada tes virus HIV. Awal mula dimunculkan, biaya untuk melakukan tes virus HIV hingga memakan biaya Rp 1,7 juta. Namun sekarang berangsur turun dan lebih murah.

"HIV ada tes antibodi, ada tes virus. Tes virus itu awalnya, kebetulan saya yang menangani, itu dulu Rp 1,7 juta. Lalu makin lama turun, bukannya makin naik. Tapi turunnya juga masih di atas 300 ribu untuk pemeriksaan virus," katanya.

Sebelumnya, Hadi Pranoto yang disebut sebagai profesor ahli mikrobiologi beranggap bahwa pengecekan virus corona bisa hanya memakan biaya antara Rp 10 ribu - Rp 20 ribu.

"Ada swab lebih efektif dengan digital teknologi bisa 10-20 ribu. Bisa terdeteksi dengan digital teknologi. Itu kita bisa dengan hanya ambil air liur saja tak perlu lendir dari hidung atau mulut," kata Hadi dikutip dari siaran YouTube kanal dunia MANJI.

Sayangnya, ia tidak menjelaskan lebih lanjut teknologi yang dimaksudkannya. Selain itu, menurut Hadi, swab tes tidak harus selalu menggunakan lendir yang diambil melalui hidung atau mulut. Sebab tindakan itu bisa menimbulkan rasa sakit terhadap pasien.

"Jadi tidak harus mencolokan ke hitung ambil lendir. Karena dalam tubuh kita, semua gampang ter-detect. Keringat bisa, air liur bisa, jadi tidak perlu ambil lendir di dalam hitung dan dengan harga fantastis," katanya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS