Anak dari Keluarga Berpenghasilan Rendah Berisiko Alami Kesulitan Emosional

Angga Roni Priambodo, Fita Nofiana

Kamis, 17 September 2020 | 09:50 WIB
Anak dari Keluarga Berpenghasilan Rendah Berisiko Alami Kesulitan Emosional
Ilustrasi Remaja Depresi. (Shutterstock)

Suara.com - Kesulitan emosional yang terjadi secara konsisten terjadi pada anak-anak dan remaja dari keluarga berpenghasilan rendah. Kondisi ini terjadi selama masa pandemi.

Laporan terbaru dari penelitian Co-SPACE (COVID-19 Supporting Parents, Adolescents, and Children in Epidemics) menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja dari rumah tangga berpenghasilan rendah menglami kesulitan selama satu bulan lockdown dibandingkan dengan mereka yang berasal dari rumah tangga berpenghasilan tinggi.

Setidaknya anak-anak berpenghasilan rendah berisiko sekitar dua setengah kali lebih banyak mengalami kesulitas emosioal dan kecemasan

Orangtua dan pengasuh berpenghasilan rendah melaporkan bahwa anak-anak mereka yang berusia empat hingga 16 tahun memiliki tingkat kesulitan emosional yang lebih tinggi, seperti merasa tidak bahagia, khawatir, dan mengalami gejala fisik yang berhubungan dengan kekhawatiran. Anak-anak mereka juga lebih gelisah dan lebih sulit fokus. 

Mereka yang memiliki anak usia sekolah dasar juga melaporkan bahwa anak mereka mengalami tingkat kesulitan perilaku yang lebih tinggi, seperti peningkatan amarah suka menentang. 

"Pandemi dan lockdown telah berdampak signifikan pada kesehatan mental anak-anak di seluruh negeri. Setiap keluarga dan pengalaman setiap anak unik bagi mereka, tetapi penelitian menunjukkan adanya peningkatan tekanan yang mengkhawatirkan secara keseluruhan," kata Andy Bell, Wakil Kepala Eksekutif di Pusat Kesehatan Mental. 

"Ada bukti kuat bahwa kemiskinan dan ketidaksetaraan adalah racun bagi kesehatan mental anak-anak. Sayangnya, pandemi telah memperkuat kesenjangan itu," imbuhnya. 

Ilustrasi remaja mengalami kecemasan (Shutterstock)
Ilustrasi remaja mengalami kecemasan (Shutterstock)

Cathy Creswell, Profesor Psikologi Klinis Perkembangan dari Universitas Oxford mengatakan bahwa temuan ini juga menyoroti soal kerentanan dan ketidaksetaraan pada mental anak.

"Kerentanan yang terkait dengan ketidaksetaraan terus berlanjut selama krisis. Sangat penting bagi kami untuk terus membangun pemahaman tentang siapa yang paling terpengaruh dalam situasi ini sehingga tindakan yang efektif bisa diambil. " kata Creswell.

baca juga

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Peneliti Italia: Hanya Ada Kemungkinan Kecil Anak-Anak Menjadi OTG

Peneliti Italia: Hanya Ada Kemungkinan Kecil Anak-Anak Menjadi OTG

Health | Rabu, 16 September 2020 | 17:50 WIB

Studi: Remaja yang Dikucilkan Teman Sebaya Berisiko Kena Penyakit Kronis

Studi: Remaja yang Dikucilkan Teman Sebaya Berisiko Kena Penyakit Kronis

Health | Rabu, 16 September 2020 | 11:54 WIB

Studi Sebut Merokok Terbukti Tingkatkan Masalah Kecemasan

Studi Sebut Merokok Terbukti Tingkatkan Masalah Kecemasan

Health | Selasa, 15 September 2020 | 19:46 WIB

Terkini

Andalkan AI Benahi Desil, Luhut: Orang Tak Bisa Sembunyikan Data Lagi

Andalkan AI Benahi Desil, Luhut: Orang Tak Bisa Sembunyikan Data Lagi

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:40 WIB

322 Orang Ditangkap Buntut Demo 27 Agustus, 48 Jadi Tersangka

322 Orang Ditangkap Buntut Demo 27 Agustus, 48 Jadi Tersangka

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:40 WIB

Pengembangan PLTP Makin Masif, Industri EPC Ikut Kecipratan

Pengembangan PLTP Makin Masif, Industri EPC Ikut Kecipratan

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:36 WIB

66 Orang Sudah Dipecat, Ini Alasan Kepala SPPG Wajib Ada di Dapur Jam 2 Pagi

66 Orang Sudah Dipecat, Ini Alasan Kepala SPPG Wajib Ada di Dapur Jam 2 Pagi

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:36 WIB

Pertamina Siap Pimpin Pengembangan Ekosistem Carbon Capture Storage di Indonesia

Pertamina Siap Pimpin Pengembangan Ekosistem Carbon Capture Storage di Indonesia

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:36 WIB

Ada yang Membayar! Polisi Buru Perekrut Anak-anak dan Pendana Kerusuhan Demo 27 Agustus

Ada yang Membayar! Polisi Buru Perekrut Anak-anak dan Pendana Kerusuhan Demo 27 Agustus

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:35 WIB

BPS Akui Data Desil Masyarakat Belum Siap

BPS Akui Data Desil Masyarakat Belum Siap

Bisnis | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:30 WIB

Polisi Sebut TL Slipi Aman Dilalui Pasca Demo Ricuh, Warga Tak Perlu Ragu Melintas

Polisi Sebut TL Slipi Aman Dilalui Pasca Demo Ricuh, Warga Tak Perlu Ragu Melintas

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:29 WIB

Media Singapura soal Demo 27 Agustus: Prabowo Sedang Berjuang Pulihkan Kepercayaan Publik

Media Singapura soal Demo 27 Agustus: Prabowo Sedang Berjuang Pulihkan Kepercayaan Publik

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:29 WIB

Kisah Sulaiman, Anak Petani dari Flores yang Kini Mengabdi di Sekolah Rakyat

Kisah Sulaiman, Anak Petani dari Flores yang Kini Mengabdi di Sekolah Rakyat

News | Jum'at, 28 Agustus 2026 | 18:25 WIB

×