Anak dari Keluarga Berpenghasilan Rendah Berisiko Alami Kesulitan Emosional

Angga Roni Priambodo | Fita Nofiana
Anak dari Keluarga Berpenghasilan Rendah Berisiko Alami Kesulitan Emosional
Ilustrasi Remaja Depresi. (Shutterstock)

Selama pandemi anak-anak dan remaja dilaporkan mengalami peningkatan masalah emosi dan kecemasan, terutama mereka yang berada di keluarga berpenghasilan rendah.

Suara.com - Kesulitan emosional yang terjadi secara konsisten terjadi pada anak-anak dan remaja dari keluarga berpenghasilan rendah. Kondisi ini terjadi selama masa pandemi.

Laporan terbaru dari penelitian Co-SPACE (COVID-19 Supporting Parents, Adolescents, and Children in Epidemics) menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja dari rumah tangga berpenghasilan rendah menglami kesulitan selama satu bulan lockdown dibandingkan dengan mereka yang berasal dari rumah tangga berpenghasilan tinggi.

Setidaknya anak-anak berpenghasilan rendah berisiko sekitar dua setengah kali lebih banyak mengalami kesulitas emosioal dan kecemasan

Orangtua dan pengasuh berpenghasilan rendah melaporkan bahwa anak-anak mereka yang berusia empat hingga 16 tahun memiliki tingkat kesulitan emosional yang lebih tinggi, seperti merasa tidak bahagia, khawatir, dan mengalami gejala fisik yang berhubungan dengan kekhawatiran. Anak-anak mereka juga lebih gelisah dan lebih sulit fokus. 

Mereka yang memiliki anak usia sekolah dasar juga melaporkan bahwa anak mereka mengalami tingkat kesulitan perilaku yang lebih tinggi, seperti peningkatan amarah suka menentang. 

"Pandemi dan lockdown telah berdampak signifikan pada kesehatan mental anak-anak di seluruh negeri. Setiap keluarga dan pengalaman setiap anak unik bagi mereka, tetapi penelitian menunjukkan adanya peningkatan tekanan yang mengkhawatirkan secara keseluruhan," kata Andy Bell, Wakil Kepala Eksekutif di Pusat Kesehatan Mental. 

"Ada bukti kuat bahwa kemiskinan dan ketidaksetaraan adalah racun bagi kesehatan mental anak-anak. Sayangnya, pandemi telah memperkuat kesenjangan itu," imbuhnya. 

Ilustrasi remaja mengalami kecemasan (Shutterstock)
Ilustrasi remaja mengalami kecemasan (Shutterstock)

Cathy Creswell, Profesor Psikologi Klinis Perkembangan dari Universitas Oxford mengatakan bahwa temuan ini juga menyoroti soal kerentanan dan ketidaksetaraan pada mental anak.

"Kerentanan yang terkait dengan ketidaksetaraan terus berlanjut selama krisis. Sangat penting bagi kami untuk terus membangun pemahaman tentang siapa yang paling terpengaruh dalam situasi ini sehingga tindakan yang efektif bisa diambil. " kata Creswell.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS