Studi Sebut Merokok Terbukti Tingkatkan Masalah Kecemasan

Risna Halidi | Suara.com

Selasa, 15 September 2020 | 19:46 WIB
Studi Sebut Merokok Terbukti Tingkatkan Masalah Kecemasan
Ilustrasi rokok.

Suara.com - Untuk kesekian kalinya, anjuran berhenti merokok mungkin sebaiknya mulai Anda pertimbangkan. Pasalnya, sebuah penelitian mengungkapkan bagaimana rokok dapat membuat orang lebih rentan terkena fobia dan jenis ketakutan kronis lainnya seperti gangguan stres pascatrauma atau PTSD.

Para peneliti telah menemukan bukti bahwa asap rokok dapat mengganggu kemampuan otak menekan kenangan yang berhubungan dengan rasa takut. Pada akhirnya, kondisi tersebut rentan membuat perokok kurang mampu mengatasi rasa takut dan cemas setelah mengalami peristiwa traumatis.

Ini bisa berdampak serius bagi orang-orang dalam pekerjaan di mana mereka paling berisiko menderita PTSD, seperti anggota angkatan bersenjata. Dalam sebuah survei dikatakan, sekitar 33 persen tentara diyakini merupakan seorang perokok.

Para peneliti di balik penelitian ini percaya bahwa bahan kimia dalam tembakau dapat mengganggu pesan antara neuron di otak yang juga dikenal sebagai neurotransmitter yang terlibat dalam mengendalikan rasa takut.

Peneliti utama Dr Jan Haaker dari University Medical Center di Hamburg, Jerman mengatakan bahwa intervensi larangan rokok terhadap  pasien PTSD dapat membantu pemulihan mereka lebih baik.

Haaker menambahkan bahwa intervensi awal untuk menghentikan kebiasaan merokok pada orang-orang yang berisiko  seperti tentara yang sedang bertempur, petugas pemadam kebakaran dan polisi,  mungkin juga dapat mengurangi risiko timbulnya gangguan kecemasan.

Dikutip Suara.com dari Zeenews, tim peneliti menguji tanggapan ketakutan pada 376 sukarelawan yang sehat, seperlima dari mereka adalah perokok biasa.

Peneliti lalu meminta peserta untuk menilai stres, ketakutan dan ketegangan mereka selama tes berlangsung. Mereka menemukan bahwa perokok cenderung memiliki respons ketakutan yang lebih besar terhadap simbol setelah mereka diajari untuk menghubungkannya dengan sengatan listrik daripada orang yang bukan perokok.

Dan semakin banyak merokok, maka semakin sedikit kemampuan mereka untuk menghambat rasa takut. Hasilnya menunjukkan bahwa merokok mengganggu ingatan terkait rasa takut, terutama bila tidak ada bahaya.

Hasilnya menunjukkan bahwa semakin lama orang merokok, semakin tinggi defisit dalam menghambat respons ketakutan. Para periset mencatat bahwa merokok mengubah keseimbangan neurotransmitter di otak, yang diperlukan untuk proses belajar yang baik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Merokok Cuma Saat Nongkrong, Risiko Kanker Paru-paru Tetap Tinggi

Merokok Cuma Saat Nongkrong, Risiko Kanker Paru-paru Tetap Tinggi

Health | Selasa, 15 September 2020 | 17:14 WIB

Bayi Lahir dari Ibu Depresi Alami Peningkatan Denyut Jantung, Apa Efeknya?

Bayi Lahir dari Ibu Depresi Alami Peningkatan Denyut Jantung, Apa Efeknya?

Health | Selasa, 15 September 2020 | 11:13 WIB

Peneliti AS: Kecemasan akibat Covid-19 Tak Bisa Diatasi dengan Olahraga

Peneliti AS: Kecemasan akibat Covid-19 Tak Bisa Diatasi dengan Olahraga

Health | Senin, 14 September 2020 | 15:31 WIB

Terkini

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Ini Bahaya Tersembunyi Ikan Sapu-Sapu yang Mengancam Ekosistem Jakarta

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 21:10 WIB

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Apakah Ikan Sapu-Sapu Bisa Dimakan? Ini Bahaya untuk Manusia dan Ekosistem

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 18:54 WIB

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Varises Bukan Sekadar Masalah Estetika, Kenali Sinyal Bahaya Sebelum Jadi Komplikasi Serius

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 14:42 WIB

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai

Health | Jum'at, 17 April 2026 | 12:31 WIB

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Perempuan Berlari 2026: Integrasi Olahraga, Kesehatan Mental, dan Literasi Keuangan

Health | Kamis, 16 April 2026 | 16:45 WIB

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Bukan Sekadar Sekolah, Anak Neurodivergent Butuh Dukungan Menyeluruh untuk Tumbuh

Health | Rabu, 15 April 2026 | 19:14 WIB

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Awas Logam Berat! Ini 7 Deretan Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi Ikan Sapu-Sapu

Health | Rabu, 15 April 2026 | 15:33 WIB

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Waspada Gejala Awal Serangan Jantung Sering Dikira Diare Biasa

Health | Selasa, 14 April 2026 | 09:26 WIB

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Saat Screen Time Tak Bisa Dihindari, Ini Rekomendasi Tontonan Anak yang Aman dan Edukatif

Health | Selasa, 14 April 2026 | 08:37 WIB

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Air Jernih Belum Tentu Aman: Inilah 'Musuh Tak Terlihat' yang Memicu Stunting pada Anak

Health | Senin, 13 April 2026 | 06:15 WIB